Kamis, 30 April 2026

Opini Pos Kupang

Pembangunan Pabrik Semen, Untuk Apa?

Saat ini wacana tentang pembangunan pabrik semen di Lingko Lolok dan Luwuk, Desa Satar Punda, Kecamatan Lamba Leda sangat kencang

Tayang:
Editor: Kanis Jehola
Dok
Logo Pos Kupang 

Teori modernisasi berupaya memperlihatkan kesenjangan antara Negara maju dan Negara berkembang. Solusi untuk melakukan percepatan pembangunan adalah dengan memberikan bantuan kepada Negara-negara berkembang dalam banyak hal untuk mengejar ketertinggalannya.

Setelah sekian lama berjalan, para ekonom melihat bahwa konsep ini membawa kebergantungan Negara berkembang kepada Negara maju, bahkan muncul Negara-negara yang terkebelakang (the development of underdevelopment) akibat modernisasi yang dicanangkan melalui pelbagai bantuan dari Negara maju untuk Negara berkembang.

Teori Dependensi mengatakan bahwa kebergantungan terhadap Negara maju dan pemilik modal menyebabkan perangkap kemiskinan (the vicious circles) yang tak terelakkan.

Karena itu, membebaskan diri dari ketergantungan adalah jalan yang harus dipilih untuk menjadi sejahtera. Dua konsep teoretik itu diterjemahkan oleh para pengambil kebijakan baik pada level Negara maupun dalam skala kecil di daerah-daerah.

Mencari Solusi Bersama

Jika ditilik, terdapat tiga kelompok yang saling memberi pengaruh dalam wacana pabrik semen di Matim. Pertama, aliran developmentalis. Kelompok ini berusaha mencari jalan keluar atas masalah perekonomian kabupaten Manggarai Timur yang masih masuk dalam kategorisasi daerah tertinggal baik Perpres nomor 113 Tahun 2015 maupun Perpes nomor 62 Tahun 2020 bersama 13 kabupaten lain di NTT.

Dalam situasi ini alasan yang sangat dasariah bagi Pemkab Matim mencari segala daya upaya untuk membebaskan rakyatnya keluar dari kertinggalan. Diharapkan, dengan adanya pabrik semen ini, ada penyerapan tenaga kerja yang memberi pengaruh pada adanya pendapatan pada masyarakat.

Kedua, aliran ekosentrisme. Aliran ini peduli pada lingkungan hidup. Pembangunan tetap boleh dilakukan asalkan tidak merusak lingkungan dan ekosistem yang ada di dalamnya. Karenanya, kehidupan yang selaras alam adalah hal utama. Diskusi pertumbuhan ekonomi bukanlah hal yang paling penting. Sektor-sektor yang harus digenjot menurut aliran ini adalah ekowisata berbasis pertanian organik.

Ketiga, aliran antroposentrisme. Aliran ini mengutamakan masa depan manusia dan turunannya. Menurut aliran ini, manusialah tujuan dan pusat pembangunan. Pembangunan tidak boleh merusak harkat dan martabat manusia. Kemajuan pembangunan tidak boleh menciderai manusia.

Apapun aliran yang memberi pengaruh pada setiap pewacanaan, pertentangan pendapat bukanlah tujuan. Diskursus rasional hanyalah medium kita mengambil keputusan yang tepat dan mengakomodir kehidupan yang layak dan bermartabat.

Dari indicator tentang daerah tertinggal yang berbasis 6 (enam) aspek, antara lain: perekonomian masyarakat, sumber daya manusia, sarana dan prasarana, kemampuan keuangan daerah, aksesibilitas dan karakteristik daerah, Kabupaten Manggarai Timur berturut-turut berada di posisi daerah tertinggal.

Suatu status yang ironis dihadapan fakta tanah Manggarai Timur yang subur dan branding kopinya yang sohor.

Semua pihak seyogianya berusaha memberikan kontribusi alternatif pemecahan atas masalah kemiskinan yang akut. Pemkab Matim membenahi sektor pertanian, perkebunan, kehutanan dan perikanan sebagai sektor unggulan yang berkontribusi dominan bagi Pendapatan Asli daerah (PAD).

Lembaga-lembaga yang melakukan advokasi tidak menjadikan isu tambang dan semen sebagai lahan mengeruk keuntungan, melainkan ruang untuk mengubah ekonomi masyarakat sehingga mereka memiliki kemandirian dan kesejahteraan lahir-batin.

Kekisruhan membahas rencana membangun pabrik semen di Matim menyadarkan kita bahwa pembangunan adalah usaha bersama untuk menyatukan semua energi pelbagai elemen dalam daerah, baik pemerintah, pelaku usaha dan masyarakat, agar Manggarai Timur keluar dari predikat tertinggalnya dan masyarakatnya sejahtera. (*)

Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved