Opini Pos Kupang

Politisi Tulen

Banyak orang tercengang. "Masa sih terhadap lawan politik, Jokowi malah memberikan penghargaan

Editor: Kanis Jehola
Dok
Logo Pos Kupang 

Mereka sebenarnya sadar akan kata-kata dari Lev Vygostsky tentang upaya membangun pengetahuan. Baginya, pengetahuan dibangun melalui interaksi sosial, interaksi sosial dapat terjalin pada dua orang atau lebih.

Artinya, pembuktikan akan pemilihan yang pernah dilewati dengan dulangan suara yang nyaris ada, mestinya mereka paham bahwa di situ interaksi sosial yang mereka gagas gagal (total).

Tetapi itu tidak berarti tidak ada peluang lagi. Peluang hanya bisa terjadi ketika politisi itu keluar dari kebisingan media sosial dan kesenangan mengombal cap negatif dan secara diam menghadirkan karya nyata meski sekecil apapun.

Sayangnya, hal seperti ini masih terlalu jauh untuk dipahami. Begitu mudahnya terprovokasi hal mana menunjukkan rendahnya kualitas berpolitik dan jauhnya mereka dari kategori politisi tulen. Mereka malah merancang lubang yang akan melaluinya mereka terjerumus.

Narasi Aksi

Tidak ada tawaran lebih positif selain narasi aksi. Hal itu dimaksud mewarnai waktu yang Panjang dengan aksi yang meski sekecil apapun tetapi dilakukan dalam bingkai kejujuran dan ketulusan.

Beberapa politisi lokal melakukan hal yang sangat sederhana. Mereka berkeliling dari kampung ke kampung menawarkan kebisaannya dalam mengiringi koor di stasi. Sebuah dedikasi yang dilakukan demi pelayanan. Namun hal itu menjadi kredit poin.

Selain itu mereka irit komentar apalagi melacurkan mulutnya dengan kata-kata pedas nyaris terpikir logikanya.

Aksi sederhana di kampung sendiri bisa menjadi contoh. Membaca peta perpolitikan di mana begitu banyak orang yang ingin maju, maka suara yang didapatkan sangat minim. Memperoleh seratusan apalagi seribu suara sudah disyukuri. Malah banyak yang lolos dengan suara hanya `segitu'.

Hal ini menyadarkan bahwa hal kecil yang bisa dilakukan di kampung sendiri menjadi modal awal. Ketika tiba saatnya, modal awal itu bisa menjadi umpan dan akan dilengkapi di `kampung' lain.

Malah hal kecil itu dari waktu ke waktu akan menjadi cerita. Sebuah cerita hanya bisa menjadi buah bibir karena didasarkan pada aksi nyata yang meski kecil tetapi mengundang kekaguman.

Narasi atas aksi kecil ini yang mengena dan bukan umbalan akan rencana besar yang akan dibuat. Lebih lagi masyarakat sederhana kurang mengerti (gagal paham) ketika dikisahkan beberan tentang MOU yang pernha ditandatangani di luar sana. Bagi mereka bahkan hal itu hanya menjadi candaan.

Disayangkan bahwa level masyarakat hanya seperti itu dan tidak paham akan `big picture', rencana `wuah' yang akan dilakukan. Tetapi mereka tidak bisa dipersalahakan oleh minimnya pemahaman. Yang disayangkan bahwa politisi yang terlalu tinggi konsep dan tidak membumi dalam program.

Ini mestinya jadi cambuk bagi politisi yang ingin kembali ke kampung halaman jadi pemimpin. Mereka perlu merancang narasi aksi kecil yang jadi sumber cerita dan jadi omongan dari mulut ke mulut.

Bila itu dibuat maka sudah dipastikan, ketika tiba saatnya, rakyat akan mudah mendepositokan kepercayaannya pada calon dimaksud.

Sebaliknya kita hanya bisa kembali akan menepuk dada ketika saatnya tiba nanti. Di sana kita kembali sadar bahwa kita bukan politisi tulen seperti Jokowi. Kita hanya sebatas itu saja. (*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved