Inspirasi dari Seminari Mataloko

Mereka mesti segera mengambil keputusan penting mengenai nasib peserta didik setelah masa belajar di rumah berakhir pada 21 April 2020 nanti.

Penulis: Dion DB Putra | Editor: Bebet I Hidayat
POS KUPANG/ROMUALDUS PIUS-
Siswa SMAK Syuradikara Ende sedang mengikuti kegiatan karnaval, Jumat (18/8/2017). 

Persis sebagaimana dikatakan pimpinan Seminari Mataloko Romo Gabriel Idrus, Pr dalam suratnya kepada para orangtua seminaris 30 Maret 2020 bahwa kepulangan para siswa ke rumah saat ini bukanlah dalam rangka liburan.

Kepulangan para siswa sama sekali tidak menghentikan seluruh proses pendidikan para calon imam Katolik itu. Tempatnya saja yang berpindah. Proses pendidikan bergulir di dalam rumah dan keluarga para seminaris itu sendiri.

Romo Gabriel mengatakan, hal-hal yang menyangkut biaya sekolah dan asrama, khususnya selama semester berjalan ini sedang dalam kajian dan disampaikan pada waktunya.

Bagaimana Sekolah Lain

Langkah inspiratif dari seminari adalah pulangkan siswa ke rumah orangtua pada saat yang tepat dengan mengikuti seluruh standar protokol kesehatan dan mereka baru kembali ke seminari setelah situasi aman dari Corona. Opsi tersebut paling realistis di tengah kepungan wabah Covid-19 yang sangat mematikan.

Mengapa sekolah lain baik negeri maupun swasta seperti SMAK Syuradikara tidak menempuh langkah serupa? Demikian pula sekolah di Provinsi Bali serta daerah lainnya di negeri ini.

Jadi, tak mesti tuan dan puan menanti pengumuman terbaru dari pemerintah apakah masa bekerja dan belajar dari rumah akan berakhir 21 April 2020 atau diperpanjang lagi.
Ketuk palu sekarang juga seperti aksi cepat seminari di atas. Sejumlah pesantren di Pulau Jawa pun sudah mengambil langkah serupa.

Toh di NTT dan Bali, misalnya, durasi masa tanggap darurat Covid-19 yang ditetapkan gubernur sama yaitu sampai akhir bulan Mei mendatang.

Di NTT Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat menetapkan masa tanggap darurat tanggal 1 April hingga 30 Mei 2020. Di Bali Gubernur Wayan Koster menetapkan tanggal 31 Maret hingga 29 Mei 2020.

Selama masa tanggap darurat masyarakat mestinya tetap menjauhi kerumunan dan jaga jarak aman (physicial distancing). Lalu mengapa para siswa harus kembali ke sekolah?

Biarkanlah anak-anak kita belajar di rumah saja sampai semester ini bertepi. Tentu dengan kerendahan hati menerima segala risiko dan konsekwensinya. Belajar online jelas tidak ideal. Banyak faktor yang mempengaruhinya.

Anak-anak di pedalaman Flores, Sumba dan Timor yang fakir sinyal internet, pulsa data sulit diperoleh pasti belajar dari rumah tidak berjalan sebagaimana harapan. Tak semua siswa dan orangtuanya memiliki hp android.

Tapi sudahlah. Covid-19 merupakan peristiwa luar biasa. Extra ordinary sehingga perlakuanya pun harus luar biasa pula. Relakan siswa-siswi “angkatan Corona 2020” tamat sebelum waktunya. Naik kelas atau naik tingkat sebelum jatuh tempo semester. Tanpa melalui ujian pula.

Ya rejeki mereka yang akan dikenang seumur hidup. Anak-anak angkatan ini akan mengenang selalu bahwa mereka mengalami sampar yang menelan korban tak sedikit.

Kabut duka menudungi dunia yang muram berbulan-bulan. Hampir semua negara terkena dampaknya. Air mata mengalir di mana-mana.

Halaman
1234
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved