Desa Pesisir Ile Ape Rawan Jadi Pintu Masuk Perantau Selama Masa Pandemi Corona

Desa pesisir Ile Ape rawan jadi pintu masuk perantau selama masa pandemi virus corona

Penulis: Ricardus Wawo | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM/Frans Krowin
Camat Nubatukan, Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Stanislaus Kebesa Langoday 

POS-KUPANG.COM | LEWOLEBA - Pemerintah Kabupaten Lembata resmi memberlakukan pembatasan transportasi reguler lokal dari dan menuju beberapa daerah di Kabupaten Flores Timur. Kebijakan ini dilakukan sebagai upaya mencegah penyebaran virus corona ( Covid-19) di Kabupaten Lembata.

Meski demikian, beberapa desa pesisir di Kecamatan Ile Ape masih rawan menjadi pintu masuk orang dari luar Lembata. Pemda Lembata memutuskan semua kapal penumpang yang melayani penyeberangan dari Adonara dan Larantuka dapat beroperasi dua minggu sekali sejak 6 April Lalu.

KPUD Lembata Tetapkan 82.338 Pemilih Periode Maret 2020

Camat Ile Ape, Stanislaus Kebesa Langoday mengatakan Desa Palilolon dan Desa Kolipadan merupakan dua desa yang jadi akses keluar masuk orang dari Lembata.

"Dari 17 desa pesisir di Ile Ape itu yang agak rawan di Palilolon dan Kolipadan karena dia berhadapan dengan Desa Waiwuring, Kecamatan Witihama (Flores Timur). Dua tiga hari lalu memang kecolongan lewat Desa Palilolon," kata Stanislaus ketika dihubungi Sabtu kemarin (11/4/2020).

Dia menyebutkan seorang mahasiswa di asal Desa Boto yang kuliah di Yogyakarta masuk melalui Desa Palilolon. Sementara itu, seorang pelajar asal Kolipadan yang menempuh pendidikan pasantren di Pasuruan, Jawa Timur menyeberang dari pelabuhan Waiwuring, Pulau Adonara Flores Timur.

Di Tengah Marak Penyebaran Corona, Ini Cara Pemilik Rumah Makan Pondok Raos Terus Berusaha

"Kita lakukan pendampingan kemarin dan petunjuk bapa bupati (Bupati Lembata, Eliyaser Yentji Sunur) kita tetap pantau," urai Stanislaus.

Bahkan Stanislaus mengatakan masih ada warga yang menyeberang dari Adonara nekat menipu petugas di Posko Covid-19 di desa yang dilalui.

"Tadi malam juga masih ada yang kecolongan. Informasinya dari Desa Palilolon bahwa juga ada yang keluar dari Waiwuring tetapi lewat Kolipadan. Ketika datang di Posko Dulitukan, yang pengojek ini bilang mereka dari Palilolon padahal Palilolon ini terjaga ketat oleh hansip. Sementara yang dibonceng ini adalah orang Kolipadan sehingga kami sedang konfirmasi," ungkapnya.

Stanislaus berharap Pemda Flotim bisa memperketat wilayah perbatasan antara Waiwuring, Adonara dan wilayah tanjung kecamatan Ile Ape.

"Saya tadi WA dengan Pak Sekda (Sekda Lembata, Paskalis Tapobali) mohon petunjuk apa bisa Pemda Lembata menyurati Pemda Flotim supaya memperketat di wilayah batas Adonara, Waiwuring supaya jangan sampai kita kecolongan di situ," kata Stanislaus.

Dengan kejadian ini, dia yakin bahwa tim di posko-posko Covid-19 di desa-desa pesisir lebib memperketat pengamanan di pintu masuk dan keluar. Camat Ile Ape bersama Kapospol Ile Ape juga bersepakat akan menindak tegas kapal (body) yang masih nekat menyeberangkan penumpang lewat dua jalur ini.

"Entah body dari Waiwuring atau body dari kita punya wilayah tetap kami tahan," tegasnya. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ricko Wawo)

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved