Cerpen

Cerpen Petrus Nandi: Memoar Ayah dan Batu Tua

Mentari pagi menyapa dari ufuk timur. Berkas-berkas sinarnya menyelinap di sela dinding rumahku yang terbuat dari papan.

Cerpen Petrus Nandi: Memoar Ayah dan Batu Tua
ilustrasi pos kupang
Rinai Hujan dan kesementaraan

Semuanya menjelma hutan lebat. Lalu kualihkan pandangan ke arah batu tua itu. Ia tidak sekokoh dulu lagi. Banjir yang melintas di sungai ini pada musim-musim hujan 18 tahun belakangan ini telah mengalirkan tanah dan pasir hingga menguburkan sebagiannya. Rumput-rumput kecil tumbuh di atasnya. Tidak ada lagi darah, sehelai kecil rambut dengan kulit kepala ayah di sana. Waktu sudah berjalan tanpa kompromi sambil menghilangkan semuanya.

Kisah Haru Ojol Kupang, Antar Pesanan Makanan, Tak Disangka Cewek Lulusan Kebidanan Temui Hal Ini

Batu tua itu tak sekokoh dulu lagi. Kenangan tentangnya ialah butir-butir air yang mengalir dari kedua bola mata mungil seorang bocah kecil 18 tahun silam. Ingatan tentang batu tua itu ialah isak sendu anak pada tengah hari yang membahasakan perihnya takdir yang menindih, saat ia tak kuat menghadapi kenyataan hidup tanpa sosok ayahnya lagi.

Kini aku sudah dewasa dan mengerti bahwa tak selamanya aku harus merasa kehilangan ayah. Masih ada ibu yang menemani hidupku. Dan hari ini aku kembali melihat batu tua itu.

Aku menangis, tapi bukan lagi menangisi kepergian ayah. Aku menangisi nasib batu tua yang kini kian tenggelam dimakan tanah dan pasir sungai. 5 atau 10 tahun lagi ia pasti benar-benar hilang, dan aku tidak dapat lagi melihat bayangan ayah, duduk sambil menghisap rokok di atas permukaannya, sambil tersenyum dan memberi isyarat padaku bahwa semuanya akan baik-baik saja.
(Petrus Nandi, kelahiran Pantar-Lamba Leda, 30 Juli 1997. Penulis adalah mahasiswa STFK Ledalero).

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved