Minggu, 3 Mei 2026

Jhon Prihatin Bom Ikan Marak Terjadi di Nagekeo, Laut Harus Dijaga

Tidak ada upaya pencegahan dan penindakan dari pihak terkait dengan aksi yang tak bertanggungjawab tersebut.

Tayang:
Penulis: Gordi Donofan | Editor: Rosalina Woso
POS KUPANG/GORDI DONOFAN
Warga Tendakinde Kecamatan Wolowae Kabupaten Nagekeo, Rabu (15/1/2020). 

Kata Kepala Dusun, aksi tak terpuji sudah berulang kali dikawasan Keo Tengah. Selain warga Keo Tengah ada juga terduga bawa bom ikan dari luar Keo Tengah yaitu dari Pulau Ende Kabupaten Ende.

Aksi ini sangat meresahkan dan menghancurkan ekosistem laut. Apalagi ikan-ikan kecil dan terumbu karang pasti sudah hancur.

Jika tidak ada tindakan dan penegasan dari pihak berwajib atau pihak berwenang maka biota laut akan punah.

Ia melanjutkan, selama ini saat surut mereka mulai beraksi. Awalnya memantau ikan. Jika kawasan itu sudah banyak ikan, bom ikan pasti akan diledakan.

Wargapun antuasias masuk kedalam untuk selam ambil ikan. Itu memang sudah sering terjadi disini.

"Kalau laut surut itu mereka datang. Pagi dan juga sore. Itu mereka pantau ikan duluan, mereka sudah ada ikan banyak dimana pasti akan ledak disitu. Saya tau persis dan tau sekali disini. Warga disini juga ikut ambil ikan," ujarnya.

Dirinya berharap setelah ada pemberitaan ada tindakan dari pihak pemerintah Kabupaten Nagekeo. Jika tidak ada pasti suatu saat akan ledakan bom ikan lagi.

Baginya, sosialisasi dan tindakan tegas segera diambil sehingga ada efek jera. Jangan dibiarkan begitu saja yang akan membuat persoalan ini persoalan yang biasa. Padahal sangat merugikan ekosistem laut.

Sekira pukul 10.34 Wita. Perahu berwarna biru yang ditumpangi dua orang yang diduga kuat melemparkan bom ikan, balik dari arah Nangaroro menuju Maunori.

Pantai Selatan Nagekeo Marak Terjadi Bom Ikan

Sebelumnya, Pantai bagian Selatan di Kabupaten Nagekeo, khususnya di Kecamatan Keo Tengah hingga Nangaroro marak terjadi bom ikan.

Oknum yang tak bertanggungjawab melakukan pemboman ikan pada siang hari. Itu dilakukan lewat rencana yang sangat baik sehingga mereka meledakan bom ikan guna mendapatkan tangkapan ikan yang banyak.

"Selama ini marak terjadi bom ikan disini. Kami tau itu setelah mereka yang bom itu sudah selesai ledak bom ikan di laut," ujar Kepala Dusun D Ndetumali, Tobias Nusa (32), kepada POS-KUPANG.COM di Ndetumali Desa Kotodirumali Kecamatan Keo Tengah, Minggu (5/1/2020).

Tobias mengatakan bulan Desember 2019 dan itu rupanya warga dari Kecamatan Keo Tengah. Selama ini sudah sering dan ini menjadi persoalan disini. Namun bagi sebagian masyarakat hal ini sebuah hal yang biasa. Padahal sangat berbahaya.

"Bom ikan terakhir diledakan ada tanggal 3 Desember 2019. Kita susah mau tertibkan. Ini menjadi persoalan besar diwilayah Keo Tengah, pada kita berupaya untuk menjaga biota laut namun ada yang merusak dengan cara meledakan bom ikan," ujar Tobias.

Tobias mengaku pembom ikan tidak hanya warga dari Kecamatan Keo Tengah namun juga ada dari Pulau Ende Kabupaten Ende dan itu ada satu dua orang yang datang. Persoalan ini seakan tak ada solusi.

"Saya jengkel sekali. Seolah-olah bom ikan itu menjadi kebiasaan disini. Ini persoalan tidak pernah selesai sejak kami kecil sampai saat ini," ujar dia.

Tobias mengaku pemerintah juga tak pernah ada respon soal ini. Pihak terkait lainnya seperti dinas perikanan tidak pernah datang patroli atau memberikan sosialisasi kepada masyarakat tentang bahaya bom ikan.

"Tidak ada patroli selama ini. Kami juga heran. Apakah ini dibiarkan begitu saja selamanya atau bagaimana. Ini bukan karang coba datang rutin kesini pasti akan kedapatan saat ada yang lakukan bom ikan," ujar dia.

Ia juga menyampaikan bahkan dirinya dimarahi bahkan dibenci oleh warga karena menolak dilakukan pemboman ikan.

"Dulu ada yang lapor soal orang dari luar datang mancing gurita disini, warga mengusir mereka. Saya tanya itu yang datang bukan mau hancurkan ikan semuanya tapi gurita saja kenapa dilarang? Kenapa kalian tidak larang yang datang bawa bom ikan lalu diledakan untuk mendapatkan ikan? Itu yang aneh disini, lebih memilih menggunakan bom ikan daripada yang mancing gurita," ujar dia penuh kesal.

"Itu mereka langsung diam. Mereka tidak datang lapor lagi. Itu masalahnya disini. Saya berharap agar melalui media pemerintah bisa mendengar keluhan kami," ujar dia lagi.

Dirinya menyampaikan jika persoalan ini dibiarkan secara terus menerus. Pasti suatu saat ikan atau biota laut diwilayah Keo Tengah hingga Nangaroro akan punah.

Ia menyampaikan bom ikan sangat merugikan dan sangat tidak ramah lingkungan.

"Kita mau lapor kepada siapa. Semoga ada solusi terbaik. Sehingga masyarakat sadar dan ada tindakan tegas dari pihak terkait untuk hal ini," ujar dia.

Dia menyampaikan, didaerah lain sudah ramai-ramai ditangkap karena lakukan pemboman ikan. Kenapa di Nagekeo dibiarkan begitu saja.

"Coba ada patroli rutin bagus. Bisa minimalisir terjadinya hal ini. Kalau ini tidak ada tindakan tegas maka kita akan begitu-begitu saja. Masyarakat akan terus lakukan bom ikan," ujar dia.(Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Gordi Donofan)

Sumber: Pos Kupang
Halaman 4/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved