Kearifan Lokal Mendukung Pelestarian Konservasi dan Ketahanan Pangan Masyarakat

Kearifan lokal mendukung pelestarian konservasi dan ketahanan pangan masyarakat

Editor: Kanis Jehola
zoom-inlihat foto Kearifan Lokal Mendukung Pelestarian Konservasi dan Ketahanan Pangan Masyarakat
Dok
Logo Pos Kupang

Namun aksi para petani ini malah disambut tembakan senjata api aparat kepolisian. Akibatnya, enam orang tewas, dan 29 orang lainnya bersimbah darah, termasuk tujuh korban di antaranya harus menderita cacat seumur hidup! (Frans Sarong, dalam bukunya: Serpihan Budaya NTT, 2013, atau buku lainnya: Gugat! Darah Petani Kopi Manggarai, 2004).

Kearifan Lokal

Tentu amat sepakat jika faktor ketahanan pangan masyarakat sekitar kawasan konservasi, juga menjadi perhatian serius Kementerian KLH, dalam hal ini Ditjen KSDAE. Untuk itu diperlukan terobosan ramah warga dan juga ramah KK. Salah satu pilihan yang disarankan adalah pemberdayaan kearifan lokal.

Ambil salah satu contoh pengelolaan kawasan cagar alam Mutis. Kawasan pegunungan itu sejak turun temurun dikenal sebagai sumber madu hutan. Sejak lama pula, madu dari kawasan itu manjadi salah satu sumber nafkah bagi masyarakat sekitarnya. Namun belakangan, hasilnya merosot tajam.

Ada catatan merarik dari Desa Tutem di Kecamatan Nobo, TTS. Tutem adalah satu dari 13 desa di TTS dan TTU, yang salah satu sisi wilayahnya berbatasan langsung dengan kawasan cagar alam Mutis.

Menurut pengakuan sejumlah warga Tutem, desanya hingga tahun 2000 dengan penghasilan madu dari kawasan hutan sekitarnya, mencapai kurang lebih 15.000 liter per tahun. Belakangan, sudah syukur jika panenan mencapai 5.000 liter per tahun. Kemerosotan hasil madu hutan itu sepenuhnya akibat perambahan kawasan hutan untuk perladangan sistem tebas bakar dan berpindah-pindah.

Menyadari dahsyatnya dampak negatif akibat perambahan itu, masyarakat sepakat menggelar ritual khusus yang dikenal bernama paonasi. Ritual yang ditandai pembunuhan hewan kurban berupa kambing atau sapi, intinya bermakna larangan merambah kawasan hutan sekitarnya.

Jika ternyata ada yang melanggar, maka sanksinya berupa hewan sesuai ukuran tanduk hewan kurban saat ritualnya.

Contoh lain di TWA Menipo, Kabupaten Kupang. Masyarakat sekitar terutama dari kalangan remaja, baru mulai menyadari ternyata "penangkaran" rusa timor di Menipo adalah jejak kepedulian leluhur mereka, pasangan Meni dan Fon. Menyusul difestivalkan pada November 2019, mulai mekar kesadaran publik bahwa mengamankan Menipo sama maknanya menghornati leluhur mereka. Belakangan, Menipo yang merupakan gundukan pulau mungil saat pasang naik, mulai tumbuh jadi pilihan pelancongan, setidaknya warga Kota Kupang.

Berbagai kearifal lokal seperti ini harus selalu digeliatkan hingga menjadi kesadaran publik masyarakat sekitar kawasan. Misalnya melalui festival khusus yang digelar per tahun atau lima tahunan. Selain itu, perlu pertimbangkan adanya pasaran pantas dan pasti untuk panenan madu atau hasil lain yang didapat masyarakat dari kawasan konservasi.

Saran terakhir ini sebenarnya sudah mulai dilakukan oleh BBKSDA NTT. Di antaranya membeli minyak obatan dari olahan kalakode (sejenis sirih hutan) yang dihasilkaan dari kawasan TWA Ruteng. BBKSDA NTT juga dilaporkan mulai mengupayakan pemasaran madu dari dari kawasan Mutis dan lainnya. Terobosan seperti ini perlu mendapat perhatian lebih serius karena ujungnya langsung mendukung ketahanan pangan masyarakat sekitar kawasan.

Tiga Pilar

Tragedi Rabu Berdarah Colol memang sangat memilukan. Namun tragedi itu sekaligus menyadarkan pihak BBKSDA NTT untuk mengubah model pendekatan dalam pengelolaan kawasan koservasi.

Setelah dicermati secara mendalam, Wiratno ketika menahkodai BBKSDA NTT tahun 2012, akhirnya meluncurkan model pengelolaan yang disebut pendekatan berpasis tiga pilar. Yakni model pengelolaan kawasan konservasi yang memadukan kekuasaan dengan pendekatan berbasiskan lembaga agama (Gereja) dan lembaga adat setempat. Pendekatan baru itu terbukti manjur karena antara lain mampu mencairkan kebekuan hubungan antara BBKSDA NTT dengan warga masyarakat Colol.

Model pendekatan baru ini diharapkan menginspirasi model pengelolaan kawasan konservasi lain di Indonesia. Kita tunggu berbagai terobosan konkrit yang berbasiskan kearifan lokalc untuk kelestarian kawasan konservasi di satu sisi, dan terjaganya ketahanan pangan masyarakat sekitar kawasan, di disi lainnya. (*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved