Mesin Pompa Barsha Bantu Petani dengan Teknologi Ramah Lingkungan

Mesin pompa air yang dikenal dengan sebutan pompa barsha sangat cocok bagi petani di daerah aliran sungai ( DAS)

POS-KUPANG.COM/Oby Lewanmeru
Mesin pompa Barsha yang dipasang di tengah salah satu sungai di Desa Mbatakapidu, Kabupaten Sumba Timur. 

POS-KUPANG.COM | WAINGAPU - Mesin pompa air yang dikenal dengan sebutan pompa barsha sangat cocok bagi petani di daerah aliran sungai ( DAS) . Teknologi ini tanpa BBM sehingga ramah lingkungan.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Sumba Timur, Oktavianus Mb. Muku, S.P, M.Si, Jumat (22/5/2020) mengatakan, teknologi mesin pompa Barsha di Sumba Timur dikelola oleh Yayasan Komunitas Radio Max FM Waingapu.

Brigpol Bambang Mendadak Meninggal, Ini Penjelasan Kapolres Sabu Raijua

"Mesin pompa air ini sangat cocok bagi petani di DAS terutama saat musim kemarau. Hanya saja perlu kita mengetahui usia ekonomis dan juga sistem pemeliharaannya," kata Oktavianus.

Dia mengakui, telah melihat langsung mesin pompa itu di Desa Mbatakapidu. Mesin pompa air ini ditempatkan oleh pihak Yayasan Komunitas Radio Max FM guna melakukan usaha pertanian pada DAS di Mbatakapidu.

"Saya lihat mesin ini bagus dan ramah lingkungan karena tidak menggunakan BBM," katanya.

Masjid Tanpa Persiapan Jamaah Salat Id di Rumah

Ditanyai soal potensi DAS di Sumba Timur,ia mengakui sesuai perhitungan di Sumba Timur ada sekitar 3.000-an hektar lahan yang ada di DAS. Jika di DAS ini kita pasang 2-3 mesin pompa untuk satu DAS, maka lahan di DAS bisa dimanfaatkan sepanjang tahun.

"Saya kira upaya ini juga dalam rangka kita menekan suplai sayur-sayuran, bawang , lombok,tomat dari luar Sumba Timur. Petani bisa produksi sepanjang tahun sesuai dengan komoditi yang diusahakan," ujarnya.

Direktur Yayasan Komunitas Radio MaxFm, Heinrich Dengi mengatakan, pemanfaatan mesin pompa Barsha itu dikhususkan pada musim kemarau. Karena pada saat musim penghujan, masyarakat bisa menggunakan curah hujan untuk mengolah lahan pertaniannya.

"Mesin ini tentu cocok penggunaannya di musim kemarau. Kita juga ingin ada aktivitas para petani saat musim kemarau tetap berlangsung," kata Heny sapaan akrab Heinrich.

Dikatakan, untuk musim hujan, masyarakat tetap menggunakan curah hujan untuk mengola lahan mereka.

Dijelaskan, mesin pompa Barsha tidak hanya menggunakan tekanan arus air sebagai penggeraknya, melainkan juga udara dan kedua tenaga ini saling mengisi saat mesinnya berputar. Karena itu, akan sangat baik juga jika di aliran sungai tempat mesin pompa barsha diletakkan ditebar benih ikan.

"Kita sudah lakukan selama tiga tahun dengan 10 mesin pompa, dan tersebar di Sumba Timur, Ngada, Sumba Barat dan Manggarai. Jadi ini benar-benar mesin yang sangat ramah lingkungan karena tanpa BBM, " katanya.

Dikatakan, pada prinsipnya, mesinnya tetap menjadi milik yayasan dan masyarakat menyewanya dengan cara bagi hasil, sehingga petani yang menerimanya wajib bekerja.

Dia mengatakan, pihaknya menggunakan teknologi ini bukan hanya mau mencari keuntungan, namun ini juga sebagai bentuk membantu pembangunan bagi masyarakat NTT yang lebih baik lagi.

Untuk diketahui, Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat bersama Wakil Gubernur NTT, Josef A.Nae Soi sempat melihat mesin ini ketika mengunjungi Studio Radio Max FM Waingapu di Kampung Kalu, Kelurahan Prailiu, Kecamatan Kambera, Kabupaten Sumba Timur usai Upacara Apel Memperingati HUT NTT ke-61, Jumat (20/12/2019) akhir tahun lalu. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Oby Lewanmeru)

Penulis: Oby Lewanmeru
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved