Musuh China Terus Bertambah, Jerman Umumkan Bantu Australia Lawan Negeri Tirai Bambu di Indo-Pasific

Setelah berhadapan dengan Amerika Serikat (AS), Filipina, Australia, Jepang, dan India, kini China kedatangan musuh baru.

Editor: Alfred Dama
via Anadolu Agency dan Sosok.Grid.ID
Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) memulai latihan putaran ketiga di Laut China Selatan, menteri luar negeri Taiwan mengkhawatirkan konflik lintas-Selat Taiwan. 

“Mengingat tantangan keamanan yang meningkat di kawasan Indo-Pasifik, adalah tujuan saya untuk mengintensifkan kolaborasi bilateral dan multilateral kita."

"Itu bisa termasuk, misalnya, pengangkatan perwira Jerman di unit Angkatan Laut Australia."

"Itu adalah sebuah proyek yang sedang dinegosiasikan saat kita berbicara."

Lebih lanjut, Kramp-Karrenbauer dijadwalkan akan bertemu secara virtual dengan  Linda Reynolds, Menteri Pertahanan Australia demi membahas 'Kebijakan Strategis Australia'

Perlu Anda tahu, wilayah Indo-Pasifik meliputi China dan Australia, serta India dan Jepang.

Namun, Kramp-Karrenbauer tidak merinci apakah pasukan Jerman akan dikerahkan di Laut China Selatan untuk melakukan operasi kebebasan navigasi.

Latihan militer semacam itu telah dilakukan di Laut China Selatan oleh AS sebelumnya, dan dapat digunakan sebagai tantangan terhadap klaim maritim yang berlebihan.

Ahli urusan internasional Eleanor Freund telah menyatakan: “Operasi Kebebasan Navigasi adalah operasi angkatan laut dan udara AS yang memperkuat hak dan kebebasan yang diakui secara internasional dengan menantang klaim maritim yang berlebihan."

"Detail setiap operasi ditentukan oleh klaim maritim berlebihan yang diprotes."

Dalam satu kasus, kapal perusak Angkatan Laut AS lewat dalam jarak 12 mil dari Kepulauan Spratly yang diperebutkan tanpa meminta izin sebelumnya dari negara-negara yang mengklaim wilayah tersebut.

Terlepas dari itu, Jerman berharap untuk mengerahkan kehadiran angkatan laut di kawasan Indo-Pasifik tahun depan.

Kramp-Karrenbauer juga meminta Barat untuk "bersatu" dalam pendekatannya ke Beijing terlepas dari hasil pemilu AS minggu ini.

Sebab, Donald Trump diketahui bermusuhan dengan China. Namun jika Joe Biden terpilih, bukan berarti dua negara itu tak bisa berteman.

Sejatinya Jerman selama ini memerhatikan keadaan.

Sebelumnya pada akhir September, dilaporkan bahwa undang-undang keamanan siber baru akan mempersulit perusahaan telekomunikasi China, Huawei, untuk terlibat dalam jaringan 5G Jerman.

Halaman
1234
Sumber: Grid.ID
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved