Puisi

Puisi-Puisi Edisi Minggu Pos Kupang, Jangan Lewatkan Ya!

Puisi Romy Sogen: Jumpa dalam Jalan Salib. Puisi Itho Halley: Surat dari Seberang.

Puisi-Puisi Edisi Minggu Pos Kupang, Jangan Lewatkan Ya!
ilustrasi/pos-kupang.com
Pohon Kasuari dan Lelaki Kurus1 

Puisi Romy Sogen
Jumpa dalam Jalan Salib

Mengapa harus secepat ini?
Bahkan rindu kita belum terurai jadi jumpa yang paling bahagia.
Mengapa harus seperti ini?
Bahkan kasih kita belum ditenun jadi saputangan yang paling rapi susunan benangnya
IbuMu belum bisa menerima kenyataan ini
Serumit inikah beban yang harus ibu terima?
Ibu hanya mampu menerima dengan air mata,
sepedih inikah duka ibu?
Ibu telah berkorban menahan sakitnya melahirkan hanya demi menyelamatkan nyawaMu saban hari sehingga separuh masa kecilMu terkenang di negeri Firaun.
Lalu segampang ini mereka mengadiliMu?

Ibu kita tak bisa melawan takdir
Bukankah deritaku membawa hikmah?
Mereka tak tahu sebabnya ibu
Mereka tak tahu beban apa yang kupikul
Bahkan hingga detik ini mereka dengan tetek-bengek bersoal kalau Aku yang bersalah atas mereka. Benarkah Ibu?

Setidaknya mereka paham SabdaMu
Setidaknya mereka mengerti ada dari yang tiada...
Atau bisa jadi mereka kehabisan kata.
Semoga tidak.
Ibu masih tegar walau raga ini bergetar, mau mati rasanya...
Nak kalau sampai di penghujung Golgota jangan lupa menangis lagi, biar mereka tahu kalau air mataMu tulus.
Semoga mereka paham kalau air mata bukan milik perempuan...

Cerpen Sersi Lani Nitbani: Pohon Tua dan Roh Pemanggil Dewa

Unipa Maumere Tunda Seminar Nasional dengan Kemenko Polhukam dan Perjalanan ke Jawa

Cerpen Sersi Lani Nitbani & Leon Hali Leon: Pohon Kasuari di Napjam dan Lelaki Kurus

Puisi Itho Halley
Surat dari Seberang
1//

Sepucuk surat kumal yang kuterima dari sebrang
Bertuliskan alamat rumah kami lengkap
dengan jalan dan nomor rumahanya
tercantum nama penulis yang ditulis lebih kecil dari ukuran dasar
tidak salah lagi ini surat dari ibuku yang hampir sepaluh tahun merantau ke seberang sana
katanya sebelum tersenyum dan pamit pada malam terakhir mendongeng dan adik perempuanku nyaman di pangkuan ibu yang masih cantik saja dengan dua lesung pipinya

2//
Bertuliskan nama Febronia, keterangannya negeri sebrang sini
pada suatu malam yang suntuk bulan yang malang di makan rayuan dan hati yang bersalah
sudah mau pergi
Begini isi surat suara hati dari ibuku Febronia:
"Nak, dongeng Isabela malam itu kelabu sekali
Malam gelap tidak ada bulan dan bintang di langit buat kita
Ibu menjanjikan setelah setahun mengirim boneka Isabel buat adikmu yang suka sekali
pada Putri cantik Isabel karena terharu dan malah berulangkali ia mengutuk tuanya yang kejam
Atau kamu yang minta dibelikan sepatu baru sebab yang lama kulitnya di makan tikus di rumah bukan tikus-tikus yang tegah-tegahnya pada nasib ibu dan teman-teman ibu di sebrang
sini
Maaf nak malam-malam ini selalu kelabu dan air mata lirih turun membasahi tubuh
Ibumu yang malang sekali sampai tak punya cukup waktu dan uang buat kado yang sudah ibu janjikan untuk kamu berdua buah hatiku
Hari-hari ibu adalah derita seorang wanita malam yang tubuhnya dilucuti banyak tubuh yang rakus sekali memandang tubuh ibu ataupun majikan yang senang sekali memberi
makanan buat ibu seperti makanan si keti anjing peliharaan almarhum ayahmu di rumah
Nak, kini petaka melanda tubuh ibu diseberang sini yang luruh penuh sesal
Jangan lupa sebelum doa tidurmu panjatkan sedikit permohonan buat wanita-wanita malam
yang malang di seberang sini sehingga Tuhan kita sendiri memeluk hangat dekapan
saat dingin yang melanda tubuh-tubuh yang dijual ataupun melimpahakan rejeki di tanah
sendiri agar bibi, emak, tante, adikmu perempuan dan teman-teman sebayanya tidak terbuai
tipu daya surga yang dijanjikan di seberang sini.
Febronia,
Seberang, tepat malam setelah pertemuan kutitipakan surat ini yang belum kelar buat dua
buah hatiku".
(Mikhael, 17/02/20)

Rencana Penutupan Perbatasan NTT-Timor Leste, Ini Pendapat Konsulat Indonesia di Oekusi

Doa Seorang Pemuda untuk Ibu Pertiwi

Doa seorang pemuda jalanan buat ibunya:
Tuhan,
Doa ini untuk ibuku yang sering-sering sakit
Tolong sisikan rejekimu sedikit buat kemiskinan kami
Karena aku takut kalau mendadak ibuku jatuh sakit lagi
(Mikhael, 16/10/19)
(Itho Halley. Bergiat di kelompok Sastra Kotak Sampah, Nenuk. Sekarang tinggal di Unit Mikhael, Ledalereo).

Puisi-Puisi Roberth Setiawan
Terang

Malam hampir tiba
Kunang-kunang menari mencari
Dedaunan yang sepi sendiri
Tampak dari kejauhan tangan
Melambai-lambai dari kejauhan
Kunang-kunang berteriak menyemburkan cahaya
"teruskan, aku butuh terang di hatiku yang suram".
(Puncak Scalabrini, 22 Februari 2020)

Update Virus Corona - Pasien Kasus 01, 02 dan 03 Sudah Sembuh, Ini Permintaan Mereka Usai Diisolasi

Di Sudut Jendela

Saat teman-temanku bertanya
"di mana tempat terbaik yang biasa kau kunjungi?"
"sudut jendela", jawabku
Sudut menyandarkan segala mimpi
Jendela tak berkerangka membuka mata
Berdiam sendiri
Melihat hiruk pikuknya dunia.
(Puncak Scalabrini, 22 Februari 2020)

Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved