Breaking News:

Berita Cerpen

Cerpen Chan Setu: Wilhelmina

Cerpen Chan Setu: Wilhelmina. Dua minggu yang lalu, kami sempat bercerita di trotoar jalan menuju ibu kota.

Editor: Apolonia Matilde
pos kupang
Cerpen Chan Setu: Wilhelmina 

"Batinku."
"Tapi Ving, bukankah setiap manusia memiliki caranya masing-masing untuk mencintai?"

Aku membahasakan cinta tanpa membacakannya dengan baik dari setiap rasa yang kutulis dalam sajak-sajak kecil, sedangkan kau, kau pandai membahasakan cintamu itu lewat lagu-lagu yang kau ciptakan dan nyanyikann sehingga tak ada satu pun wanita yang tidak kau rayui dengan nada-nada lagu yang tersentuh itu," elakku kemudian.

"Jimmy, Jimmy, sudah berapa kali coba, aku bilang jangan sekadar keceplosan untuk mengaguminya. Cinta bukan soal keceplosan melainkan soal keberanianmu. Atau jangan-jangan kau takut diabaikan dan ditolak. Jika karena itu aku sarankan memendam itu lebih mmenyiksa dan lebih sakit rasanya ketimbang kau tahu bahwa ia menolak keberanianmu mengungkapkan perasaanmu."

Aku menimang-nimang ungkapan Ving yanng terakhir itu. "Benar juga katanya, memendam dan hanya sebatas mengagumi sekalipun kami begitu dekat dan seringkali aku dibuantya cemburu oleh keakrabannya dengan teman-teman laki-lakiku.

Virus Korona Menyebar dengan Cepat, Lakukan Hal Ini Untuk Tingkatkan Kekebalan Tubuh

Namun, aku sadar aku bukan siapa-siapa baginnya yang tidak pantas untuk dicemburui atau sekadar melarangnya bergaul dan berbicara dengan siapa saja. Percakapan dua minggu yang lalu, masih sebatas keceplosan.

"Aku mencintainya lebih dari caraku mengagumimu."
Dua minggu yang lalu, aku lihat ada harapan yang mula-mula terang benderang hingga redup perlahan-lahan. Mungkin saja aku mencintainya namun ia tak mencintaiku. Seperti sebuah pilihan, dan aku hanya dipanggil menjadi bagian dari hidupnya tidak dipilih oleh cintanya untuk mencintai dan dicintai.

Dua minggu yang lalu, saat pisah kami di gang-gang panjang dengan tembok-tembok tinggi di hadang bangunan-bangunan pencakar langit aku lihat ia dengan manjanya memeluk tubuh seseorang yang kupanggil namanya Reynhar.

"Aku cemburu." Bisa saja. Ingat aku bukan siapa-siapanya. Aku hanya dianggap sebagai saudara, sahabat, kakak dan teman yang perasaan untuk mencintai dan jatuh cinta telah kukubur jauh sebelumnya dari segala perasaan dan aku turut bahagia bersama setiap cerita dan tawa renyahnya.

"Terima kasih Tuhan. Engkau telah mengajariku untuk mencintiamu dari menganguminya."

Nasib Tenaga Honorer Akan Ditentukan Tahun 2023, Jadi PNS atau Diberhentikan, Simak Info Lengkapnya!

***
Wilhelmina nama yang saban hari kutulis dalam imajinasiku dia gadis yang kuciptakan bersama realitas semu diriku. Dia gadis yang polos, sederhana, cantik, simple dan membuatku jatuh hati tanpa bisa menyentuhnya.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved