Inspirasi dari Seminari Mataloko

Mereka mesti segera mengambil keputusan penting mengenai nasib peserta didik setelah masa belajar di rumah berakhir pada 21 April 2020 nanti.

Penulis: Dion DB Putra | Editor: Bebet I Hidayat
POS KUPANG/ROMUALDUS PIUS-
Siswa SMAK Syuradikara Ende sedang mengikuti kegiatan karnaval, Jumat (18/8/2017). 

Seminari Mataloko pun mengambil langkah lekas.

Pada 19 Maret sore diadakan tapat terbatas antara Pimpinan dan Staf Seminari, Ketua Yasukda (RD. Silvester Betu), Perwakilan Komite Sekolah (Niko Noywuli, Selestinus Djawa, Gerardus Reo), Peduli Pendidikan (Trisno Hurint), dan Konsultan Kesehatan (dr. Yovita M.B.M. Due, MM – Ketua IDI Ngada).

Berdasarkan rapat tersebut, Praeses Seminari Mataloko Romo Gabriel Idrus, Pr mengeluarkan Surat Pemberitahuan tertanggal 20 Maret 2020, berisikan 10 butir keputusan, yang pada intinya merumahkan para siswa seminari dengan cara karantina penuh di asrama seminari, terhitung sejak 20 Maret sampai 4 April.

Surat dilengkapi panduan praktis pencegahan penularan Covid-19 di seminari.

Menurut Romo Nani, pada hari itu juga gerbang-gerbang seminari dikunci. Seluruh penghuni seminari dilarang keluar kompleks, kecuali untuk urusan kesehatan dan makan minum siswa, yang personelnya telah ditentukan dan dijamin keamanan dan kerbersihannya.
Masyarakat luar, termasuk para guru dan pegawai, dilarang memasuki kawasan seminari.

Empat hari berselang, 24 Maret 2020, terbit Surat Edaran dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, Nadiem Makarim yang intinya meniadakan Ujian Sekolah, Ujian Nasional (UN) dan Ujian Kenaikan Kelas. Semua kegiatan yang bersifat mengumpulkan siswa dilarang.

Kalau keputusannya demikian, apakah seminari masih tetap melaksanakan karantina penuh untuk para penghuninya? Dan sampai kapan? Bisa berbulan-bulan. Penuh ketidakpastian.

Maka, Selasa 24 Maret 2020 malam, kata Romo Nani, para staf seminari menyelenggarakan rapat dadakan menindaklanjuti Surat Edaran Menteri dan berbagai situasi yang begitu cepat berubah.

Malam itu diputuskan, para siswa tingkat SMP dan SMA yang jumlahnya hampir 600 orang harus segera dipulangkan ke rumah masing-masing.

Pemulangan tersebut harus sesuai standar protokol kesehatan dan melibatkan banyak pihak terkait. Singkat cerita para siswa seminari pulang ke rumah orangtuanya tanggal 26-28 Maret 2020. Ada yang ke Kupang, Ende, Ngada, Nagekeo, Sikka, Flores Timur hingga Lembata.

“Sore dan malam hari, kami mendapat berita, para siswa telah tiba dengan selamat, dan sehat walafiat. Dari Kupang, Larantuka, Maumere, Ende, Nagekeo, dan tentu Bajawa dan sekitarnya. Syukur pada Tuhan,” kata Romo Nani. Yang tinggal di seminari sekarang para pembina, para frater dan satu siswa asal Papua.

“Saat saya membuat catatan ini, Kamis, 26 Maret 2020 malam, suasana sepi. Hanya terdengar lolongan anjing. Kemudian sunyi,” demikian Romo Nani. Romo terkenang krisis yang melanda seminari ini pada masa Perang Dunia II (1939-1945).

Dulu proses pembelajaran pun terhenti untuk jangka waktu panjang. Tapi ada hal berbeda. Saat itu para siswa ditinggalkan di seminari. Sebagian besar imam dan bruder yang menangani seminari diinternir. Kini sebaliknya siswa yang tinggalkan seminari. Yang bertahan para romo, frater dan seluruh staf pengajar.

Kapan para siswa boleh pulang ke seminari? Romo Nani Songkares menjawab tegas bahwa akan disampaikan pada waktunya. Tentu ketika pandemi Covid-19 benar-benar telah berlalu.

Mungkin 3 sampai 4 bulan lagi. Yang pasti sampai akhir semester ini mereka belajar dari rumah dan tetap dalam pantauan.

Halaman
1234
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved