VIDEO – Pelaku Perjalanan di Sumba Timur 3.730 Orang, Terkait Covid-19
VIDEO – Pelaku Perjalanan di Sumba Timur 3.730 Orang, Terkait Covid-19. Jumlah ini diumumkan Kepala Dinas Kesehatan dr. Chrisnawan Try Haryantana.
Penulis: Oby Lewanmeru | Editor: Frans Krowin
VIDEO – Pelaku Perjalanan di Sumba Timur 3.730 Orang, Terkait Covid-19
POS-KUPANG.COM, WAINGAPU - Pelaku perjalanan di Kabupaten Sumba Timur sampai saat ini sebanyak 3.730 orang. Dari jumlah tersebut, 1.967 orang masih melakukan karantina mandiri.
Hal ini disampaikan Kepala Dinas Kesehatan, Sumba Timur, dr.Chrisnawan Try Haryantana, saat Jumpa pers berlangsung di Posko Percepatan Penanganan Covid-19 Sumba Timur, Jumat (24/4/2020) malam.
Saat itu ia didampingi Didampingi Direktur RSUD Umbu Rara Meha Waingapu, Lely Harakai M. Kes, dr. Anri Widyawati Sp.Paru, Kabid P2P Dinkes Sumba Timur, Jonker H.A. Telnoni SKm.
Menurut Chrisnawan, demikian dr.Chrisnawan Try Haryantana biasa disapa, sesuai data, sejak 25 Maret 2020 hingga 24 April 2020, jumlah Pelaku Perjalanan Dalam Pemantauan, PPDP di Kabupaten Sumba Timur sebanyak 3.730 orang.
"Dari jumlah itu, yang masih dipantau,1.967 orang dan yang sudah selesai dipantau 1.763 orang," kata Chrisnawan.
Dia menyebutkan, saat ini orang dalam pemantauan, ODP di Sumba Timur sebanyak 136 orang. Yang telah selesai dipantau sebanyak 87 orang, sehingga jumlah ODP saat ini sebanyak 49 orang.
Sedangkan, jumlah PDP di Sumba Timur sebanyak 2 orang yang mana saat ini sedang menjalani perawatan di RSUD Umbu Rara Meha.
"Kalau orang tanpa gejala (OTG) yang ada di Sumba Timur ada 4 orang dan saat ini masih dalam pemantauan," ujarnya.
Pada kesempatan itu, Chrisnawan juga mengatakan, dari hasil Rapid Test terdapat enam orang positif atau reaktif Covid-19.
“Tapi pemeriksaan swab belum ada hasil, karena kami baru kirim sampelnya ke Surabaya," kata dr. Chrisnawan.
Dia menjelaskan, rapid test itu belum bisa dinyatakan positif, karena harus ada pemeriksaan lanjutan berupa pemeriksaan swab.
Hasil positif rapid test tidak serta merta menyimpulkan seseorang itu menderita Covid-19.
"Kami sampaikan ini agar tidak ada diskiriminasi penolakan terhadap orang yang dirapid test. Meskipun rapid test tidak dipakai, tapi pemeriksaan ini dibutuhkan juga dalam rangka memutuskan mata rantai Covid-19," katanya.
Dikatakan, dari enam pelaku perjalanan yang reaktif itu, lima orang dari Grogol, Jakarta. Sedangkan satu orang juga adalah warga Sumba Timur tapi karena dari Jakarta dan saat ikut rapit test, ternyata positif.