Beginilah Potret SDN Fatufuaf Desa Enoraen yang Memprihatinkan, Bikin Trenyuh !

gedung sekolah yang hampir rubuh mengakibatkan sejumlah siswa di SDN Fatufuaf mengaku takut saat mengikuti proses belajar mengajar.

Penulis: Gecio Viana | Editor: Rosalina Woso
POS KUPANG/GECIO VIANA
Kondisi SDN Fatufuaf Desa Enoraen, Kecamatan Amarasi Timur 

Pasalnya, pasca hujan lebat disertai angin kencang, sekolah tersebut semakin miring dan mengalami kebocoran di sana-sini.

"Waktu masih miring sedikit, kami masih sekolah, namun saat hujan angin makin miring maka kami putuskan untuk tidak sekolah. Anak-anak saya suruh jangan dekat, takutnya sekolah rubuh menimpa mereka," paparnya.

Sementara itu, akibat keterbatasan gedung, sebanyak 7 siswa yang duduk di bangku kelas 4 pun harus melakukan aktivitas belajar di bawah pohon asam yang terletak di depan sekolah.

"Mau bagaimana lagi, jadi kursi dan meja dibawa keluar dan guru mengajar di bawah pohon," paparnya.

"Gedung kami tidak gunakan karena takut rubuh. Jadi siswa kelas 4 belajar dibawah pohon sambil menanti gedung baru," jelasnya.

Sekolah tersebut memiliki 6 guru dengan pembagian guru ASN sebanyak 2 orang dan guru honorer sebanyak 4 orang yang diupah dari dana BOS sebesar Rp 250 per bulannya

Pihaknya telah berupa untuk mangajukan proposal permohonan ruang kelas baik ke anggota DPR RI asal NTT dan ke Pemprov NTT namun tak kunjung terealisasi.

Atas kekurangan gedung itu, pihaknya pun sangat berterima kasih atas bantuan satu gedung dari BBKSDA NTT.

Gedung baru tersebut diyakini dapat memberikan kenyamanan dan keamanan bagi para siswa dan berdampak pada peningkatan kualitas pendidikan di sekolah tersebut.

Pihaknya pun berkomitmen untuk menjaga ruang kelas baru yang tengah dibangun tersebut.

Sejumlah warga sekitar yang juga menyekolahkan anak-anak mereka mengaku merasa khawatir atas keselamatan para siswa yang bersekolah.

"Sebagai orangtua saya rasanya takut karena gedung ini tidak memungkinkan begitu, kami merasa gelisah, suatu saat gedung jatuh tendes anak kami," kata seorang orangtua siswa, Esliana Obehetan (40) saat ditemui usai peletakan batu pertama pembangunan ruang kelas belajar bagi SDN Fatufuaf.

Diakuinya, dua gedung sekolah tersebut dibangun secara swadaya oleh masyarakat sekitar.

Warga sekitar memilih menyekolahkan anak mereka ke sekolah tersebut karena berjarak lebih dekat dengan sekolah yang berada di tetangga.

Selain itu, terdapat kejadian yang mengibatkan dirinya lebih menyekolahkan kedua anaknya di sekolah tersebut.

Halaman
1234
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved