Virus Corona

Pemerintah Akan Berlakukan New Normal di Tengah Pandemi Covid-19: Bali, Yogya dan Kepri Jadi Contoh

Mulai dari tata cara beribadah sampai langkah masuk ke restoran akan diatur. Provinsi Bali, Yogya, dan Kepulauan Riau jadi proyek percontohan pertama.

Editor: Agustinus Sape
Image by Peggy und Marco Lachmann-Anke from Pixabay
Ilustrasi masker. 

Menurut peneliti epidemiologi dari Eijkman -Oxford Clinical Research Unit Henry Surendra terdapat empat hal yang harus dipenuhi sebelum melakukan pelonggaran pembatasan sosial.

Pertama, laju kasus baru sudah turun secara konsisten, atau angka reproduksi (R0) kasus turun signifikan misalnya sudah sampai dengan kurang dari sama dengan satu.

Kedua adanya tren penurunan populasi berisiko dalam hal ini penurunan PDP, ODP, dan OTG.

"Ketiga, jumlah dan kecepatan tes sudah memadai, yaitu kapasitas tes PCR, jadi minimal sudah tidak ada lagi tumpukan antrean sample di laboratorium dan stok reagen aman untuk 1-2 bulan ke depan.

"Terakhir adalah kesiapan sistem kesehatan. Tidak hanya kapasitas rumah sakit yang siap menampung jika terjadi lonjakan kasus, tapi juga kapasitas tim di lapangan dalam melakukan deteksi dini, pelacakan kasus dan kontak, serta pelaporan secara real time," kata Henry.

Ketika empat syarat tersebut belum terpenuhi maka keputusan melakukan pelonggaran PSBB akan sangat berbahaya karena berpotensi meningkatkan risiko penularan Covid-19 di masyarakat.

Apalagi, kata Henry, berdasarkan penelitian di luar negeri bahwa sekitar 80% kasus Covid-19 adalah kasus infeksi tanpa gejala.

"Adanya pelonggaran ini saya kira tidak berdasar pada kajian epidemologi dan kesehatan masyarakat karena sampai saat ini laju pertumbuhan kasus di Indonesia belum turun secara konsisten, selain itu jumlah tes harian masih minim, dan penerapan PSBB masih belum maksimal," kata Henry.

'Nyawa tak bisa dibeli dengan uang'

Warga berbelanja kebutuhan lebaran saat masa PSBB di Pasar Raya Padang, Sumatera Barat, Senin (18/5).
Warga berbelanja kebutuhan lebaran saat masa PSBB di Pasar Raya Padang, Sumatera Barat, Senin (18/5). (ANTARA FOTO/IGGOY EL FITRA)

Direktur Program Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Esther Sri Astuti, menilai rencana pengurangan atau pelonggaran aturan pembatasan sosial yang dibungkus dalam bentuk protokol new normaladalah bentuk keberpihakan pemerintah pada kelompok bisnis, tanpa mempertimbangkan sisi kesehatan masyarakat.

"Pemerintah hanya mendengarkan sekelompok orang dari pihak bisnis. Pemerintah terburu-buru jika aturan itu dikeluarkan dalam waktu cepat," kata Esther.

Ia menambahkan jika rencana itu diterapkan hanya akan membuat perekonomian Indonesia semakin terpuruk karena menguras uang pemerintah untuk meredam virus tersebut.

"Jadi berapa pun nanti anggaran yang dikeluarkan pemerintah itu tidak akan mampu untuk meredam virus covid karena penyebarannya luas sekali. Jadi satu-satunya cara adalah membatasi diri, menghimbau masyarakat untuk stay at home.

"Yang utama itu kesehatan baru ekonomi. Nyawa tidak bisa dibeli dengan uang. Kita sudah sehat, uang itu bisa dicari. Tidak ada negara yang melonggarkan PSBB jadi landai, ini rencana yang salah," katanya.

Seperti apa protokol WHO tentang 'The New Normal'?
Sebelumnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah menerbitkan protokol transisi menuju the new normal atau tata kehidupan baru sebelum vaksin Covid-19 belum ditemukan.

"Kompleksitas dan ketidakpastian ada di depan, yang berarti bahwa kita memasuki periode di mana kita mungkin perlu menyesuaikan langkah dengan cepat," kata Direktur Regional WHO untuk Eropa Henri P. Kluge dikutip dari dokumen resmi di situs WHO, Senin (18/5/2020).

Calon penumpang menunjukkan formulir pembatalan tiket kereta api di Stasiun Gambir, Jakarta, Senin (18/5).
Calon penumpang menunjukkan formulir pembatalan tiket kereta api di Stasiun Gambir, Jakarta, Senin (18/5). (APRILLIO AKBAR/ANTARA FOTO)

Menurut WHO, sebelum langkah pelonggaran pembatasan untuk menuju 'the new normal' diterapkan, pemerintah mesti membuktikan bahwa transmisi virus corona sudah dikendalikan.

Pelonggaran pembatasan, menurut WHO, harus dilakukan secara bertahap dan otoritas terkait diminta terus mengevaluasi kebijakannya.

Syarat lainnya, lanjutnya, kapasitas sistem kesehatan masyarakat - diantaranya rumah sakit - harus tersedia untuk mengidentifikasi, menguji, mengisolasi, melacak kontak, dan mengkarantina pasien COVID-19.

Disebutkan pula dalam protokol itu, tata kehidupan baru bisa diterapkan apabila risiko penularan wabah sudah terkendali terutama di tempat dengan kerentanan tinggi.

Masing-masing negara juga diharuskan mampu menerapkan langkah pencegahan di tempat kerja, berupa jarak fisik, fasilitas cuci tangan dan diikuti etika batuk atau bersin.

Protokol WHO juga menyebutkan setiap langkah menuju transisi 'the new normal' harus dipantau oleh otoritas kesehatan.

"Akhirnya, perilaku masing-masing warga akan menentukan karakter virus. Ini akan membutuhkan ketekunan dan kesabaran, tidak ada jalur cepat untuk kembali normal," demikian protokol WHO.

Sumber: BBC News Indonesia

WHEN ABNORMALITIES BECOMING A NEW NORMAL
By GC

Pada suatu ketika ada seorang Milyarder yang sangat kaya tinggal di kota Suzhou China. Milyarder ini mengidap sakit mata yang sangat berat dan akut. Sehinga Ia berkonsultasi dengan banyak sekali ahli medis, dokter-dokter mata yang hebat-hebat di sana dan meminum obat yang jumlahnya buanyak sekali. Berulang-ulang ia harus menerima injeksi juga disekitar matanya. Namun begitu, rasa sakitnya tidak kunjung sirna.

Akhirnya ia menyerah, pikirnya… cara dunia Barat tidak berhasil, maka tidak ada salahnya untuk mencoba methode timur. Tidak jauh dari kota Suzhou, ada seorang tabib yang terkenal bisa mengobati apa saja. Ia bisa mendiagnosa hanya dengan memegang nadi yang ada pergelangan tangan dan langsung tau apa yang menjadi masalahnya. Tanpa membuang waktu ia pun segera ke sana.

Setelah Tabib memeriksa nadinya, ia mengangguk-angguk tanda ia mengerti apa problema yang dihadapi oleh milyarder tersebut. Tabib itu meminta agar ia menghentikan semua obat-obatan, dan menjalankan terapi fokus warna hijau. Ia untuk sementara dalam perawatan tidak boleh melihat warna yang lain selain warna hijau.

Sepulangnya dari tabib itu, ia mengumpulkan seluruh keluarga dan pegawainya serta mengupah banyak sekali tukang cat untuk mengubah semua warna yang dilihatnya menjadi warna hijau. Semua dinding, peralatan makan, dll semuanya diubahnya menjadi hijau. Kurang lebih seminggu mata milyarder ini pun terasa enakan. Ia pun tambah heboh lagi, meminta agar sekeliling rumah dibangun tembok yang tinggi dan di dalam tembok itu, semuanya diubah menjadi hijau.

Kemudian tiba saatnya sang Milyarder ini harus melakukan pemeriksaan ulang dari Tabibnya. Ia pun meminta Tabib tersebut berkunjung ke rumah Milyarder tersebut. Ketika Tabib itu baru saja masuk, salah seorang pegawainya lari dengan tergesa-gesa dengan seember tinta hijau, byur… baju tabib itu yang berwarna merah di siram warna hijau. Supaya majikannya tidak melihat warna lain selain warna hijau.

Mendengar hal ini, Tabib ini pun tertawa terbahak-bahak… Ia berkata: “Siapa yang suruh mengubah semuanya menjadi warna hijau? Jika saja ia membeli sebuah kacamata hijau yang harganya Cuma beberapa Yuan saja kan masalahnya sudah selesai. Semuanya akan jadi hijau bukan?

Mengapa harus mengubah semua warna-warna yang ada? Coba tuh lihat pot keramik yang bagus begini dan antik lagi, sekarang jadi jelek karena diubah jadi hijau, lagian tuh langit kan masih berwarna biru, bagaimana kamu mewarnai langit?

Friends… Kita tidak dapat mengubah semua hal di dunia sesuai dengan selera yang kita ingini… Sekeras apa pun kita berusaha, kita tidak akan mampu mengubahnya… Hal itu sangatlah kompleks… Hal sederhana yang mampu dan bisa kita lakukan adalah… Ubahlah cara kita atau diri kita dalam memandang sesuatu. Beradaptasilah….

Situasi Covid-19 ini membuat situasi yang ABNORMAL seperti misalnya harus menggunakan masker, hand sanitizer, physical distancing yang kini tanpa kita sadari menjadi sebuah kondisi normal yang baru (New Normal). Banyak orang menjadi stress, mereka mengatakan… When all of these will turn back into normal? Kapan semuanya akan menjadi normal Kembali? Semakin kita berharap semakin kita bertambah kecewa dan akhirnya berubah menjadi Stress.

WHO minggu lalu menyatakan bahwa Covid-19 ini akan terus ada di dunia selamanya. https://www.independent.co.uk/news/health/coronavirus-latest-covid-19-who-hiv-mike-ryan-a9513456.html Jadi tidak ada pilihan lagi… Apakah kita akan adjust diri kita, dengan gaya hidup yang baru ini yang kita rasakan tidak normal ini atau kita tidak akan survive dan akan mati terkena infeksi Covid-19. Banyak orang yang tidak sabar dan akhirnya Kembali ke gaya hidup yang lama. Itu akan berbahaya. Berhati-hatilah….

Kita tidak diminta untuk mengganti semua yang ada di dunia ini disesuaikan dengan kebutuhan kita. Sebab hal itu tidak mungkin terjadi. Tidak perlu juga berharap semua orang harus mengikuti aturan yang ditetapkan, tata tertib yang diatur oleh pemerintah (sebab itu tugas pemerintah dan akan membuat frustasi kita, jika kita tetap ngotot meminta semua orang mematuhinya). Kita tidak perlu emosi juga ketika orang lain tidak mau join hand untuk menjaga jarak dll.

Yang bisa kita lakukan adalah… Adjust diri kita, buat aturan untuk diri kita dan keluarga kita supaya tetap aman, mulai membiasakan hidup di dunia yang New Normal ini dengan kebiasaan-kebiasaan baru yang mungkin membuat kita tidak nyaman pada awalnya. Tapi percayalah, bila kita biasakan… semuanya akan Kembali seperti normal. Saya pribadi sekarang mulai nyaman menggunakan masker saat keluar rumah

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved