Jalan Sabuk Merah Menunjang Aktivitas Ekonomi Masyarakat Perbatasan RI-RDTL

Masyarakat benar-benar merasakan dampaknya dari pembangunan jalan sabuk merah sebagai urat nadi perekonomian.

POS KUPANG.COM/TENI JENAHAS
Kondisi jalan sabuk merah di wilayah Makir, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu saat diabadikan, Rabu (18/3/2020). 

Jalan Sabuk Merah Menunjang Aktivitas Ekonomi Masyarakat Perbatasan RI-RDTL

POS-KUPANG.COM| ATAMBUA---Masyarakat Kabupaten Belu, khususnya yang tinggal persis di garis perbatasan negara Indonesia dan Timor Leste merasa bangga dengan keberadaan jalan sabuk merah.

Jalan sabuk merah sepanjang 176,19 kilometer dari Motaain, Kabupaten Belu hingga Motamasin, Kabupaten Malaka itu sangat menunjang aktivitas ekonomi, pendidikan, hingga sosial budaya masyarakat di wilayah perbatasan RI-RDTL.

Mobilitas masyarakat antar wilayah desa, kecamatan dan ke pusat kota kabupaten menjadi lancar. Pengangkutan hasil bumi dari desa ke kota semakin mudah. Biaya transportasi lebih hemat.

Hal ini disampaikan warga Desa Makir dan Desa Mahuitas yang ditemui POS KUPANG.COM, Rabu (18/3/2020). Mereka adalah Markus Bere, Nadus Mali, Bonefasius Bere dan Siprianus Mau.

Mereka mengatakan, sebelum jalan sabuk merah dibangun, akses transportasi tidak lancar. Masyarakat jarang berpergian keluar wilayah karena keterbatasan sarana transportasi, waktu perjalanan lama dan biaya transportasi besar.

"Jangankan ke Kota Atambua, ke desa-desa tetangga saja rasanya jauh sekali. Dulu kita susah sekali. Tapi sekarang bersyukur jalan sudah bagus", ungkap Markus diamini beberapa warga.

Warga lainnya, Siprianus Mau mengatakan, jalan sabuk merah di wilayah mereka sudah dibuka sejak tahun 2016 namun baru di hotmiks tahun 2019. Setelah jalan sudah kondisi bagus, masyarakat sudah sering ke kota untuk menjual hasil bumi seperti kemiri. Masyarakat bisa berbelanja di kota kabupaten.

Masyarakat benar-benar merasakan dampaknya dari pembangunan jalan sabuk merah sebagai urat nadi perekonomian.

Pantuan POS KUPANG.COM, Rabu (18/3/2020) dilakukan di beberapa kampung diantaranya, Builalu-Makir-Busabere-Bora-Isilala-Kewar-Duarato-Nualain.

Ruas jalan sabuk merah tampak mulus dan badan jalannya lebar hampir enam meter. Ada beberapa titik di daerah rawan longsor belum di hotmiks. Kemudian, bangunan pelengkap seperti drainase, tembok penahan badan jalan, tembok penahan tebing belum dibangun.

Cegah Corona, Kemenag Flotim Berlakukan Absensi Manual

Cegah Corona, Seluruh Lapas dan Rutan di NTT Batasi Kunjungan

Kondisi ini cukup rawan dan berpotensi menimbulkan bencana longsor. Selain itu, pagar keselamatan pengguna jalan dan rambu-rambu belum dipasang. (Lapora Reporter POS KUPANG.COM,Teni Jenahas).

Penulis: Teni Jenahas
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved