Hama Wereng dan Penggerek Serang Tanaman Padi di Mauliru , Sumba Timur

Beberapa hamparan Persawahan Mauliru, Kecamatan Kambera, Kabupaten Sumba Timur terancam gagal tumbuh dan gagal panen

Penulis: Oby Lewanmeru | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM/Oby Lewanmeru
Tanaman padi di persawahan Mauliru, Kecamatan Kambera, Kabupaten Sumba Timur yang terserang hama Penggerek Coklat. Gambar diambil, Senin (1/6/2020) 

POS-KUPANG.COM | WAINGAPU - Beberapa hamparan Persawahan Mauliru, Kecamatan Kambera, Kabupaten Sumba Timur terancam gagal tumbuh dan gagal panen. Kondisi ini disebabkan adanya serangan hama dan penyakit.

Pantauan POS-KUPANG.COM, Senin (1/6/2020) , tanaman padi yang terserang hama penyakit itu berumur sekitar dua minggu hingga tiga minggu setelah tanam. Dalam satu bedeng hampir semuanya terserang hama penyakit. Nampak tanaman padi itu kerdil dan daun-daunnya kekuning-kuningan.

Lembata Zona Hijau, Desa Wisata Lewolein Kembali Bergeliat

Kemungkinan tanaman padi di persawahan Mauliru ini mengalami penyakit kerdil. Penyakit ini kemungkinan disebabkan oleh virus yang ditularkan oleh hama wereng.

Selain akibat hama wereng, ada juga yang diserang oleh Penggerek Coklat. Akibat serangan penggerak coklat ini, tanaman padi yang sudah ada bulir rusak sehingga petani terancam gagal panen. Rata-rata tanaman padi yang sudah pada fase generatif mengalami serangan hama ini.

Di Belu, Orang Tanpa Gejala di Masih 25 Orang

Beberapa petani yang ditemui di persawahan mereka mengatakan, tanaman padi mereka yang sudah berumur sekitar dua sampai tiga minggu diserang hama dan penyakit.

Merlin Konga Naha mengatakan, tanaman padi yang sudah ada malai akhirnya hampa semua akibat adanya hama. "Kalau hama sudah serang,maka kami gagal panen," kata Merlin.

Sementara, Heronima Hana Laji mengakui, tanaman padi yang baru dipindahkan sekitar dua atau tiga Minggu telah diserang hama.

"Kami tidak tahu itu penyakit apa,tapi tanaman padi kelihatan pendek dan daunnya menguning," kata Heronima.

Dia mengatakan, sawah yang diusahakan oleh dirinya dan keluarga sekitar 2 hektar dan saat ini ada sebagian padi yang terserang hama dan penyakit.

"Tahun lalu tidak ada ini penyakit, tapi tahun ini mulai ada lagi. Kalau sudah seperti ini,maka pasti gagal yang kami alami," katanya.

Dikatakan, jika sampai pertumbuhan padi tidak bisa lagi, maka mereka harus membabat tanam itu kemudian lahan sawah diolah dan ditanami benih yang baru.

"Kita sudah pasrah kalau padi telah terserang hama dan penyakit. Kota ini alami kelaparan dan bisa mati ,bukan karena Corona tapi kelaparan," katanya.

Heronima Mengaku, jika ingin menanam baru, maka dibutuhkan biaya untuk membili benih lagi. Bahkan, lanjutnya, apabila hendak membeli lagi benih maka membutuhkan biaya. Padahal, biaya untuk kebutuhan keluarga saja saat ini cukup sulit.

Terhadap tanaman padi yang terserang hama penyakit, Heronima mengatakan, jika awal terserang bisa dikendalikan, yakni dengan penyemprotan obat dan pupuk. "Saat ini sudah terlambat,sehingga tidak bisa lagi," ujarnya.

Petani lainnya, Nanja Pali mengatakan, hampir semua tanaman padi miliknya terseryhama dan penyakit.
"Tahun ini baru tanaman saya terkena penyakit. Saya sudah beri pupuk dan semprot tapi tidak bisa lagi," kata Nanja Pali.

Halaman
12
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved