Opini Pos Kupang
Politik Pasca-Kebenaran
Pelaksanaan Pilkada Serentak di 270 daerah sudah pasti tetap dilaksanakan pada 9 Desember 2020
Ramalan Orwell baru terjadi secara sempurna pada tahun 2016 dalam pemilihan Trump sebagai presiden ke-45 USA. Berbagai ulasan menyebutkan, Trump bukanlah seorang kandidat yang simpatik. Polling pendapat memperlihatkan, masyarakat Amerika sadar akan kecacatan karakternya.
Namun, Trump berhasil mengkomunikasikan ssentimen yang brutal, yang berakar bukan pada statistik, data empiris, atau informasi yang cermat, tapi pada bakat kemarahan yang tak terhalangi dan atribusi sentimen.
Kita di Indonesia tak jauh dari itu. Perhelatan-perhelatan politik kita seringkali kental dengan penyebaran isu-isu yang membakar sentimen di dalamnya hoaks dipakai secara sempurna.
Barangkali bukan nada marah Trump, melainkan isu-isu agama dan kesantunanlah yang paling banyak menjadi iklan politik kita. Tapi karakternya tetap sama: bukan fakta, data, informasi akurat yang berlaku, tapi sentimen-sentimen.
Tantangan Nalar
Di antara segala mitos buruk yang merasuk kita sekarang ialah anggapan ada jurang pemisah antara seorang intelektual/elit terdidik dengan masyarakat biasa di dunia real. Anggapan itu menjadi argumentum ad nauseam (opini yang diulang-ulang) atas nama hak-hak publik.
Alhasil, publik berasumsi, perkataan seorang intelektual tidak sesuai dengan kepentingan mayoritas, atau dia mempromosikan ide-ide yang tidak relevan bagi masyarakat. Muncul ketidakpercayaaan terhadap sains, pendapat para ahli atau ucapan para akademisi.
Politisi-politisi dan para pendukungnya sering mengulang-ulang mitos buruk ini sehingga cenderung mempertahankan ilusi walaupun para pakar sudah membuktikan secara akurat bahwa perkataan mereka tidak berbasis fakta dan data. Timbul gejala umum, suatu trend dalam politik, bahwa kekuatan ide dan teori diklaim tak dibutuhkan untuk mengubah masyarakat.
"Ketidakpercayaan publik" baik terhadap para politisi maupun intelektual disebabkan paradoks antara kehidupan intelektual dan dunia aksi, antara propaganda politik dengan implementasinya di lapangan. Krisis kepercayaan publik adalah salah satu akar sosial pasca-kebenaran.
Hal ini relevan dalam diskursus politik pasca-kebenaran di Indonesia. Kebohongan-kebohongan para politisi dan matinya kepakaran para ahli atau intelektual di bawah kepentingan politik praktis mudah menggiring publik pada krisis kepercayaan. Jika hari ini publik tidak percaya pada keterangan pemerintah, ucapan politisi atau perkataan para profesional di istana, semua ini tidak terlepas dari transaksi busuk kepentingan, pasar gelap keadilan dan fakta-fakta buram politik dan kekuasaan lainnya.
Ketidakpercayaan publik akan terus menguat selama pemerintah, para juru bicara lembaga-lembaga negara, politisi, penegak hukum, para profesional dan intelektual tidak berkata jujur. Tak ada gunanya mereka mengoceh panjang lebar, membuat statistik, memamerkan power point, menyewa influencer, kalau tidak berbicara dengan kejujuran.
Kejujuran adalah senjata melawan pasca-kebenaran. Mengembalikan public trust berarti menaikkan oktaf kejujuran para pemangku kekuasaan, lembaga-lembaga negara atau para penegak hukum.
Mencegah ketidakpercayaan publik dilakukan pertama-tama dengan mencegah watak busuk dan bohong para penegak keadilan. Selama itu tidak dilakukan, publik akan terus hidup dalam fenomena pasca-kebenaran, dalam rasa tidak percaya yang semakin meningkat, biarpun pemerintah membayar influencer atau buzzer untuk mengguyur publik dengan berbagai macam opini.
Akhirnya, pasca-kebenaran adalah tantangan nalar, suatu bentuk anti-intelektualisme. Sebagai anti-intelektualisme, pasca-kebenaran ditandai penolakan terhadap standar-standar tertentu, kebencian terhadap kehidupan berpikir, penolakan terhadap refleksi atas nilai-nilai, kemalasan intelektual memikirkan sebuah isu secara kritis, relativisme nilai yang merusak, pembusukan nalar oleh sentimen, dan sikap mudah percaya pada hoaks.
Politik pasca-kebenaran tentu saja muncul sebagai fenomena yang menggelisahkan. Tetapi ini bukan titik akhir demokrasi. Maka, pasca-kebenaran harus dilawan. Caranya, kembalikan kepercayaan kepada nalar, fakta dan kebenaran. *
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/ketimpangan-pendapatan-patologi-inheren-perekonomian.jpg)