Minggu, 26 April 2026

Tarian Etnik Nagekeo Sambut Raja-Ratu Belanda di Istana Bogor

CUACA yang relatif cerah menyambut kedatangan Raja Belanda Willem Alexander dan Ratu Belanda Maxima Zorreguieta Cerruti di Istana Bogor

Editor: Kanis Jehola
ISTIMEWA
Para penari bersama usai tampil di Istana Bogor, Selasa (10/3). Mereka didampingi Embu Agapitus, tokoh masyarakat Nagekeo yang juga Kepala Staf Komando Garnisun Tetap II Bandung. 

POS-KUPANG.COM - CUACA yang relatif cerah menyambut kedatangan Raja Belanda Willem Alexander dan Ratu Belanda Maxima Zorreguieta Cerruti di Istana Bogor, Selasa (10/3) sekitar pukul 10.30 WIB.

Keduanya datang ke Indonesia atas undangan Presiden Joko Widodo. Kedatangan raja dan ratu ini mendapat sambutan yang luar biasa meski tetap dalam pengawalan yang ekstra ketat. Di sana, di Istana Bogor itu sebanyak 22 orang perempuan dengan busana khas Nagekeo menyambut kedatangan tamu istimewa ini dengan tarian khas Nagekeo, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.

Raisa: Takut Juri

Tentu saja sang raja dan ratu ini gembira. Hati keduanya sungguh terpaut menyaksikan tarian Sa Fai ini. Sesekali Raja Willian dan Ratu Maxima menebar senyum, seakan menikmati lenggak-lenggok para penari.

Sanggar Kotakeo yang menampilkan tarian Sa Fai itu merupakan satu di antara komunitas tari asal Flores di Jakarta yang lolos seleksi oleh Staf Protokol Kenegaraan. Tentu saja tak gampang untuk mendapatkan kesempatan tampil di istana negara. Bersama grup musik Keroncong Toegoe dan siswa-siswi pembawa bendera penyambut tamu negara, tampil memesona di pelataran Istana Bogor.

TNI Tingkatkan Kesadaran Siswa-Siswi di Perbatasan untuk Jaga Kesehatan

Atas prakarsa putera terbaik Flores, Marsekal Pertama TNI Epi Embu Agapitus asal Ladolima, Nagekeo, sanggar seni besutan Kayetanus Feto itu menampilkan kearifan lokal Flores di hadapan Raja dan Ratu Belanda serta Presiden Jokowi dan para tamu undangan.

Sa Fai merupakan tarian yang dipersembahkan saat menyambut tamu agung (VVIP) dan syukuran panen. Tarian tersebut sangat merakyat. Hampir semua orang Nagekeo akrab dengan tarian tersebut.

'Sa' artinya 'khas' atau 'hanya'. Sedangkan 'fai' artinya 'wanita.' Lazimnya, para wanita yang membawakan tarian tersebut. Dengan iringan lima gong dan beberapa gendang (laba meze/ gendang mayor) dan laba toka (gendang minor) turut menambah semarak alunan musik etnik khas Nagekeo dalam satu ensemble musik.

Pembawa tarian mayoritas mahasiswi asal Nagekeo di Jabodetabek, selain pekerja swasta. Penabuh gong dan gendang pun demikian. Saking mencintai budayanya sendiri, maka Koordinator Umum Penari Istana Bogor, Robert Eppe Dando tak kesulitan memertemukan mereka dalam satu even bersejarah ini, yang mungkin saja sekali seumur hidup.

Marsekal Pertama Embu Agapitus yang juga Kepala Staf Komando Garnisun Tetap II Bandung (Kaskogartap) mengatakan, dengan hadirnya tarian etnik Nagekeo, Flores di Istana Bogor memberi rasa bangga tiada nilai.

Marsekal Embu Agapitus mengatakan, tarian ini sebagai harta kultural dari masyarakat NTT, khusus dari Nagekeo yang patut dilestarikan. Dengan demikian, milenial Flores semakin mencintai budayanya dan memerkenalkannya kepada dunia luar bahwa betapa kayanya harta kearifan lokal yang selama ini terkubur di Bumi Nagekeo.

Wujud nyata kepedulian kultural lainnya, yakni Marsekal Embu Agapitus yang adalah Perwira Tinggi TNI turut membaur dalam barikade penari sebagai penabuh gong, hal yang tak lazim dilakukan oleh Perwira Tinggi TNI.

Paduan corak busana etnik Nagekeo dalam kombinasi warna kuning dan hitam turut melengkapi kekayaan budaya Nusantara yang beragam yang merupakan seni meniru dari indahnya alam yang kaya warna (ars imitatio naturae).

Kunjungan yang telah lama direncanakan ini menjadi momentum khusus saat dunia tengah dilanda wabah virus corona, termasuk Indonesia.

Kunjungan ini diikuti delegasi beranggotakan empat menteri dan sekitar 200 pengusaha dari Belanda dengan fokus kerja sama di sektor ekonomi, pengembangan sumber daya manusia

Pada sesi akhir kunjungan kenegaraan Raja dan Ratu Belanda, Sanggar Kotakeo diminta tampil lagi di sayap kiri pelataran untuk mengantar tamu negara menuju beberapa kota lain di Indonesia.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved