Salam Pos Kupang

Stop Perilaku Kekerasan di Sekolah

Mari membaca dan simak Salam Pos Kupang berjudul Stop Perilaku Kekerasan di Sekolah

Stop Perilaku Kekerasan di Sekolah
Dok
Logo Pos Kupang

Mari membaca dan simak Salam Pos Kupang berjudul Stop Perilaku Kekerasan di Sekolah

POS-KUPANG.COM - SEBELUM masa reformasi, kekerasan terhadap yunior baik di kampus maupun di sekolah adalah hal wajar. Tak ada yang protes, ketika para senior selama satu tahun, 'berkuasa' penuh terhadap mereka yang baru masuk.

Hanya ada dua pasal yang berlaku saat itu. Pasal satu, senior selalu benar. Pasal kedua, jika senior salah, kembali ke pasal satu. Hal itu berlaku turun temurun dan membudaya. Ada yang berhasil menerapkannya. Para yunior sangat respek dan 'tunduk' kepada seniornya hingga tamat. Namun ada yang gagal. Para yunior membenci sang senior.

Mangapa Penyakit Covid-19 Belum ada di Indonesia?

Namun, seiring munculnya berbagai aturan dan regulasi terkait perlindungan hak asasi manusia (HAM), perlahan-lahan perilaku senioritas di atas segala-galanya mulai berkurang. Hal ini berakibat, ketika ditemukan perilaku 'penjajahan' terhadap yunior, langsung viral dan diperbincangkan dimana-mana.

Para pelaku tak hanya dikeluarkan dari sekolah atau kampus. Mereka juga harus berhadapan dengan hukum. Pasalnya, tak hanya siksaan fisik, namun batin juga ikut tersiksa untuk menahan rasa tak suka, hanya karena para senior terkadang salah menempatkan posisinya dalam situasi seperti ini.

Dokter Reni Ajak Warga Nagekeo Manfaatkan Layanan di RSD Aeramo

Dalam pekan ini, kasus menghebokan datang dari Maumere, Kabupaten Sikka. Sebanyak 77 siswa siswa kelas VII Seminari Menengah St. Maria Bunda Segala Bangsa di Maumere, Kabupaten Sikka, disuruh makan feses/tinja atau kotoran manusia. Hukuman tidak manusiawi itu dilakukan dua kakak kelas.

Apapun alasan dari pihak sekolah dan dua pelaku, kasus ini sudah terlanjur viral dan menjadi perbincangan dalam masyarakat. Ada yang mencerca, ada yang menganalisa dengan berbagai versi atau sudut pandang. Ternyata di era seperti ini, masih ada perilaku itu di sekolah.

Sekadar mengingatkan, perilaku 'menjajah' yunior di kampus, sekolah ataupun di asrama dihentikan. Jangan jadikan karena itu budaya turun temurun sebagai alasan. Tak ada orangtua yang sekolahkan anaknya untuk kemudian dibuat tidak manusiawi seperti itu. Orangtua ingin anaknya mendapatkan pendidikan terbaik agar menjadi bekal di kemudian hari.

Pada posisi ini, manajemen sekolah harus ambil bagian. Sistem pengelolaan pendidikan baik di sekolah maupun asrama mesti ditata dengan baik. Tidak bisa membiarkan anak-anak sendirian berperilaku sesuai kehendak hatinya. Apalagi mereka masih anak-anak yang sedang berusaha mencari jati dirinya.

Untuk itu, kita tak perlu saling mengalahkan. Kasus sudah terjadi. Harus intropeksi diri agar jangan lagi terjadi. Satu pesan, stop kekerasan terhadap siapa saja di dunia pendidikan. Era sudah berubah. Bukan saatnya lagi tindakan seperti ini dilakukan. Apapun alasannya, tiidak akan dibenarkan. Dan, biasanya ketika sudah terjadi hal tidak diinginkan semisal kematian dan lainnya, baru sadar kalau telah melakukan kesalahan. **

Penulis: PosKupang
Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved