Cerpen

Cerpen Petrus Nandi: Memoar Ayah dan Batu Tua

Mentari pagi menyapa dari ufuk timur. Berkas-berkas sinarnya menyelinap di sela dinding rumahku yang terbuat dari papan.

Cerpen Petrus Nandi: Memoar Ayah dan Batu Tua
ilustrasi pos kupang
Rinai Hujan dan kesementaraan

"Andi, sini nak." Ibu memanggilku dari dapur. Pasti ada sesuatu yang harus aku kerjakan di sana. Dan ternyata benar. Ia memintaku menyiapkan bekal bagi ayah yang sebentar lagi berangkat ke kebun. Aku menyiapkan bekal ayah dengan rasa berat hati. Baru beberapa detik kugapai sebuah gelas minuman, tiba-tiba gelasnya jatuh. Mungkin ini efek dari kegelisahan hatiku. Atau mungkin ini pertanda kurang baik.

Aku makin gelisah. Ibu hanya tersenyum melihat aku memungut pecahan gelas minuman itu sambil memberikan gelas yang baru untuk disimpan dalam keranjang bekal ayah.

Setelah selesai membereskan kebun mini dekat rumah itu, ayah lekas berangkat ke kebun jagung yang letaknya 3 KM dari kampung. Baru beberapa langkah dari pintu rumah, aku mendekati dia. "Ayah,..." Aku menyebut kata ini dengan berat dan risau hati. Dia menimpaliku dengan senyum. Dielusnya sekali lagi kepalaku. Kali ini tanpa sepatah kata pun. Pesannya sudah jelas, bahwa hari ini semuanya akan baik-baik saja.
"Andi mau ikut ayah ke kebun."

Lydia Natalya Purba: Bekerja Bukan Karena Uang

"Nanti kamu menyusul saja, sama ibu. Ayah pergi duluan. Ok sobat?"
"Nanti kamu pergi sama ibu, nak. Kita akan menyusul ayah." Suara ibu menyambut dari dalam rumah. Aku pun menurutinya. Aku kembali ke dalam rumah, membantu ibu membereskan rumah. Ayah melanjutkan perjalanannya.

Setelah kurang lebih 4 jam berlalu, aku dan ibu berangkat menyusuli ayah ke kebun. Setibanya di tengah jalan, kami dikagetkan dengan sesuatu yang menakutkan. Kulihat ibu terjatuh. Tak sempat menolong ibu, aku juga jatuh terjungkal.

Gempa bumi dengan kekuatan yang tidak aku tahu besarnya menimpa kampungku dan kampung-kampung di sekitarnya. Durasinya 5 menit. Aku dan ibu pusing tak karuan. Setelah 5 menit berselang dan bumi berhenti berguncang, aku tersadar.

Tiba-tiba, bayanganku langsung tertuju pada sosok ayah. Serasa sedang bermimpi, aku membayangkan kujur tubuhnya rapuh tertimpa sebuah pohon besar. Makin gelisahlah hatiku. Ibu minta aku agar pulang ke rumah saja, biar ia sendiri yang melanjutkan perjalanan, tetapi aku menolak.

Setelah lama berjalan, kami pun tiba di area dekat kebun. Di situ ada sawah om Husse. Sekitar 400 meter di sebelah atas sawah itu terletak kebun jagung kami. Di sebelahnya ada sungai kecil. Aku melihat sebuah batu besar di tengah-tengah sungai itu. Batu itu rupanya baru nampak di situ. Sebelumnya aku sering melintasi sungai itu tetapi ia tidak ada. Sawah milik kami terletak persis 50 meter di seberang sungai itu. Karena aku belum bersekolah, aku sering ditugaskan ibu untuk menjaga padi yang belum dipanen agar tidak dimakan oleh burung pipit.

Aku dan ibu kemudian melintasi sungai itu untuk menaruh barang-barang bawaan di pondok sawah. Kami berencana untuk makan siang di pondok sawah saja, sebab kebun jagung itu tidak jauh amat dari situ.

Saat mendekati batu itu, aku melihat darah menempel di bagian atasnya yang tidak terkena aliran air. Juga ada sehelai kecil rambut lurus dan kulit kepala tertempel pada batu itu. Ibu merasa kaget saat melihat darah pada batu itu. Aku makin risau dan gelisah. Lagi-lagi, aku memikirkan ayah. Buru-buru kami menyimpan barang-barang di pondok dan langsung menemui ayah di kebun. Ibu mendahuluiku.

"Ya Tuhan, ayah......ayah..... ayah...," kudengar ibu merintih. Lalu kumelihat ke arah ibu, dan di pangkuannya, ayah dengan tubuh bersimbah darah sudah tidak bernyawa lagi.
"Ayah, ayah, ayah," Teriakku histeris.

Iuran BPJS Kesehatan Kembali ke Nilai Awal, Kelas Tiga Rp25.500

Kudekati mereka berdua dan memastikan apakah ayah masih hidup. Kudekatkan jari pada lubang hidungnya, tidak ada sehembus nafas pun yang terasa. Kuraba dadanya, dan tak sedenyut pun nadi terasa. Ayah benar-benar sudah mati.

Bagian atas kepalanya tak lagi berambut. Luka besar menganga di atasnya. Darah, rambut lurus dan kulit kepala yang menempel pada permukaan batu itu milik ayah. Nyawa ayah direnggut batu besar itu. Kuputar kembali ingatanku. Yang kudapati hanyalah deretan firasat buruk tentang ayah, percakapan pagi di kebun mini dekat rumah, dan pesan nenek pada hari kemarin.
***

Kenangan pahit 18 tahun silam masih tersimpan dalam ruang ingatku. Hari ini aku memulai masa liburan kuliah dengan membantu mama menjaga padi di sawah. Kulayangkan pandangan pada kebun jagung ayah. Tak ada lagi jagung di sana.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved