Breaking News:

Opini Pos Kupang

Polemik Kaum Feminisme dalam ranah Publik

Kiprah kaum feminisme dalam ranah publik di Indonesia "Vita est militia" (Hidup adalah sebuah perjuangan) itulah adegium klasik dari bahasa Latin

Polemik Kaum Feminisme dalam ranah Publik
Dok
Logo Pos Kupang

Oleh: Frid Dare, Mahasiswa STFK Ledalero

POS-KUPANG.COM - Kiprah kaum feminisme dalam ranah publik di Indonesia "Vita est militia" (Hidup adalah sebuah perjuangan) itulah adegium klasik dari bahasa Latin yang mau menyadarkan diri manusia akan eksistensinya dengan mengenakan identitasnya sebagai makhluk pekerja (homo Faber). Polemik lahirnya emansipasi di Indonesia tentunya, bukanlah sebuah perjuangan yang mudah seperti ibarat kita membalikan telapak tangan.

Hal inilah yang diperjuangkan oleh tokoh pejuang proklamasi Kemerdekaan bangsa Indonesia, sejak awal kemerdekaan bangsa Indonesia. Oleh karena itu tentu, masih hangat dibenak kita, seorang tokoh wanita yang terkenal dengan gigih, tangguh dan ulet ikut memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia.

ASN Eks Napi Korupsi

Raden Ajeng Kartini pahlawan kemerdekaan bangsa Indonesia dan tumbuhnya emansipasi wanita di Indonesia. Raden Ajeng Kartini, merupakan sosok pejuang wanita yang mencoba memperjuangkan hak dan nasib kaum bangsanya untuk mendapat pendidikan sehingga kaum bangsanya dapat memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang kemudian dapat membantu kaum perempuan untuk berkiprah di segala bidang. Baik itu dalam bidang politik, sosial dan budaya, ekonomi dan agama guna membongkar kedok budaya patriarki dan raibnya kesetaraan gender yang cukup kuat di awal abad ke -20.

Seiring dengan perkembangan waktu, usahanya untuk membela kaum bangsanya ini pun memetik hasilnya, dengan meretasnya kesetaraan gender (gender equality) yang awalnya menjadi distingsi gender di mana perempuan menempati kelas kedua dari laki-laki kini menjadi raib di zaman ini dengan meretasnya kesetaraan gender.

UPDATE Corona di Manggarai: 2 ODP & 3 OTG Masih Dipantau

Dengan demikian, distingsi gender tidak menjadi polemik bagi perempuan untuk tampil dalam ranah publik. Namun seiring dengan perkembangan waktu rupanya kaum perempuan yang tampil dalam ranah publik masih menimbulkan polemik sehingga menyebabkan wacana publik yang dominan dalam setiap diskursus di Indonesia pada dekade abad ke-21.

Wacana ini dapat disimak dari banyaknya diskursus-diskursus tentang pentingnya partisipasi wanita dalam pembangunan sosial, budaya, ekonomi, agama dan salah satunya adalah sistem politik.

Dalam dunia politik, gema kesetaraan gender tampak jelas dalam dua hal, pertama untuk pertama kalinya figure perempuan tampil di ranah publik sebagai presiden Indonesia yaitu Megawati Soekarnoputri (2001-2004) dan keluarnya UU No. 12/2003 tentang Pemilu yang menetapkan kuota 30 persen kursi legislative untuk perempuan.(Gde Artawan, 2018:3).

Hal ini menunjukan bahwa apa yang telah dimulai oleh R.A Kartini tidaklah sia-sia belaka bagi eksistensi kaum perempuan di kalangan publik hingga saat ini. R. A. Kartini telah menjadi sosok besar bagi kaum wanita Indonesia dan juga bahwa sistem demokrasi telah sungguh-sungguh dijalankan dengan baik ketika lengsernya Orde Baru menuju masa reformasi yang ditandai dengan pemilu yang berlangsung dalam sistem demokrasi dari rakyat, untuk rakyat dan oleh rakyat secara prosedur dan substansial.

Namun yang masih menjadi persoalan apakah dengan adanya emansipasi bagi kaum perempuan ini sudah menjadi kancah yang menjamin eksistensi kaum perempuan dalam ranah pulik.

Halaman
123
Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved