Cerpen

Cerpen Riko Raden: Pergi Tanpa Meninggalkan Pesan

AKU mencintainya seperti angin mencintai bunga, seperti hujan mencintai pelangi.

pos-kupang
Pergi tanpa meninggalkan pesan 

POS-KUPANG.COM|KUPANG - AKU mencintainya seperti angin mencintai bunga, seperti hujan mencintai pelangi. Namun yang kuterima hanyalah duri tajamnya. Namun nyatanya dia bahagia saat dirinya pergi dari hidupku.

Aku tahu kita sama-sama diciptakan dari debu dan tanah yang kotor dan rapuh. Karena itulah kubutuhkan segala pemahaman dan penerimaannya. Untuk selalu dapat membersihkanku. Menopang kerapuhanku.

Namun aku salah jika cintaku tidak membuatnya betah dengan segala kerapuhan dan kelemahanku. Untuk itulah dia pun pergi dari hidupku. Pergi tanpa kembali. Dan aku pun tahu kalau cinta tak selamanya harus dimiliki. Ia datang lalu pergi.

Ganjaran Puasa Rajab, Tanggal 1,2,3 Rajab, Niat hingga Keutamaan Bulan Rajab, Jaruh 25 Februari 2020

Saat diriku ingin membutuhkan dirinya, saat itu pula aku terluka karena dia tidak pernah hilang dalam ingatanku. dia tetap ada dalam ingatanku, tapi serentak pula hatiku luka karena tidak pernah merasakan sosok cintanya lagi. Wajah yang selalu kudambakan selama ini tak pernah kulihat lagi. Wajah yang membuatku merasa bahagia, kini telah tiada.

Hari-hariku begitu hampa dan sepi tanpa suara, canda dan tawanya lagi. Aku harus menerima kenyataan pahit bahwa dia bukan milikku lagi. Dia telah memutuskan untuk pergi meninggalkan aku. Aku pun tidak berhak untuk mengatakan agar dirinya tetap bersamaku.

Namun hatiku sedih karena ditinggalkan oleh orang yang sangat kucintai. Di sini aku sepi sendiri, merajut sunyi lalu berusaha untuk melupakan bayangan wajahnya.

Adalah Rio, lelaki yang pernah hadir dalam hati ini. Aku mengenalnya saat aku mengadakan suatu kegiatan di desanya.
Di desanya ini, Rio bagaikan permata yang selalu menarik perhatianku. Dia sangat berbeda dengan teman-temannya soal penampilan. Dia bersih dan rapi. Aku mengaguminya saat melihat dirinya berjalan di depan kost kami. Tanpa malu aku bertanya kepada tetangga kost tentang dirinya.

Ternyata orang-orang di kampung ini sangat kenal dengan kebaikan yang dilakukannya. Kata tetangga kostku, dia sangat rajin apabila ada kerja bakti bersama dan juga aktif untuk mengkordinir teman-temannya.

Pemuda Katolik Jangan Jadi Kelompok Eksklusif Harus Bangun Jejaring dengan Komunitas Lain

Mulai saat itulah, aku jatuh cinta dengan Rio. Awalnya aku malu mengatakan bahwa aku mencintainya. Aku malu apabila perasaanku ditolak. Barangkali karena saking kuatnya perasaan cintaku sehingga dia menerima perasaanku. Aku malu juga karena sebenarnya lelaki yang lebih dahulu apabila ada perasaan cinta kepada seorang perempuan.

Tetapi aku tidak ingin ada perempuan lain yang menginginkan hatinya juga. Lebih baik aku mengatakan rasa cintaku padanya.
Kurang lebih satu bulan, aku mengadakan kegiatan di desanya, kini tiba saatnya aku pu kembali ke kampus untuk terus melanjutkan sekolahku. Ada begitu banyak janji yang kami lontarkan bersama.

Apabila Rio hendak mengunjungiku, tinggal telpon saja supaya aku tahu. Entah mengapa waktu itu dia tegakan memutuskan agar hubungan kami tidak boleh lanjut. Artinya bahwa hubungan kami putus. Aku tidak tahu alasan apa sehingga dia tega mengatakan hal itu.

Aku tidak tahu mengapa dia tega meninggalkan aku. Apa salahku sehingga dia pergi tanpa meninggalkan pesan pun kesan. Aku menyesal dengan keputusannya secara tiba-tiba.

Padahal kami sudah berjanji untuk tidak meninggalkan satu sama lain. Aku merasa bahagia saat dia mengatakan untuk tetap bersamaku di mana pun berada. Aku juga bahagia karena dia mengucapkan kata janji itu tepat di depan mataku. Artinya dia tulus mengatakannya.

Jadwal Acara TV Hari Ini Selasa 25 Februari 2020 SCTV NET TV Liga Dangdut Indosiar, Bioskop TransTV

Aku pun sangat percaya dan tulus menerima kata janjinya itu. Dan sejak saat itu aku mulai percaya padanya dan sangat sulit untuk melepaskannya. Aku berpikir Tuhan ada saat itu.
Aku dan dia ibarat air yang mengalir di sungai yang tak bisa dipisahkan. Bila matahari datang dan membakar kami, aku akan menguap dan kau pun begitu adanya. Kami menguap lalu kembali menjadi air.

Namun setelah dia pergi aku pun mulai berpikir bahwa ternyata kata janjinya itu hanya belaka saja. Dia mengucapkan kata janjinya hanya di bibir bukan berasal dari hatinya. Ketika aku mengingat kata janjinya, aku juga tidak mempersalahkan dirinya.

Aku merasa bersalah karena terlalu percaya dengan ucapannya. Aku merasa bodoh karena terima begitu saja cintanya tanpa melihat siapa dirinya. Selama ini aku berusaha untuk tidak menerima laki-laki yang lain selain dirinya.

Aku terlalu percaya pada dirinya. Aku tidak tahu setelah dia pergi meninggalkan aku, apakah dia masih ingat dengan janjinya ataukah dia sudah lupa. Ketika dia pergi meninggalkan aku, hati ini sungguh sakit. Mungkin karena hati ini sudah terlanjur mencintainya.

Ramalan Zodiak Keuangan Hari Ini Selasa 25 Februari 2020 Gemini Tak Stabil Libra Disandera Tagihan

Padahal orangtuaku terus-menerus mengingatkan agar aku tidak terlalu fokus untuk mencintainya. Tapi aku tidak mendengarkan nasehat mereka. Aku yakin dia adalah pemberian Tuhan dalam hidupku. Ternyata aku salah. Aku terlalu egois.

Dan pada akhirnya aku yang tersakiti. Tapi hati ini terus menyebut namanya. Kepergiannya membuatku selalu punya waktu untuk berpikir tentang dia. Atau mungkin karena selalu mengingat kata janjinya.

Janjinya itu ketika kami duduk di bawah pondok dekat jalan itu sembari terus merenung tentang perjalanan cinta kami selanjutnya. Pondok ini menjadi saksi bisu tentang segala ungkapan janji kami. Waktu itu juga hujan sangat lebat.

Aku dan Rio menunggu hujan itu berhenti. Aku sibuk mengamati hujan deras itu, tetapi Rio justru menikmatinya. Aroma hujan, aku selalu menyukai itu.

Rintikan hujan mengalun seperti sebuah musik di telingaku. Aku menikmati itu sampai aku tak tahu bahwa Rio memberikan jaketnya untukku. Tak lama kemudian, hujan berhenti. Kami tetap duduk di bawah pondok ini. Aku terus memeluk tubuhnya. Rasa hangat bagaikan sang surya di pagi hari. Aku merasa bahagia dalam pelukannya. Dia membuatku bahagia.

Tamu Kita: Robert HP Sianipar: Ubah Image Jadi ASN

"Enu! Katanya pelan. Aku tidak ingin kita terus bertengkar karena hati kita tidak selalu sama. Aku ingin kita dua saling mengerti. Aku takut kehilanganmu kelak." Kata Rio sambil mencium keningku.

"Iya, aku juga tidak ingin kita terus bertengkar. Aku tahu selama ini kita tidak saling memahami soal hati. Sebenarnya aku rasakan ini sudah lama sejak engkau tidak memberikan kabar denganku. Tetapi aku baik-baik saja karena aku tidak bisa membohongi perasaanku bahwa aku sangat mencintaimu.

Aku juga takut kehilanganmu. Aku ingin kita terus bersama sampai Tuhan menghendaki kita untuk berpisah di alam sana." Jawabku sambil memeluknya.

"Enu, bagaimana nanti jika orangtua kita tidak restu hubungan kita ini. Apakah engkau masih mencintaku? Tangan Rio terus mengelus rambut kepalaku. Aku sangat mencintaimu enu. Hatiku tidak bisa berpindah lagi. Hatiku bak daun yang selalu dekat dengan rantingnya. Aku ingin enu juga sama seperti yang kurasakan sekarang.

"Iya, aku juga sangat mencintamu. Kita berdoa saja agar orangtua kita restu dengan hubungan kita ini." Tanganku coba memeluk lebih erat tubuh Rio yang agak lebih besar dari tubuhku.

ZODIAK KEUANGAN - Ramalan Zodiak Keuangan Selasa 25 Februari 2020 Cancer Buruk Scorpio Ada Peluang

Dalam hatiku ingin mengatakan kalau aku sangat takut kehilangan Rio. Aku ingin agar kami tetap hidup bersama selamanya. Tapi aku tidak mau mengatakan itu kepada Rio. Biarkan waktu yang mengatakan semuanya ini.

Itulah janji kami saat itu. Aku terlalu yakin dengan janjinya. Aku juga tahu cinta tak selamanya harus dimiliki. Ia datang lalu pergi. Cinta bisa bertahan apabila hati telah menyatu. Yang datang tak selalu bertahan. Ada kalanya cinta harus pergi. Tetapi sampai saat ini aku tidak tahu mengapa dia pergi tanpa meninggalkan pesan pun kesan.

Dia pergi begitu saja. Hingga kini aku masih menunggu kabarnya tentang alasan dia pergi. Hanya di sini aku masih sendiri dan selalu punya waktu untuk memikirkannya.

Di kamar tidur yang kecil dengan lampu temeram. Menutup diri dari orangtuaku dan keluar kamar hanya ingin ke kamar mandi saja. Aku juga berpikir untuk apa keluar dari kamar dan jalan-jalan jika tak ada yang harus ditemui. Untuk apa menjalani dengan teman-teman apalagi pacar yang pada akhirnya pergi. Tak ada gunanya. Hanya menghambur waktu saja.

ZODIAK KEUANGAN - Ramalan Zodiak Keuangan Selasa 25 Februari 2020 Cancer Buruk Scorpio Ada Peluang

Aku terus berada di kamar dan menutup diri juga tak mau diganggu. Di luar kamar aku selalu mendengar bisikan dari rumah tetangga tentang keadaan diriku. Mungkin karena mereka jarang melihatku duduk di depan teras rumah.

Karena kebiasaanku apabila rumah lagi sepi, pasti aku duduk di depan rumah sambil menikmati kopi juga selalu menyapa orang bila melewati rumah kami. Barangkali demikian sehingga tetangga selalu menanyakan keberadaanku. Enthalah, sekarang aku hidup dengan duniaku sendiri.

Di dalam kamar aku terus merenung. Menyendiri tanpa ada yang menemani. Orangtuaku mengerti dengan keadaanku. Mereka tidak pernah bertanya tentang isi hatiku. Atau mungkin mereka juga pernah mengalami hal yang sama waktu masa muda dulu. Barangkali mereka pernah mengalami sakit hati. Entahlah, intinya mereka tidak menganggu keadaanku sekarang.

"Enu, maafkan aku karena pergi tanpa memberikan alasan. Aku berharap engkau bisa mengerti." Kata Rio melalui telpon.
"Apa maksudmu. Aku tidak mengerti dengan kata-katamu." Jawabku padanya. Dalam hatiku sebenarnya ada perasaan bahagia saat mendengar suaranya. Walau sudah lama kami tidak memberi kabar tapi suaranya tidak asing lagi bagiku. suaranya sudah melekat dalam hatiku. Aku juga bahagia karena dia tidak melupakan aku. Malam ini dia telpon lagi. Semoga tidak ada kata pergi lagi.

ZODIAK KEUANGAN - Ramalan Zodiak Keuangan Selasa 25 Februari 2020 Cancer Buruk Scorpio Ada Peluang

"Begini enu. Aku pergi meninggalkanmu dengan alasan bahwa cinta yang kita bangun selama ini ternyata tidak direstui oleh orangtuamu."
"Maksudmu apa." Aku coba menanya kepastian dari alasannya.
"Waktu keluargaku datang ke rumahmu untuk membahas belis, keluargmu meminta tidak sesuai dengan keadaan kelurgaku.

Saat itu aku duduk di samping tongka dari pihak keluargaku. Aku melihat tongka dari pihak keluargamu sangat mengotot agar semua belis yang dia ucapakan harus terpenuhi. Tapi keluargaku menolak. Mulai saat itu, hubungan di antara keluarga kita mulai kendor. Melihat hal itu, aku pun pelan-pelan untuk meninggalkan dirimu. Aku berpikir itu yang terbaik. Bahkan orangtuaku mengatakan kepadaku agar kita dua harus berpisah. Itu makanya aku pergi meninggalkanmu. Sekali lagi maafkan aku."

"Jangan begitu kha! Nada suaraku pelan. Air mataku pun pelan-pelan jatuh. Aku sangat mencintaimu. Tolong jangan tinggalkan aku."
"Aku angkat tangan enu. Belis untukmu terlalu mahal. Aku tidak bisa membayar semuanya. Aku sempat mengeluh, mahal betul harga cinta kamu. Aku tidak tahu mengapa engkau ngotot mencintaiku dulu. Mengapa engkau tak pernah mendengarkan keluhku dan penjelasanku tentang hidupku. Mengapa engkau begitu percaya dengan janjiku.

ZODIAK ASMARA - Ramalan Zodiak Cinta Hari Ini Selasa 25 Februari 2020 Aries Bertengkar, Cancer Akur

Aku kira, tanpa kujelaskan pun, engkau pasti tahu betapa susahnya hidupku. Susah, ketika rasa cintaku padamu mulai tumbuh, aku justru dihadapkan dengan kepelikan. Aku melamarmu tapi ayahmu meminta belis yang mencekik leher.

Aku angkat tangan dan harus pergi meninggalkanmu."
"Iya nana, aku tahu semuanya itu. Tapi itukan adat. Kita harus mematuhinya."
"Iya aku tahu itu adat. Apakah adat sekejam itu? Mengapa harus dipertahankan? Aku bisa saja menjual semua tanahku untuk membayar lunas belismu. Tapi setelah kita menikah, kita makan apa? Mengemis pada orangtuamu? Sekali lagi aku minta maaf. Aku harus pergi meninggalkanmu. Carilah laki-laki yang bisa memenuhi seluruh permintaan dari orangtuamu."

Sosok & Perjalanan Karir Mahathir Mohamad, Perdana Menteri ke-7 Malaysia yang Mundur dari Jabatannya

Dia pun langsung menutup telponnya. Padahal masih banyak yang harus kukatakan padanya. Bahkan kalau dia tidak menutup telpon, aku katakan bahwa aku harus pergi dari genggaman orangtuaku dan pergi bersamanya.

Aku rela dibenci oleh orangtua dan keluargaku hanya demi cintaku padanya. Aku sadar bahwa selama ini orangtuaku selalu mencampuri masalah kami berdua. Tapi aku terlambat. Sekarang aku rela sakit hati dengan kepergiannya.
* Tongka artinya juru bicara dalam budaya Manggarai.
(Riko Raden, mahasiswa STFK Ledalero).

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved