WALHI NTT, Menolak Rencana Pembangunan Pabrik di Manggarai Timur
Dari awal kami konsisten untuk menolak soal tambang terkait karena ada beberapa alasan
POS-KUPANG.COM | KUPANG-- Dari awal kami konsisten untuk menolak soal tambang terkait karena ada beberapa alasan. "Alasan-alasan yang kami menolak soal tambang yang paling pertama dan utama yakni daya tampung dan daya dukung lingkungan NTT."
Hal ini disampaikan di Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia ( Walhi) NTT, Melalui Yuvensius Stefanus Nonga selaku Deputi Walhi NTT kepada POS-KUPANG.COM, Rabu (24/06/2020).
• UPDATE Corona Manggarai: 1 ODP Masih Dipantau
Ia mengatakan, Karena merupakan konteks di NTT tidak cocok untuk daerah tambang, karena kita daerah provinsi kepulauan dan lain sebagainya. Dan potensi utama kita berada disektor pertanian dan peternakan.
"Alasan yang kedua, kerena kami sedang menagi janji Bapak Gubernur terkait moratorium yang Gubernur sampaikan pada awal janji kampanyenya" ungkap Yuven.
• Ini Saran Kajari Bagi Masyarakat yang Melaporkan Tindak Pidana Korupsi
Namun diawal janji kampanye, katanya, Gubernur konsisten menolak pertambangan kerena tidak cocok di bumi NTT, yang disampaikan oleh Gubernur pada saat itu. Namun kemudian dalam perjalanan waktu tidak sesuai dengan apa yang Gubernur janjikan termasuk di Manggarai Timur dan Takari yang terdapat satu tambang mangan.
Di masa Bapak Gubernur, ia keluarkan dua ijin itu. Kata Yuven
Alasan yang ketiga, di Luwuk Likololok itu adalah kawasan kars.
Kawasan kars itu, ekosistem kars yang potensial untuk air bawah tanah. Dan di daerah itu cocok untuk pengembangan pertanian. Namun disatu sisi juga, di linkololok luwuk itu sudah ditetapkan jadi kawasan kars. Artinya, ditetapkan sebagai kawasan konsevarsi. Terangnya
"Disana lahan pertanian yang perlu didorong dan terlepas ada budaya-budaya masyarakat, tetapi yang paling utama soal lingkungan daya tampung dan daya dukung tidak cocok untuk dilakukan pertambangan di daerah itu". Ujarnya
Dia berharap, pemerintah Propinsi, baik pemerintah Manggarai Timur dalam hal ini Bupati Agas, mereka harus konsisten yang pertama mengutamakan soal lingkungan, karena harus dikaji daya tampung dan daya dukung cocok tidak dijadikan pertambangan.
"Dalam konteks di Manggarai Timur, saya pikir tidak cocok, karena potensi disana tidak cocok karena yang pertama soal budaya masyarakat di daerah itu mayoritas petani, maka hampir 100 persen kehidupan mereka ditopang oleh dunia pertanian dan peternakan. Dan hal ini yang harus didorong"
Sedangkan untuk pabrik semen, kita belajar dari beberapa pabrik-pabrik yang sudah terjadi di NTT, saya berpikir tidak cocok untuk konteks itu, dan ditambah lagi dengan daya rusaknya yang luar biasa terhadap lingkungan daya tampung dan daya dukung, kalau saya berpikir kalau bisa dibatalkan saja dalam konteks rencana pabrik semen di Manggarai Timur dan bila perlu di NTT tidak cocok untuk daya tampung dan daya dukung kita di NTT," pungkasnya. (Laporan Reporter POS-KUPANG. COM, Ray Rebon)