Breaking News:

Wakil Bupati Belu: Penuntasan Stunting Butuh Peran Aktif Semua Stakeholder

Penuntasan masalah stunting bukan hanya tanggung jawab pemerintah tetapi juga peran aktif dari semua stakeholder dan masyarakat

POS-KUPANG.COM/TENIS JENAHAS
Kegiatan Rembuk Stunting tingkat Kabupaten Belu di Aula Kantor BP4D, Senin (29/6/2020) 

POS-KUPANG.COM | ATAMBUA - Penuntasan masalah stunting bukan hanya tanggung jawab pemerintah tetapi juga peran aktif dari semua stakeholder dan masyarakat.

Kolaborasi dan sinergitas rencana aksi semua pihak dapat diyakini bisa menuntaskan masalah stunting di Kabupaten Belu, kabupaten perbatasan Indonesia-Timor Leste.

Harapan ini disampaikan Wakil Bupati Belu, Drs. JT Ose Luan saat menghadiri kegiatan Rembuk Stunting tingkat Kabupaten Belu yang berlangsung di Aula Kantor Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan Daerah (BP4D), Senin (29/6/2020).

PLN Unit Betun Lakukan Pemeliharaan Jaringan, Target Selesai Hari Ini

Ose Luan mengungkapkan, secara medis, stunting merupakan penyakit gagal tumbuh pada anak akibat kurang asupan gizi selama masa 1000 hari pertama kelahiran. Stunting tidak hanya soal fisik tetapi berpengaruh pada intelektual atau kecerdasan anak.

Stunting menjadi masalah nasional sehingga diberi perhatian serius oleh pemerintah, mulai dari pusat sampai daerah. Banyak hal yang menyebabkan stunting sehingga penanganan stunting bukan semata-mata tanggung jawab pemerintah tetapi peran aktif semua stakeholder dan masyarakat sangat dibutuhkan.

Bupati Niga Instruksikan Petugas Larang Warga Masuk RSUD BilaTidak Menggunakan Masker

"Banyak aspek yang menyebabkan stunting sehingga butuh komitmen dan kerjasama aktif dari semua pihak dalam menuntaskan dan pencegahan stunting. Penuntasan stunting menjadi tanggungjawab bersama, terintegrasi serta perlu adanya regulasi dan rencana aksi yang tepat demi penuntasan stunting di Kabupaten Belu," pinta Ose Luan.

Ose Luan berharap, peserta rembuk stunting bisa membangun komitmen bersama serta memperlihatkan
upaya pencegahan hingga upaya penurunan angka kasus stunting di Kabupaten Belu.

Kepala BP4D Kabupaten Belu, Florianus Nahak kepada wartawan mengatakan, tujuan rembuk stunting ini untuk menyampaikan hasil analisa situasi dan rancangan rencana kegiatan intervensi penurunan stunting kabupaten yang terintegrasi.

Selain itu, mendeklarasikan komitmen pemerintah daerah dan menyepakati rencana kegiatan intervensi penurunan stunting terintegrasi serta membangun komitmen publik dalam kegiatan penurunan stunting secara terintegrasi di kabupaten.

Peserta kegiatan melibatkan semua Organisasi Perangkat Daerah (OPD), camat, kepala desa/lurah, organisasi wanita, petugas medis, pengelola PAUD dan TK, LSM lokal maupun internasional dan pemerhati masalah kesehatan di Kabupaten Belu.

Menurut Flori, keterlibatan para pihak ini penting karena penanganan stunting harus menjadi komitmen bersama yang diwujudkan dalam kebijakan program dan kegiatan, partisipasi aktif seluruh masyarakat, media massa dan dunia usaha.

Harapan dari kegiatan rembuk stunting itu, terbentuknya konvergensi dan keterpaduan perangkat pemerintah dan masyarakat secara bersama mencegah stunting.

Kegiatan rembuk stunting menghadirkan sejumlah narasumber antara lain, dr. Tb. Rachmat Sentika dari IDI, Kepala Litbang Provinsi NTT, Kepala BP4D Kabupaten Belu, Kepala Dinas Kesehatan Belu, Serta Kadis PMD Belu. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Teni Jenahas)

Penulis: Teni Jenahas
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved