Gubernur Copot Izhak Rihi, Alex Kaget Jadi Plt Dirut Bank NTT
Gubernur Viktor kemudian mengangkat Alexander Riwu Kaho sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Dirut Bank NTT
"Pak Hila (Hilarius Minggu) dan Pak Umbu masih di posisi yang sama. Karena untuk menjadi seorang Dirut harus melalui proses uji kelayakan di OJK, untuk itu akan memproses administrasinya. Meskipun kondisi Covid-19 tapi akan diurus secepatnya. Bila Pak Alex bisa lolos di fit and proper test maka bisa dilantik sebagai Dirut dan Pak Izhak akan kembali aktif tapi sebagai Direktur Kepatuhan. Pak Hila dan Pak Umbu akan bergeser juga Pak Hila direncakan diposisi Direktur Umum dan Pak Umbu di Direktur Kredit," paparnya.
Juvenile percaya bahwa keputusan ini keputusan yang terbaik. Menurutnya, pemegang saham ingin menaruh orang yang tepat di posisi yang tepat. Dewan Komisaris juga sudah bisa memetakan kemampuan direksi.
"Kami menjamin kalau semua direksi profesional dan bekerja luar biasa. Kami berharap dengan ini lebih solid lagi Bank NTT ke depannya, apalagi kita berhadapan dalam era Covid-19, dimana terjadi banyak restruktur kredit dan sebagainya. Kami juga tetap harus bertumbuh," ujarnya.
Ia mengatakan, PSP mengingatkan Plt Dirut untuk menekan NPL karena sudah mencapai angka 4. "Kalau NPL bisa di-recover, semoga laba bisa meningkat," harapnya.
Juvenile menyebut Cabang Bank NTT penyumbang NPL terbesar, yaitu Bank NTT Cabang Surabaya sekitar dua digit.
"Cabang Surabaya sudah tidak boleh lagi memberikan kredit. Bahkan kantornya sudah dikecilkan, karyawan ada yang mengundurkan diri, dirumahkan dan dirotasi," kata Juvenile.
Kaget
Sementara itu, Alexander Riwu Kaho mengaku kaget mendapat kepercayaan menjadi Plt Dirut Bank NTT. "Rasa kaget. Terkejut saja karena tidak menduga jika dinamika RUPS LB akan sampai hal ini. Saya juga tidak pernah ditanya kesiapan atau tidak, namun sebagai abdi, mau tidak mau, suka tidak suka," tulis Alex dalam pesan WhatsApp yang dikirim kepada Pos Kupang, Kamis (7/5).
Ia berjanji akan bekerja secara profesional. "Banyak tantangan dan tugas berat maka wajib untuk taat melaksanakan tugas secara profesional," katanya.
Emeritus Komisaris Independen Bank NTT, Piet Elias Jemadu mengatakan, pemegang saham ikut bertanggung jawab terhadap kinerja perbankan. Tanggung jawab pemegang saham itu sepanjang posisinya sebagai pemegang saham, setahun sekali mengetahui hasil dari kinerja.
Mengenai target laba Rp 500 miliar, Jemadu menilai Ishak Rihi selaku Dirut terlalu berani karena sebelum adanya wabah Covid-19, sudah ada tanda-tanda tantangan ekonomi.
"Targetnya terlalu tinggi. Pemegang saham memang minta tantangan seperti itu tapi kan harus dijawab oleh direksi secara rasional. Saya dengar ini di bawah laba tahun 2018 sekitar 200-an miliar, kurang lebih 50 persen saja," kata Piet Jemadu menanggapi pencopotan Ishak Rihi.
"Saya kira para pemegang saham sudah melakukan pencermatan secara baik dengan coba melakukan pergeseran ini sekaligus juga untuk penyegaran ditengah tantangan ini. Harus ada semangat baru dan totalitas baru untuk bank ini survive dimasa krisis dan bisa bangkit setelah krisis ini lewat," tambahnya.
Ia yakin Ishak Rihi legowo dengan keputusan yang dibuat. Selain itu, siap mem-back up Plt Dirut Bank NTT yang baru. "Saya yakin keputusan pemegang saham ini semata-mata untuk kepentingan perseroan atau usaha bank itu sendiri."
Jemadu mengingatkan kekompakan pengurus, soliditas.
Dan, juga harus memahami dan mendengar pimpinan cabang. Menurutnya, ujung tombak di medan tempur perbankan adalah pimpinan-pimpinan cabang dan juga kepala-kepala divisi bersama eksekutif perbankan.
Terkait komisaris yang tidak dicopot, Jemadu mengatakan, pemegang saham memegang kendali untuk melakukan evaluasi setelah menilai kinerja komisaris.
Ia berharap tidak ada pihak yang menciptakan kegaduhan. Semua harus komando lurus kepada keputusan pemegang saham. (yen/cr4)