PAD dari Pajak Galian C Masih Primadona di Kabupaten Belu

Sumber Pendapatan Asli Daerah ( PAD) dari pajak mineral bukan logam dan batuan atau yang disebut bahan galian C

POS-KUPANG.COM/Teni Jenahas
Kepala Bapenda Belu, Marsi Loe Mau. 

POS-KUPANG.COM | ATAMBUA - Sumber Pendapatan Asli Daerah ( PAD) dari pajak mineral bukan logam dan batuan atau yang disebut bahan galian C masih menjadi primadona di Kabupaten Belu. Jumlah pajak dari pos ini mencapai Rp 10 M lebih setiap tahun.

Pajak bahan galian C ini menjadi sumber pajak terbesar dari 11 jenis pajak yang ditangani Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Belu.

Hal ini dikemukan Kepala Badan Pendapatan Daerah Kabupaten Belu, Marsianus Loe Mau kepada Pos Kupang.Com saat ditemui, Senin (3/2/2020).

Simon Riwu Kaho Geram Oknum Guru Siksa Murid di Lembata Paksa Minum Air Kotor

Menurut Marsi, dari 11 jenis pajak yang dikelolah Bapenda, obyek pajak bahan galian C yang paling besar dan menjadi primadona.

"Pajak galian C masih primadona kita di Kabupaten Belu karena total pajak dari sumber ini paling besar dari semua jenis pajak lainnya", tutur Marsi.

Matan Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Belu ini mengatakan, obyek pajak mineral bukan logam dan batuan yang mendongkrat PAD yakni, batu gunung/kali, sirtu, pasir, tanah timbun, batu pecah dan kerikil. Pendapatan masing-masing obyek pajak ini rata-rata di atas Rp 1 M per tahun.

Satu Unit Rumah di Desa Pantae TTU, Ludes Dilalap Si Jago Merah

Di tahun 2019, target pajak dari mineral bukan logam dan batuan sebesar Rp 10,1 M lebih, realisasi sampai dengan 31 Desember 2019 sebesar Rp 8, 9 M atau 87,91 persen. Di tahun 2020, target PAD dari sumber pajak mineral bukan logam mencapai Rp 11 M lebih, realisasi sampai dengan 31 Januari 2020 sebesar sekitar Rp 500-juta.

Marsi mengungkapkan, pajak bahan galian C meningkat sejalan dengan kegiatan pembangunan infrastruktur di Kabupaten Belu. Salah satu contoh adalah pembangunan Bendungan Rotiklot memberikan kontribusi besar bagi pajak galian C karena mega proyek seperti Bendungan Rotiklot membutuhkan bahan galian C sangat besar.

Begitu juga dengan pekerjaan jalan sabuk merah yang panjangnya berkilo-kilo menjadi daya ungkit untuk mendongkrak PAD dari obyek pajak bahan galian C. Belum lagi dengan proyek jalan dan jembatan serta gedung kantor yang didanai APBD I dan APBD II dan bahkan dana desa.

Kata Marsi, semakin banyak kegiatan pekerjaan infrastruktur seperti bendungan, jalan, jembatan gedung kantor semakin besar pula penggunaan bahan galian C. Hal ini tentu berdampak pada peningkatan pajak bahan galian C. Hasil pajak tersebut dimanfaatkan kembali untuk pembangunan daerah. Itulah sebabnya, negara selalu menyadarkan masyarakat untuk membayar pajak karena anggaran pembangunan yang dilaksanakan itu bersumber dari hasil pajak yang diberikan rakyat yang dikelolah pemerintah.

Marsi memberikan apresiasi dan terima kasih kepada masyarakat wajib pajak di Kabupaten Belu yang telah melaksanakan kewajibannya sebagai warga negara dengan membayar pajak.

"Terima kasih kepada masyarakat wajib pajak. Suatu hal yang ingin saya sampaikan bahwa masyarakat melakukan kewajibannya sebagai warga negara yang baik dengan membayar pajak. Ini salah satu bukti, daerah ini dibangun secara gotong royong", puji Marsi. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Teni Jenahas)

Penulis: Teni Jenahas
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved