Ini Dialog Uskup Siprianus dengan Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat Soal Tambang
profisiat dan mengharapkan bantuan dan kerja sama dari bapak Uskup dalam membangun masyarakat/umat di NTT,
Penulis: Robert Ropo | Editor: Rosalina Woso
Khusus berkaitan dengan kawasan Pantai Utara (Pantura) dari wilayah Boleng (Mabar) melalui Reok (Manggarai) sampai Buntal (Matim), dalam bahan presentasi tertulisnya, Uskup Siprianus mengusulkan orientasi pembangunan yang tidak berbasis pertambangan meskipun wilayah ini kaya dengan kandungan mineral.
Khusus berkaitan dengan rencana penambangan batu gamping di Lengko Lolok dan pembangunan pabrik semen di Luwuk, Uskup Siprianus menyampaikan dampak-dampak destruktif yang bakal muncul seperti kerusakan lingkungan yang sangat parah. Patut dicatat, wilayah tersebut merupakan bentangan alam Karst yang memiliki fungsi resapan air dan menjadi sumber air yang permanen.
Selain itu, kegiatan penambangan tersebut dapat menghancurkan mata pencaharian warga, memusnakan kampung tradisional beserta situs budaya dan nilai kulturalnya, membahayakan kesehatan masyarakat yang tinggal di kawasan itu, menimbulkan konflik sosial, dan mengakibatkan ketidakadilan antar generasi.
"Fakta memperlihatkan juga usaha pertambangan di wilayah Pantura tidak dapat membawa perbaikan kesejahteraan masyarakat yang signifikan. Selain itu, reklamasi yang menjadi kewajiban investor tambang sesuai dengan undang-undang tidak dilakukan. Berbagai hal inilah yang kiranya dapat dipertimbangkan oleh bapak Gubernur untuk tidak melanjutkan proses perijinan tersebut," kata Uskup Siprianus.
Lebih lanjut, dalam bahan presentasi tertulis, Uskup Siprianus mengusulkan pembangunan ekonomi kawasan Pantura yang integral berbasis ekologi, geografi, geologi, demograsi, kultur, dan spiritual setempat. Hal ini meliputi bidang pertanian, seperti persawahan, hortikultura, dan perkebunan.
Bidang peternakan, seperti kambing, babi, sapi, dan kerbau. Hal-hal ini membutuhkan dukungan mutlak tersedianya air yang cukup. Sungai Wae Pesi-Reo kiranya dapat menjadi sumber potensial untuk pembanguan bendungan dan sarana irigasi. Bidang perikanan dan kelautan termasuk budidaya rumput laut dan tambak garam. Bidang pariwisata yang meliputi wisata pantai, ekokultural, dan wisata rohani.
Gubernur Viktor menyampaikan terima kasih atas pokok-pokok pikiran pembanguan dari Uskup Ruteng dan mengharpakan kerja sama yang intesif dalam membangun “NTT bangkit, NTT Sejahtera”. Pemerintah dan Gereja mesti bergandengan tangan dalam membangun kesejahteraan dan kebahagiaan masyarakat NTT.
Terkait dengan izin batu gamping di Lengko Lolok dan pabrik semen di Luwuk, Gubernur Viktor telah berdiskusi empat mata dengan Uskup. Seperti yang disampaikan dalam pertemuan dengan para wartawan, beliau akan mempertimbangkan secara matang dan komprehensif untuk membuat keputusan yang terbaik dengan memperhitungkan pelbagai aspek yang terkait.
• Kasus Penyerangan Nus Kei, Polda Metro Jaya Ungkap Rahasia Ini: John Kei Sebut Nus Kei Pengkhianat!
• Amerika Kerahkan 375.000 &KapalPerang; ke LCS,Perang Bisa Terjadi,Indonesia &Malaysia; Bisa Terseret
Gubernur Viktor juga mengapresiasi dialog dengan Gereja. Hal seperti inilah yang perlu dibangun terus menerus ke depan oleh Pemerintah dan Gereja. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Robert Ropo)