Opini Pos Kupang

Politisi Tulen

Banyak orang tercengang. "Masa sih terhadap lawan politik, Jokowi malah memberikan penghargaan

Editor: Kanis Jehola
Dok
Logo Pos Kupang 

Oleh : Robert Bala, Diploma Resolusi Konflik Asia Pasifik, Facultad Ilmu Politik Universidad Complutense de Madrid Spanyol

POS-KUPANG.COM - Banyak orang tercengang. "Masa sih terhadap lawan politik, Jokowi malah memberikan penghargaan?". Masyarakat masih ingat siapa itu Fadli Zon dan siapa itu Fahri Hamzah. Kritiknya terlampau pedas. Hampir tidak ada sedikit pun kebaikan dari Jokowi. Tetapi Jokowi berbalik. Kedua tokoh kontroversial itu diberi tanda jasa bertepatan dengan HUT Proklamasi RI 2020.

Kisah ini hanyalah sebuah konfirmasi. Sesudah proses pilpres yang melelahkan dengan klaim sebagai pemenang, Jokowi malah balik merangkul. Dua orang figur Gerindra termasuk Ketua umumnya Prabowo diangkat jadi Menteri. Dunia terhentak dengan langkah Jokowi.

Cegah Corona, Wakil Ketua DPRD Sikka Dukung TNI/Polri dan Pol PP Tegakkan Protokol Kesehatan

Dua contoh ini sudah cukup unutk menafsir kebijaksanaan yang tengah dipertontonkan Jokowi. Yang diperlihatkan bukan seperti yang dibuat politisi pada umumnya: menghempaskan lawan. Ia malah merangkul dan memberi ruang. Ruang yang diberi pun bukan sembarangan.

Ini yang barangkali disebut sebagai politisi tulen. Hal itu berbeda dengan `politisi' pada umumnya. Politisi seperti itu gemar dengan iri hati dan dendam. Mereka malah senang kalau lawan susah dan susah kalau lawan senang.

Jokowi melakukan yang sebaliknya hal mana ia pantas dikategorikan sebagai politisi tulen. Hanya demi kesejahteraan umum, ia merangkaul lawan, memberinya tempat terhormat. Ia tahu di balik perbedaan ide dan tidak sedikitnya penuh ironi yang merendahkan, tetapi ia masih sanggup melihat bobot yang disembunyikan sebagai kekuatan mereka. Ia lalu merangkul dan memberi mereka ruang setelah sebuah perhelatan melelahkan seperti pemilu terjadi.

Peduli Masyarakat, TNI Kodim 1601 Sumba Timur Salurkan Sembako

Bahwa Jokowi bisa seperti itu tentu bukan sebuah kebetulan. Ia tersaring dari bawah melihat kesaksian kecil yang dilakukan di sebuah kota kecil, Solo. Penulis seperti banyak orang yang awam dalam politik tidak mengetahuinya. Yang penulis buat saat Kongres 2010 di Sanur Bali saat dipercayakan sebagai narasumber adalah usulan agar mengorbitkan pemimpin lokal berkualitas.

Inilah tema yang disodorkan kepada penulis. Sebagai narasumber, di hadapan banyak petinggi negeri ini, penulis mengambil contoh Amerika Latin. Tavare Vasquez di Uruguay, Lula di Brasil, sekadar menyebut dua contoh. Ternyata hal itu didengarkan dan terlahirlah Jokowi yang hari ini kita kagumi sebagai politisi tulen.

Gagal Paham

Apakah contoh menarik yang lagi dipertontonkan di level nasional khususnya melalui `perilaku' Jokowi, merembes juga ke politik lokal di NTT?

Tanya melupakan politisi tulen yang juga berusaha lahir dari bawah dan konsisten dalam berpolitik, harus diakui, cipratan itu masih jauh dari harapan. Membaca postingan media sosial, dengan segera kita simpulkan betapa rendahnya kita dalam menanggapi sebuah isu secara matang dan dewasa.

Jelasnya, dengan mudah terlihat dominasinya apa yang disebut gagal paham. Ungkapan ini sedikit terkejut lahir dari seorang petinju dan promotor tinju nasional, Wilem Lojor.

Lojor yang kepalanya berulang kali tersondok kepalan tinju meyakini, banyak orang yang mengklaim diri politisi bahkan pernah mencalonkan dirinya untuk jabatan legislatif malah eksekutif tetapi sesungguhnya didominasi oleh kegagalan untuk memahami sebuah wacana.

Yang kita sayangkan, fenomena gagal paham ini bahkan dilakukan secara berjemaah. Ada pertemanan karena intensi politik yang mendukung kandidat tertentu lalu diarahkan agar secara bergerombolan saling menyerang kubu lainnya.

Di sana sudah dipastikan bahwa akal sehat tidak berjalan. Yang dikejar adalah sejauh mana mencelah lawan secara terbuka dan kalau perlu mencampakkan lawan ke jurang yang dalam.

Meskinya kesadaran akan hal ini tidak perlu diingatkan dari luar apalagi nasihat itu harus diarahkan kepada politisi yang sudah bukan muda lagi. Politisi yang pernah gagal (dan mungkin juga ke depannya masih gagal) mestinya belajar dari pengalaman.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved