Selasa, 14 April 2026

Tiga Anak NTT Curhat ke Jokowi

Tiga anak NTT mengadu ke Presiden Joko Widodo dan Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat

Editor: Kanis Jehola
pos kupang
Virtual TalkshoW tentang Tantangan Kehidupan Normal Baru Anak NTT di Situasi Pendemi Covid-19 diselenggarakan Wahana Visi Indonesia atau WVI NTT bersama Harian Pos Kupang, Kamis (23/7/2020) siang. 

POS-KUPANG.COM | KUPANG -Tiga anak NTT mengadu ke Presiden Joko Widodo dan Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat. Yefron dari Kabupaten Manggarai Timur, Ivon dari Ende dan Ayu dari Kupang curhat mengenai kondisi yang mereka alami di sekolah dan rumah selama pandemi Covid-19.

Yefron mengaku mendapat tindak kekerasan verbal dari oknum guru di sekolahnya.
Ia membacakan surat terbuka kepada Presiden Jokowi dan Gubernur Viktor dalam Virtual Talkshow bertajuk Tantangan Kehidupan Normal Baru Anak NTT di Situasi Pendemi Covid-19, Kamis (23/7/2020).

Acara ini diselenggarakan Wahana Visi Indonesia (WVI) NTT bekerja sama dengan Pos Kupang. Virtual talkshow dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional tahun 2020.

ETIKA Rutin Agendakan Webinar, Begini Tujuannya

Dalam suratnya, remaja berusia 14 tahun ini menyampaikan apa yang dialami anak-anak NTT pada umumnya. "Saya datang dihadapan bapak untuk meneruskan jeritan dan kerinduan hati yang sudah menggerogotiku selama ini. Saya membahas dua hal disini pak. Pertama tentang apa yang saya dan teman alami. Kedua kerinduan dari anak desa untuk masa depan Indonesia yang maju," kata Yefron.

Yefron mengaku masih ada kekerasan verbal yang dilakukan oknum guru di sekolah terhadap anak didik. "Sering terjadi mendapatkan kekerasan verbal dengaan acuh tak acuh, kasar dan saya termasuk korbannya," ujarnya.

Ngobrol Asyik Bareng Public Relation Hotel: Harus Dinamis dan Fleksibel

Menurut Yefron sekolah yang seharusnya menjadi tempat pembentukan karakter siswa dan juga meningkatkan intelektual siswa namun tak berjalan sebagaimana mestinya.

"Kami sering diperlakukan kasar secara verbal, yang membuat kami merasa tertekan dan itu saya alami sendiri. Guru mempunyai tanggungjawab dalam mendidik siswa agar memunyai sifat dan tingkah laku baik, entah itu berada dalam lingkungan sekolah atau pun masyarakat. Namun sebaliknya, oknum guru yang aaya hadapi berbeda yaitu guru yang otoriter, pembuli, penjajah dan orang tua tiri. Hal ini mengakibatkan saya takut untuk bermimpi, saya kurang percya diri juga ingin rasanya tidak bersekolah lagi. Bapak Gubernur yang saya hormati apakah saya harus atau pantas mendapatkan semua ini. Pantaskah saya untuk meruntuhkan semua mimpi saya?" papar Yefron.

Ia berharap kondisi seperti itu tidak terjadi lagi dan penegakan hukum yang adil bisa berlaku untuk kondisi itu. "Saya anak bangsa yang sangat merindukan pendidikan yang adil nan bijaksana. Saya anak bangsa yang pantas dilindungi oleh semua termasuk Pemerintah," katanya.

Yefron meminta Gubernur Viktor mengaktifkan kembali lembaga perlindungan anak di setiap kebupaten sehingga bisa menekan angka kekerasan terhadap anak. Ia juga meminta ada taman baca yang memadai di setiap daerah.

Yefron berharap Gubernur Viktor bisa mendengarkan keluhan dan mengabulkan keinginan mereka itu.

"Pak Gubernur yang saya kagumin, sekian dulu ulasan hati saya. Saya mohon pamit dari hadapan bapak. Saya tunggu surat balasannya," ucap Yefron.

Ayu dari Kupang dan Ivon dari Ende juga membacakan surat terbuka untuk Presiden Jokowi. Surat Yefron, Ivon dan Ayu kemudian diserahkan kepada WVI dan diteruskan kepada Wakil Ketua DPRD Provinsi NTT, Dr Ince Sayuna yang juga hadir dalam virtual talkshow, untuk selanjutnya disampaikan kepada Gubernur NTT dan Presiden Jokowi.

Virtual talkshow menampilkan sejumlah pembicara, di antaranya Eben Ezer Sembiring dari WVI NTT, Ketua Perkumpulan Tuna Daksa Kristiani (Persani) NTT Desderdea Kanni, Ketua Aliansi PKTA Provinsi NTT Benyamin Leu dan Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) NTT Veronika Ata.

Ketua Persani NTT Desderdea Kanni menyampaikan kesulitan yang dihadapi penyandang disabilitas untuk mengakses pendidikan dan kesehatan di masa pandemi Cobid-19.

Menurutnya, kondisi fisik dan psikis penyandang disabilitas semakin tak membaik. "Dulu hanya hambatan intelektual sedikit, ditambah covid akhirnya pikiran lebih strees, semakin ditekan, apalagi kondisi ekonomi menurun," kata Desderdea.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved