Ini Dialog Uskup Siprianus dengan Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat Soal Tambang

profisiat dan mengharapkan bantuan dan kerja sama dari bapak Uskup dalam membangun masyarakat/umat di NTT,

Penulis: Robert Ropo | Editor: Rosalina Woso
POS-KUPANG.COM/ROBERT ROPO
Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat (kanan) menyalami Uskup Ruteng Mgr. Siprianus Hormat, Pr saat melakukan kunjungan kerja di Manggarai, Selasa (23/6/2020). 

Ini Dialog Uskup Siprianus Dengan Gubernur Soal Tambang

POS-KUPANG.COM | RUTENG--Pertemuan antara Gubernur NTT Viktor Laiskodat dan Uskup Ruteng Mgr. Siprianus Hormat, bertempat di Keuskupan Ruteng Pada tanggal 23 Juni 2020 berisi sejumlah pembahasan.

Berdasarkan Rilis tertanda Sekjen Keuskupan Ruteng yang dikirim Pihak Komsos Puspas Keuskupan Ruteng, Rabu (24/6/2020) sore, dalam kesempatan pertemuan itu Gubernur menyampaikan ucapan selamat atas tahbisan Uskup Ruteng pada tanggal 19 Maret 2020 dan memohon maaf karena tak bisa hadir pada saat itu dengan alasan wabah Covid-19.

Gubernur Viktor juga mengucapkan profisiat dan mengharapkan bantuan dan kerja sama dari bapak Uskup dalam membangun masyarakat/umat di NTT, khususnya di wilayah Keuskupan Ruteng (Manggarai Raya).

Dalam kesempatan itu, Uskup Siprianus mengucapkan terima kasih atas ucapan selamat dan atas kunjungan Gubernur. Uskup Siprianus juga menyampaikan apresiasi atas pelbagai gebrakan pembanguan Gubernur, seperti pembangunan pariwisata, penguatan ekonomi rakyat melalui gerakan kelor, araksopia, pengolahan garam, perbaikan infrastruktur jalan di Manggarai Raya, pengelolaan pantai Pede yang terbuka terhadap publik.

Uskup Siprianus juga menyampaikan beberapa pokok pikiran untuk pembangunan NTTyakni

Pertama, Gereja katolik Keuskupan Ruteng selama ini telah berkiprah dalam pembangunan manusia/umat di Manggarai Raya.

Hal ini meliputi baik kegiatan pastoral dalam bidang keagamaan seperti pewartaan, pengudusan, persekutuan, maupun juga pelayanan sosial karitatif dan transformatif di bidang pengembangan kehidupan sosial ekonomi umat, pendidikan, dan kesehatan.

Kedua, selaras dengan fokus bapak Gubernur, Uskup Ruteng juga melihat pariwisata sebagai potensi besar NTT dan penggerak utama (prime mover) bagi sektor-sektor lain dalam mensejahterakan masyarakat. Namun, Uskup Ruteng mengingatkan agar pariwisata tidak hanya berorientasi pada kesejahteraan ekonomi tetapi pada ke bagian manusia yang integral.

Hal ini menuntut partisipasi masyarakat lokal, integrasi nilai kultural dan spiritual setempat, serta pelestarian lingkungan alam dalam seluruh pembangunan pariwisata.

Ketiga, Uskup Siprianus juga menekankan sektor pertanian sebagai pusat perhatian pembangunan NTT. Untuk itu, Uskup Siprianus mengusulkan pembangunan masif sarana sumber air bagi pertanian, seperti bendungan, waduk, dan sumur bor, peningkatan nilai tambah produk nilai lokal melalui penyediaan sarana dan pelatihan pengolahan pasca panen, pengembangan pertanian organik yang intensif, penyediaan modal usaha tani melalui Bank NTT yang mudah diakses.

Uskup Siprianus juga mengangkat tema penyediaan dan perbaikan infrastruktur jalan, air minum bersih, pentingnya peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia NTT melalui pendidikan, program kesehatan masyarakat yang tidak hanya kuratif tetapi juga promotif dan animatif demi membentuk budaya hidup sehat, dan reformasi birokrasi demi terwujudnya demokrat yang berdisiplin, jujur, aktif, dan kreatif melayani kepentingan umum.

Berkaitan dengan pertambangan, Uskup Ruteng Siprianus, telah berbicara dari hati ke hati dengan Gubernur tentang hal tersebut. Mereka akan melanjutkan dialog terus menerus demi bersama-sama mencari jalan dan cara yang terbaik untuk mensejahterakan masyarakat NTT.

Dalam bahan tertulis, yang tak sempat dipresentasikan saat itu, Uskup Siprianus mendukung keputusan Gubernur tentang moratorium izin pertambangan dan meninjau kembali seluruh izin tambang di NTT yang telah dibuat sebelumnya.

Uskup Siprianus menegaskan pentingnya pembangunan ekonomi NTT yang berwawasan ekologis, geologis, geografis, kultural, dan spiritual setempat.

Khusus berkaitan dengan kawasan Pantai Utara (Pantura) dari wilayah Boleng (Mabar) melalui Reok (Manggarai) sampai Buntal (Matim), dalam bahan presentasi tertulisnya, Uskup Siprianus mengusulkan orientasi pembangunan yang tidak berbasis pertambangan meskipun wilayah ini kaya dengan kandungan mineral.

Khusus berkaitan dengan rencana penambangan batu gamping di Lengko Lolok dan pembangunan pabrik semen di Luwuk, Uskup Siprianus menyampaikan dampak-dampak destruktif yang bakal muncul seperti kerusakan lingkungan yang sangat parah. Patut dicatat, wilayah tersebut merupakan bentangan alam Karst yang memiliki fungsi resapan air dan menjadi sumber air yang permanen.

Selain itu, kegiatan penambangan tersebut dapat menghancurkan mata pencaharian warga, memusnakan kampung tradisional beserta situs budaya dan nilai kulturalnya, membahayakan kesehatan masyarakat yang tinggal di kawasan itu, menimbulkan konflik sosial, dan mengakibatkan ketidakadilan antar generasi.

"Fakta memperlihatkan juga usaha pertambangan di wilayah Pantura tidak dapat membawa perbaikan kesejahteraan masyarakat yang signifikan. Selain itu, reklamasi yang menjadi kewajiban investor tambang sesuai dengan undang-undang tidak dilakukan. Berbagai hal inilah yang kiranya dapat dipertimbangkan oleh bapak Gubernur untuk tidak melanjutkan proses perijinan tersebut," kata Uskup Siprianus.

Lebih lanjut, dalam bahan presentasi tertulis, Uskup Siprianus mengusulkan pembangunan ekonomi kawasan Pantura yang integral berbasis ekologi, geografi, geologi, demograsi, kultur, dan spiritual setempat. Hal ini meliputi bidang pertanian, seperti persawahan, hortikultura, dan perkebunan.

Bidang peternakan, seperti kambing, babi, sapi, dan kerbau. Hal-hal ini membutuhkan dukungan mutlak tersedianya air yang cukup. Sungai Wae Pesi-Reo kiranya dapat menjadi sumber potensial untuk pembanguan bendungan dan sarana irigasi. Bidang perikanan dan kelautan termasuk budidaya rumput laut dan tambak garam. Bidang pariwisata yang meliputi wisata pantai, ekokultural, dan wisata rohani.

Gubernur Viktor menyampaikan terima kasih atas pokok-pokok pikiran pembanguan dari Uskup Ruteng dan mengharpakan kerja sama yang intesif dalam membangun “NTT bangkit, NTT Sejahtera”. Pemerintah dan Gereja mesti bergandengan tangan dalam membangun kesejahteraan dan kebahagiaan masyarakat NTT.

Terkait dengan izin batu gamping di Lengko Lolok dan pabrik semen di Luwuk, Gubernur Viktor telah berdiskusi empat mata dengan Uskup. Seperti yang disampaikan dalam pertemuan dengan para wartawan, beliau akan mempertimbangkan secara matang dan komprehensif untuk membuat keputusan yang terbaik dengan memperhitungkan pelbagai aspek yang terkait.

Kasus Penyerangan Nus Kei, Polda Metro Jaya Ungkap Rahasia Ini: John Kei Sebut Nus Kei Pengkhianat!

Amerika Kerahkan 375.000 &KapalPerang; ke LCS,Perang Bisa Terjadi,Indonesia &Malaysia; Bisa Terseret

Gubernur Viktor juga mengapresiasi dialog dengan Gereja. Hal seperti inilah yang perlu dibangun terus menerus ke depan oleh Pemerintah dan Gereja. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Robert Ropo)

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved