Guru Siksa Murid di Lembata
BREAKING NEWS: Oknum Guru di Lembata Dipolisikan Diduga Siksa Puluhan Murid Minum Air Kotor
Oknum Guru di Lembata dipolisikan diduga siksa puluhan murid minum air kotor dalam viber
Penulis: Ricardus Wawo | Editor: Kanis Jehola
Oknum Guru di Lembata dipolisikan diduga siksa puluhan murid minum air kotor dalam viber
POS-KUPANG.COM | LEWOLEBA - Oknum guru SMPK Sint Piter Lolondor Desa Leuwayan Kecamatan Omesuri Kabupaten Lembata dipolisikan oleh orangtua murid karena diduga memberi sanksi kepada sejumlah anak didiknya dengan cara menyuruh mereka meminum air kotor yang ada di dalam wadah fiber sekolah.
Kasus ini pun sudah dilaporkan ke Polsek Omesuri oleh Maria Goreti Paun (49), salah satu orangtua murid didampingi pihak Komisi Perlindungan Anak dan Perempuan (KPAP) Desa Leuwayan dan sejumlah siswa sekolah tersebut pada Senin (3/2/2020).
• Judi Kupon Putih Marajalela di Nita Maumere
Dugaan penyiksaan ini dilakukan oleh oknum guru SMPK Sint Piter Lolondolor, pada 28 Januari 2020 lalu. Kejadian ini dialami oleh sejumlah siswa di Kelas VII dan Kelas VIII sekolah tersebut.
Kejadian ini pada mulanya dirahasiakan oleh para siswa, tetapi terbongkar saat siswa kelas VIII melakukan studi malam di rumah seorang siswa dan didengar oleh ibunya, Maria Goreti Paun, warga Dusun Ramuq Auq, Desa Leuwayan.
• Kantor SDK Rende Terbakar, Ini Instruksi Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Manggarai Timur
Maria mengisahkan dirinya merasa kesal dan tak menerima perlakuan oknum guru tersebut kepada anaknya. Dia pun langsung melaporkan masalah ini kepada ketua yayasan dan pihak komite sekolah.
Dijelaskan, oknum guru tersebut menyiksa para siswa meminum air kotor dalam fiber karena tidak bisa menghafal kosa kata dalam Bahasa Inggris.
"Saya benar-benar tidak terima, karena siksa anak minum air kotor dan bau apalagi saat ini musim demam berdarah," ungkap Maria Paun saat dihubungi, Selasa (4/2/2020)..
Maria Paun mengungkapkan sebagai orangtua dia merasa tidak puas karena tindakan oknum guru sudah tidak manusiawi.
Dia menambahkab penyiksaan ini bukan dilakukan terhadap satu orang peserta didik saja tetapi puluhan juga turut menjadi korban penyiksaan yang sama yakni Kelas VII jumlah 30 orang dan disiksa 27 anak.
• Tertular Majikannya? Tak Pernah ke China, PRT Asal Indonesia di Singapura Kena Virus Corona, Info
"Kami orang tua menitipkan anak disekolah untuk diajarkan dengan baik. Kalau pukul saja kami masih bisa terima. Tetapi ini sudah keterlaluan. Siksa anak minum air dalam fiber yang sudah berlumut, bau kencing di dalam dan banyak jentik nyamuk," ungkapnya kesal.
Lebih jauh, Maria Paun, menyebutkan ada banyak anak yang disiksa tetapi mereka memilih bungkam karena ada peringatan dari pihak sekolah untuk tidak membawa masalah di sekolah ke rumah. Oleh karena itu, menurut dia anak-anak menjadi takut untuk menceritakan masalah ini kepada orangtua.
Dirinya juga sempat dipanggil oleh Kepala Sekolah, Vinsesius Beda Amuntoda, menghadap ke kantor dan meminta masalah tersebut diselesaikan di sekolah. Akan tetapi dirinya menolak dan melanjutkan masalah ini ke pihak berwajib.
"Saya tidak merasa puas dengan tindakan guru. Kami sebagai orang-tua tidak pernah memberikan air mentah kepada anak. Tetapi di sekolah guru siksa anak-anak minum air berbau, berlumut dan banyak jentik," tegasnya.
Kata Maria, berdasarkan cerita anak dan siswa lainnya, kejadian penyiksaan ini sudah dilakukan berulang kali sehingga orangtua perlu mengambil tindakan.