Breaking News:

Cerpen

Cerpen Riko Raden: Pergi Tanpa Meninggalkan Pesan

AKU mencintainya seperti angin mencintai bunga, seperti hujan mencintai pelangi.

pos-kupang
Pergi tanpa meninggalkan pesan 

Namun setelah dia pergi aku pun mulai berpikir bahwa ternyata kata janjinya itu hanya belaka saja. Dia mengucapkan kata janjinya hanya di bibir bukan berasal dari hatinya. Ketika aku mengingat kata janjinya, aku juga tidak mempersalahkan dirinya.

Aku merasa bersalah karena terlalu percaya dengan ucapannya. Aku merasa bodoh karena terima begitu saja cintanya tanpa melihat siapa dirinya. Selama ini aku berusaha untuk tidak menerima laki-laki yang lain selain dirinya.

Aku terlalu percaya pada dirinya. Aku tidak tahu setelah dia pergi meninggalkan aku, apakah dia masih ingat dengan janjinya ataukah dia sudah lupa. Ketika dia pergi meninggalkan aku, hati ini sungguh sakit. Mungkin karena hati ini sudah terlanjur mencintainya.

Ramalan Zodiak Keuangan Hari Ini Selasa 25 Februari 2020 Gemini Tak Stabil Libra Disandera Tagihan

Padahal orangtuaku terus-menerus mengingatkan agar aku tidak terlalu fokus untuk mencintainya. Tapi aku tidak mendengarkan nasehat mereka. Aku yakin dia adalah pemberian Tuhan dalam hidupku. Ternyata aku salah. Aku terlalu egois.

Dan pada akhirnya aku yang tersakiti. Tapi hati ini terus menyebut namanya. Kepergiannya membuatku selalu punya waktu untuk berpikir tentang dia. Atau mungkin karena selalu mengingat kata janjinya.

Janjinya itu ketika kami duduk di bawah pondok dekat jalan itu sembari terus merenung tentang perjalanan cinta kami selanjutnya. Pondok ini menjadi saksi bisu tentang segala ungkapan janji kami. Waktu itu juga hujan sangat lebat.

Aku dan Rio menunggu hujan itu berhenti. Aku sibuk mengamati hujan deras itu, tetapi Rio justru menikmatinya. Aroma hujan, aku selalu menyukai itu.

Rintikan hujan mengalun seperti sebuah musik di telingaku. Aku menikmati itu sampai aku tak tahu bahwa Rio memberikan jaketnya untukku. Tak lama kemudian, hujan berhenti. Kami tetap duduk di bawah pondok ini. Aku terus memeluk tubuhnya. Rasa hangat bagaikan sang surya di pagi hari. Aku merasa bahagia dalam pelukannya. Dia membuatku bahagia.

Tamu Kita: Robert HP Sianipar: Ubah Image Jadi ASN

"Enu! Katanya pelan. Aku tidak ingin kita terus bertengkar karena hati kita tidak selalu sama. Aku ingin kita dua saling mengerti. Aku takut kehilanganmu kelak." Kata Rio sambil mencium keningku.

"Iya, aku juga tidak ingin kita terus bertengkar. Aku tahu selama ini kita tidak saling memahami soal hati. Sebenarnya aku rasakan ini sudah lama sejak engkau tidak memberikan kabar denganku. Tetapi aku baik-baik saja karena aku tidak bisa membohongi perasaanku bahwa aku sangat mencintaimu.

Aku juga takut kehilanganmu. Aku ingin kita terus bersama sampai Tuhan menghendaki kita untuk berpisah di alam sana." Jawabku sambil memeluknya.

"Enu, bagaimana nanti jika orangtua kita tidak restu hubungan kita ini. Apakah engkau masih mencintaku? Tangan Rio terus mengelus rambut kepalaku. Aku sangat mencintaimu enu. Hatiku tidak bisa berpindah lagi. Hatiku bak daun yang selalu dekat dengan rantingnya. Aku ingin enu juga sama seperti yang kurasakan sekarang.

"Iya, aku juga sangat mencintamu. Kita berdoa saja agar orangtua kita restu dengan hubungan kita ini." Tanganku coba memeluk lebih erat tubuh Rio yang agak lebih besar dari tubuhku.

ZODIAK KEUANGAN - Ramalan Zodiak Keuangan Selasa 25 Februari 2020 Cancer Buruk Scorpio Ada Peluang

Dalam hatiku ingin mengatakan kalau aku sangat takut kehilangan Rio. Aku ingin agar kami tetap hidup bersama selamanya. Tapi aku tidak mau mengatakan itu kepada Rio. Biarkan waktu yang mengatakan semuanya ini.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved