Breaking News:

Salam Pos Kupang

Covid-19 Masih Mengintai Kita

ANCAMAN terhadap Covid-19 masih mengintai kita. Meski trend penambahan pasien tak terlampau mencolok

Covid-19 Masih Mengintai Kita
Dok
Logo Pos Kupang

POS-KUPANG.COM - ANCAMAN terhadap Covid-19 masih mengintai kita. Meski trend penambahan pasien tak terlampau mencolok, sikap berhati-hati dan mengikuti prosedur sebagaimana arahan dari pemerintah wajib kita ikuti.

Tak boleh ada sikap permisif atau memberi kelonggaran kepada siapa pun jika tak mematuhi protap Covid-19. Tak salah bisa orang yang tak mengenakan masker, misalnya jangan melakukan interaksi sosial. Misalnya, ia lupa membawa masker dari rumah maka ia wajib pulang untuk mengambilnya atau membeli masker yang tersedia di berbagai tempat.

Camat Waigete Sudah Usul Perbaiki Jalan Menuju ke Kampung Wairbukan

Pressure-nya yakni tak membolehkannya melakukan aktivitas di sekitar kita. Pada masa New Normal ini kita menyaksikan masyarakat seakan lepas kendali sehingga lupa diri bahkan tak tahu diri lagi. Begitu banyak orang merasa telah terbebas dari virus ini. Padahal virus ini belum berlalu. Ia masih hidup sangat akrab dengan kita.

Karena itu kita wajib menjaga dan mengikuti prosedur tetap (protap) itu untuk menghalaunya. Tetap mengenakan masker, menjaga jarak, tak boleh berjabat tangan, menjauhi kerumuman orang, sering mencuci tangan atau menggunakan hand sanitizer. Selain tetap mengonsumsi makanan bergizi untuk menjaga stamina tubuh serta istirahat yang cukup.

Terjerat Kasus Korupsi, Seorang ASN di Malaka Diberhentikan

Itulah cara kita menghalau virus ini. Jika sampai saat ini obat dari virus ini belum ditemukan, maka cukup saja kita mencegahnya. "Obat-nya" yakni mengikuti prosedur. Beberapa tempat seperti stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) dan beberapa supermarket di Kota Kupang menolak tak melayani konsumen jika tidak mengenakan masker. Sikap yang relatif tegas ini merupakan teguran sosial.

Selama berbulan-bulan kita mengurung diri di rumah. Akhirnya pemerintah dengan penuh pertimbangan memberlakukan New Normal ini agar dapat menyelamatkan hidup kita. Sebab jika saja kita tetap berada di rumah, kita bisa mati dalam hidup. Sebaliknya, jika keluar rumah maka belum tentu kita mati asal mengikuti semua prosedur yang telah ditetapkan.

Berita Pos Kupang, edisi Minggu (5/7/), memberi kita gambaran bahwa seorang dokter yang kita tahu sungguh taat dan mengikuti semua prosedur penanganan Covid-19 menjadi terpapar, meski dari cluster Bali. Jika demikian bagaimana dengan masyarakat kita yang terkesan masa bodoh?

Justru saat ini kita tengah berjuang untuk menghindari cluster-cluster lokal yang bisa saja muncul dengan sangat cepat karena perilaku kita yang tak patut.

Jika seorang saja terpapar dalam keluarga atau instansi baik swasta maupun pemerintahan, maka semua kita wajib mengikuti rapid test. Itu menjadi standar. Jika semua terpapar maka ancaman itu sungguh menakutkan kita. Meski kita tahu bahwa banyak pula para pasien ini yang sembuh dari Covid-19.

Peneliti Biomolekuler, Dr. Fima Inabuy dalam Webinar yang diselenggarakan Etnis Tionghoa Kupang (Etika) bersama Pos Kupang dan Forum Akademia NTT (FAN), Sabtu (4/7), menyebut saat ini tidak cukup hanya melakukan penanganan pada level penanggulangan.

Jauh lebih penting adalah menangkap dan secepat mungkin memetakan di mana area-area yang terinfeksi virus ini dan segera mengisolasi guna mencegah penyebaran atau transmisi lokal.

Pandangan ilmuwan ini terasa benar untuk mencegah virus ini "kambuh" dalam trend jumlah yang lebih banyak lagi. Kita berusaha agar terhindar dari trauma psikologis sebelumnya. Silakan kita tetap beraktivitas namun selalu menyadari bahwa ancaman itu masih terus mengintai.

Ancaman itu menjadi bahaya laten. Semoga kesadaran sosial kita selalu tumbuh untuk melestarikan hidup kita yang kini seakan-akan berada di ujung tanduk.

Kita mengharapkan pemerintah melakukan test massal untuk mengetahui tingkat penyebaran kasus ini. Jika kita mengharapkan masyarakat secara sadar melakukan test apalagi dengan biaya sendiri, maka jangan berharap banyak. Di tengah siatuasi ekonomi yang parah ini, masyarakat akan lebih memilih untuk membeli pangan ketimbang menjalani test.

Semoga dalam situasi ini tak ada pihak yang memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi maupun golongan. Di luar sana banyak informasi liar yang menyebutkan bahwa kepentingan bisnis masih cukup dominan dalam penanganan Covid-19. *

Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved