WVI NTT Temukan Dampak Corona yang Mencengangkan Terhadap Anak-Anak di NTT
WVI Temukan Berbagai Dampak Corona atau Covid-19 yang mencengangkan Terhadap Anak-Anak Di NTT
Penulis: OMDSMY Novemy Leo | Editor: OMDSMY Novemy Leo
Data 2019 menyebutkan, hanya 47.84% anak-anak di NTT yang memiliki akta kelahiran, sehingga berdampak pada akses anak-anak untuk mendapatkan jaminan perlindungan sosial.
Di tengah kebijakan stay at home, kondisi orangtua yang kesulitan bekerja dapat meningkatkan resiko anak anak pada kerawanan pangan, situasi malnutrisi, dan penelantaran.
"Dengan berbagai latar belakang tersebut, kami melakukan respon di 18 kabupaten/kota di NTT, meliputi tindakan pencegahan penularan Covid-19 serta akses ke perawatan dan pengobatan, memastikan sistem pengasuhan anak-anak berjalan baik selama pandemi atau jika orangtuanya terinfeksi, dan melakukan advokasi untuk memastikan keluarga yang rentan menerima dukungan pemerintah sesuai dengan standar dan prinsip hak anak," kata Eben Ezer Sembiring.
Bagaimana peran WVI, Ezer Sembiring mengatakan, untuk tahap awal, dari bulan April hingga September 2020 atau selama 6 bulan, WVI di NTT telah mengalokasikan dan akan mengelola dana dimaksud untuk melakukan berbagai program.
Dana itu diperuntukkan bagi berbagai program, antara lain penyediaan 813 fasilitas cuci tangan dengan sabun, mendistribusikan APD standar Covid-19 untuk 653 tenaga kesehatan.
Adapun bantuan non tunai diberikan kepada 2.507 keluarga yang paling rentan. Sosialisasi juga terus dilakukan sebagai upaya edukasi mengenai Covid-19.

Selain itu, paket kebersihan juga diberikan untuk 6,843 keluarga yang memiliki balita atau yang terdampak Covid-19.
"WVI juga mengembangkan kegiatan rekreasi dan dukungan materi pembelajaran baik offline maupun online untuk anak-anak di rumah, serta pelatihan psikososial untuk para tokoh agama dalam mendukung masyarakat selama masa pandemi," kata Ezer Sembiring.
Upaya bersama para pihak terkait juga terus dilakukan WVI untuk dapat menolong anak-anak agar dapat terus bertumbuh dan berkembang dengan baik.
Lebih lanjut WVI mengatakan, pandemi Covid-19 juga dapat memicu anak mengalami kekerasan.
Kekerasan itu diantaranya kekerasan akibat perilaku salah dalam mendampingi anak belajar di rumah, maupun kekerasan akibat tidak seimbangnya relasi anak dan orang dewasa dengan keterbatasan kemampuan orang dewasa dalam mengelola emosi, maupun kondisi kerentanan yang lain seperti kerentanan pada tindakan kekerasan seksual ataupun fisik.
Karenanya WVI terus mendorong dan bekerjasama dengan pemerintah dan lintas sektor untuk memastikan anak-anak dan masyarakat pada umumnya memiliki pengetahuan dan informasi yang benar terkait Covid-19.
"Dengan demikian setiap orang bisa memiliki kapasitas untuk melakukan pencegahan secara mandiri, maupun berkoordinasi dan bekerjasama dengan sektor terkait untuk mengurangi dampak bagi anak dan keluarga secara baik sosial, psikologis, ekonomi, pendidikan, kesehatan maupun kerentanan dalam persoalan perlindungan anak," jelas Ezer Sembiring.

Selain itu WVI juga memberikan rekomendasi kepada para pihak terkait untuk dapat melakukan beberapa hal sebagai berikut:
Pertama, Memperluas program perlindungan sosial yang dapat menjangkau anak-anak yang paling rentan