Rabu, 10 Juni 2026

Opini Pos Kupang

Kerumunan Massa: Permainan atau Perjuangan Keadilan

Aksi ribuan mahasiswa dan para buruh melakukan demonstrasi menolak Omnibus Law UU Cipta Kerja berakhir dengan rusuh di Malang, Jawa Timur

Tayang:
Editor: Kanis Jehola
Dok POS-KUPANG.COM
Logo Pos Kupang 

Aksi ribuan mahasiswa dan para buruh melakukan demonstrasi menolak Omnibus Law UU Cipta Kerja berakhir dengan rusuh di Malang, Jawa Timur

Oleh : Eugen Sardono Pascasarjana "Filsafat" di STF Widya Sasana, Malang.

POS-KUPANG.COM - "Die spas-generation hat sich müde gespielt", generasi suka-suka sudah capek bermain. Itulah tulisan yang dislogankan media cetak Zeit, 29 November 1996. Main-main terus, hidup berbengkok-bengkok rupanya meletihkan juga, membuat orang jenuh. Dalam permainan dibutuhkan kesamaan tujuan dan cita-cita.

Indonesia terkenal dengan slogan "manusia sosial" (untuk membedakan individualisme Eropa). Sosialitas itu pun melekat dalam diri manusia Indonesia, sampai-sampai terbawa ke ranah politik.

Baca juga: UPTD Pendapatan Sumba timur Sosialisasi Tax Amnesty

Dalam mengeritik Omnibus Law, mahasiswa dan kaum buruh menghancurkan banyak fasilitas milik negara maupun pribadi. Massa mungkin tahu mereka sedang menghancurkan, tetapi substansi dari tindakan mereka masih belum jelas, sampai dibuktikan kebalikannya.

Mereka menciptakan kerumunan, layaknya seperti permainan. Aksi ribuan mahasiswa dan para buruh melakukan demonstrasi menolak omnibus law UU cipta kerja berakhir dengan rusuh di Malang, Jawa Timur.

Dalam harian Kompas, 09/10/2020), ada yang buruk datang dari Palembang, demonstrasi para buru memilukan, dua pelaku membakar mobil polisi yang parkir depan gedung DPRD Provinsi Sumatera Selatan.

Baca juga: Ikuti Kuis Virtual Competition Cerdas Keuangan, Total Hadiah Rp 30 Juta

Dari media yang sama, sebanyak 70 orang diduga penyusup diamankan Polrestabes Palembang, saat aksi demo penolakan omnibus law UU Cipta Kerja yang berlangsung di Jalan Pom VIIII, tepatnya di depan gadung DPRD Provinsi Sumatera Selatan (Kompas, 7/10/2020). Motivasi luhurnya memang baik, perjuangan hak sebagai warga negara.

Sistem ekonomi-politik yang bersifat konektif, maka yang terjadi adalah sedikit orang memiliki banyak (konglomerat dan pemilik modal) dan banyak orang memiliki sedikit (orang-orang kecil). Akan tetapi, masyarakat juga diminta kewajiban menaati konstitusi. Tesis utama tulisan ini adalah: apakah kerumunan massa aksi demonstrasi sebagai perjuangan keadilan atau sekadar permainan?

Bahaya Kerumunan

Ketika satu orang mengatakan, "serang!" Semua yang lain ikut bersuara, "serang!" Pernyataan itu dikeluarkan tanpa pertimbangan matang dan tahu, apa nilai atau disposisi kebenaran dari sebuah pernyataan. Efek lanjutnya, berapa banyak anggaran dikeluarkan untuk membangun gedung yang sudah dirusakkan dan sarana yang dibakar oleh massa.

Menurut Kierkegaard, manusia adalah sintesis antara "yang mewaktu" dan "yang abadi". Karena manusia mewaktu, maka ia bersosialisasi. Hanya dalam praktik terkadang jatuh ke dalam primordialisme kelompok.

Selain melepaskan diri dari segala bentuk kepalsuan, perjuangan untuk menghidupi eksistensi yang autentik juga menuntut usaha untuk keluar dari kerumunan (crowd) atau publik (the public).

Kalau kita ikut demonstrasi, yang biasa kita temui adalah kerumunan atau massa, sekelompok orang yang karena berbagai alasan berkumpul di suatu tempat. Pada saat itu, individu-individu tidak dikenal sebagai pribadi satu demi satu, melainkan sebagai kelompok.

Identitas pribadi hilang karena larut dalam kelompok. Kalau orang berteriak,
"bakar!" atau "serang! Sangat mungkin orang-orang yang punya kehendak
baik sekalipun akan mengikuti kehendak massa.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved