Opini Pos Kupang
Epidemi Corona Virus Disease : Ancaman atau Preventif
Baca Opini Pos Kupang berjudul: epidemi Corona virus disease : ancaman atau preventif
Baca Opini Pos Kupang berjudul: epidemi Corona virus disease : ancaman atau preventif
Oleh : Sintha Lisa Purimahua, Mahasiswa Program Doktoral FKM Universitas Hasanuddin, Dosen FKM Universitas Nusa Cendana
POS-KUPANG.COM - Dunia dikejutkan virus baru yang lebih dikenal Covid 19 atau Corona Virus Disease 2019. Virulensi virus ini sangat cepat menyebar dan menewaskan ribuan manusia di Wuhan, China. Kondisi ini tentunya menjadi alarm bagi masyarakat Indonesia untuk melakukan tindakan pencegahan/preventif secara komprehensif. Sebab, banyak warga negara Indonesia (WNI) berada di China.
Virus yang mengganggu pernapasan ini pertama kali muncul di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China bagian tengah pada Desember 2019. Pada 31 Desember 2019, China menemukan sebuah virus baru yang belum teridentifikasi.
• Viva Batal Serahkan Dokumen Syarat Dukungan Saat Acara Resmi
Virus ini menjangkiti seorang pria hingga meninggal karena gagal pernapasan dan radang paru-paru. Hasil penyelidikan menyatakan pria ini terjangkit virus ini setelah dirinya ke pasar ikan.
Pada 24 Januari 2020 Kota Wuhan sudah terlanjur dilakukan pembersihan pasar tempat dimana virus ini bermula. Ini justru membuat semakin sulit untuk menelusuri sumber virus. Insiden penyakit yang terinfeksi virus ini sekira 28.000 suspect, kasus yang menimpa anak sangat jarang. Usia rata-rata pasien terinfeksi virus Corona adalah antara 49 -56 tahun.
Pada 18 Februari 2020 insiden penyakit ini bertambah menjadi 73.429 orang terinfeksi, 1873 orang tewas karena terinfeksi virus corona. Otoritas kesehatan Wuhan baru mengidentifikasi ini adalah virus Novel Coronavirus (nCoV) yang telah banyak menelan nyawa warganya.
• Truk Proyek di Belu Terperosok ke Sungai, TNI Bersama Warga Bantu Evakuasi
Epidemi Corona virus Wuhan bisa 10 kali lebih buruk dari wabah SARS yang menewaskan hampir 800 orang di seluruh dunia pada tahun 2002-2003. Bahkan negara tetangga telah ditemukan virus ini seperti di Singapura, Malaysia dan Australia.Walau demikian WHO sebagai otoritas kesehatan global belum menetapkan virus Corona sebagai keadaan darurat, dunia segera merasakan ancaman kesehatan lintas negara ini.
Coronavirus memilik gejala seperti pilek, sesak nafas, demam yang berlangsung beberapa hari, lemas dan batuk kering, sakit tenggorokan, sakit kepala. Yang paling menonjol adalah sesak nafas disebabkan penyempitan jaringan paru-paru oleh cairan atau nanah dengan masa inkubasi 14 hari.
Penyebaran virusnya pun sangat mudah seperti flu biasa (common cold). Kontak langsung dengan penderita berpotensi besar tertular virus corona ini. Penularan bisa lewat udara seperti bersin, bersalaman dan kontak langsung lainnya.
Faktor mewabahnya virus ini karena belum ada vaksinnya dan tergolong virus baru.
Salah satu ancaman kesehatan yang harus diwaspadai adalah apa yang disebut dengan New Emerging Infection Disease atau infeksi yang baru muncul.
Dan sebagian besar infeksi yang baru muncul tersebut sebagian bersumber dari binatang atau biasa disebut Zoonosis.Untuk penyakit menular ini kita sudah mempunyai pendekatan apa yang disebut one health. Di dalam one health itu intinya bahwa fokus perhatian kita itu tidak hanya manusia tapi ada tiga komponen yaitu manusia, binatang dan lingkungan.
Secara alami, virus ini akan inaktif jika berada di benda mati dan terpapar suhu ruangan lebih dari 8 jam. Periode inaktivitas itu bakal lebih cepat lagi jika berada di lingkungan dengan suhu dan kelembapan tinggi seperti Indonesia yang beriklim tropis yang berkisar 35-37 derajat celcius.
Hal inilah menjadi salah satu yang dapat menghambat penyebaran virus ini di Indonesia. Selain factor geografi, masyarakat Indonesia juga memiliki banyak kearifan lokal (local wisdom) baik budaya maupun jenis makanan dan minuman yang justru menjadi obat penangkal dalam diri untuk mengusir virus baru yang masuk dalam tubuh.Contohnya minuman tradisional jamu, herbal dengan ramuan tumbuhan yang sifatnya antibiotic yang dapat melawan virus ini.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri sedang memantau 93 warga Negara Indonesia di Wuhan.
Hingga saat ini belum ada vaksin untuk mencegah infeksi virus nCoV. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengimbau untuk tindakan higienis kepada setiap individu dengan selalu menjaga kebersihan diri masing-masing. Hal ini dapat dilakukan dengan pencegahan tingkat dasar (primordial prevention) yang bertujuan untuk mencegah terjadinya risiko atau mempertahankan keadaan risiko rendah yang sudah ada dalam masyarakat.