Corona di NTT

VIDEO - Stok Pangan Menipis Warga Woedoa Terpaksa Makan Ubi Beracun

VIDEO - Stok Pangan Menipis Warga Woedoa Terpaksa Makan Ubi Beracun yang diolah sedemikian rupa sebagai pengganti nasi.

Isabela mengatakan proses pengolahan Odo sangat lama dan harus benar-benar mengikuti langkah-langkah yang biasa dilakukan pada tahun sebelumnya.

Biasanya mengolah Odo memakan waktu dua hingga tiga hari baru bisa dimakan dan jangan sampai salah mengolahnya.

"Kami gali di hutan. Setelah itu, kupas kulit, iris harus tipis dan simpan di ember dan garam. Rendam dengan garam dapur selama satu malam. Paginya baru angkat taru di karung yang tipis baru rendam di air mengalir selama satu malam," ungkap Isabela, Kamis (7/5).

Ia mengatakan, jika tidak mengolah Odo maka tidak bisa makan apa-apa yang jelas masyarakat akan mengalami kelaparan. Odo menjadi salah satu pangan alternatif sebagai pengganti nasi.

"Setelah direndam dalam air mengalir selama satu malam, barulah diolah menjadi makanan. Bisa langsung dimasak atau dijemur terlebih dahulu baru bisa ditumbuk menjadi tepung sehingga bisa dikukus, atau olah dengan cara lain misalnya masak dan nanti campur dengan kelapa. Intinya, harus melalui langkah-langkah yang baik sehingga racunnya hilang. Karena ubi ini beracun," ungkapnya.

Ia mengatakan, jika Odo diolah asal-asal saja nanti bisa mabuk setelah mengkonsumsinya.

"Bisa mabuk dan kalau mabuk nanti bisa tidak mau makan lagi, makanya olah baik-baik," ungkapnya.

Warga lainnya, Maksimus Sela (48), mengatakan, akibat pandemi Covid-19 stop pangan masyarakat mulai menipis dan warga terpaksa menggali Odo untuk dijadikan bahan makanan.

Hasil bumi sulit dipasarkan dan harga Sembako mahal sehingga warga sangat kesulitan membeli. Apalagi uang tunai sangat sulit diperoleh karena hasil kebun tidak bisa dijual seperti sebelumnya.

"Kami gali dan olah Odo ini karena stok pangan menipis. Pasar tutup, mau jual hasil tidak bisa. Harga Sembako naik. Memang kemiri komoditi disini ada, pisang, kelapa dan masih banyak hasil bumi lainnya tapi mau dikemanakan," ujarnya.

Halaman
123
Penulis: Gordi Donofan
Editor: Jhony Simon Lena
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved