Kamis, 7 Mei 2026

Jhon Prihatin Bom Ikan Marak Terjadi di Nagekeo, Laut Harus Dijaga

Tidak ada upaya pencegahan dan penindakan dari pihak terkait dengan aksi yang tak bertanggungjawab tersebut.

Tayang:
Penulis: Gordi Donofan | Editor: Rosalina Woso
POS KUPANG/GORDI DONOFAN
Warga Tendakinde Kecamatan Wolowae Kabupaten Nagekeo, Rabu (15/1/2020). 

Jhon Prihatin Bom Ikan Marak Terjadi di Nagekeo, Laut Harus Dijaga

POS-KUPANG.COM | MBAY -- Daerah perairan Nagekeo masih marak terjadinya bom ikan.

Tidak ada upaya pencegahan dan penindakan dari pihak terkait dengan aksi yang tak bertanggungjawab tersebut.

Pemerhati Pariwisata, Jhon Niku,
mengecam keras tindakan tidak terpuji tersebut.

Jhon mengaku sangat prihatin dan sangat menyayangkan kejadian yang merusak ekosistem laut. Yang jelas penggunaan bom ikan akan merusak terumbu karang dan juga biota laut lainnya. Ini menjadi persoalan yang harus dicegah secepat mungkin.

"Ini sesuatu yang tidak baik. Sangat disayangkan," ujar Jhon, kepada POS-KUPANG.COM di Mbay, Rabu (15/1/2020).

"Prihatin dengan situasi ini. Sangat disayangkan, ada banyak kekayaan bawah laut kita Nagekeo akan mati akibat bom ikan," sambung Jhon.

Jhon mengharapkan semoga pihak terkait segera mengambil tindakan untuk menyelamatkan kekayaan bawah laut khusus Nagekeo.

Jhon menyampaikan masyarakat pesisir pantai harus menjadi pelopor keselamatan biota laut.

Kawasan wisata dibawa laut akan menarik jika terumbu karang dan lainnya masih terpelihara dengan baik.

Kedepan akan menjadikan kawasan laut di Nagekeo sebagai obyek untuk snorkkeling dan diving.

"Perlu kepedulian dari masyarakat luas, selain pemerintah dan pihak keamanan untuk mejaga kekayaan bawah laut kita. Kedepannya bisa kita kembangkan wisata bawah laut seperti snorkkeling dan diving," ujar Jhon.

Ada Bom Ikan di Wilayah Perairan Desa Tendakinde Nagekeo

Sebelumnya, warga Desa Tendakinde Kecamatan Wolowae Kabupaten Nagekeo mengeluh lantaran diwilayah Pantai Utara Desa Tendakinde hingga Totomala masih ada terjadi bom ikan.

Warga Tendakinde, Kanisius Laga (54) mengatakan, selama ini sudah sering terjadi diwilayah perairan Desa Tendakinde dan itu dilakukan oleh orang profesional.

Oknum yang melakukan bom ikan bukan warga dari Desa setempat melainkan orang dari luar Wolowae.

"Ada (bom ikan) tapi mereka agak kedalam itu. Yang Bom juga bukan warga Tendakinde itu dari luar. Sering selama ini, ada patroli dari pihak berwajib tapi pakai batas waktu. Tidak terus menerus. m
Mereka yang bom ikan di kejauhan. Mereka lebih pintar," ungkap Kanisius, ketika dihubungi POS-KUPANG.COM Rabu (15/1/2020).

Kanisius menjelaskan daerah mereka memang sangat luas sehingga perahu dari luar Nagekeo bebas masuk.

Oknum melakukan bom ikan pada pagi, siang dan sore. Sedangkan pada malam hari tidak mungkin dilakukan.

"Kadang mereka sore hari, pagi-pagi. Tidak berani bom malam. Itu diseputar perairan wilayah Desa Tendakinde, Desa Totomala. Kami tidak pernah dapat mereka. Karena didalam laut jauh sekali," ujar Kanisius.

Ia mengaku masyarakat sangat sulit mengusir pelaku bom ikan dan pemerintah daerah Nagekeo harus mengambil langkah cepat untuk menindak pelaku.

"Harapan kami dari masyarakat supaya diperhatikan secara serius karena selain itu merugikan biota laut dan terumbu karang. Ikan kecil juga ikut mati," ujar Kanisius.

"Kami minta kepada pihak berwajib supaya mengambil tindak tegas. Sesuai prosedur yang berlaku," tambah Kanisius.

Terpisah Kapolres Nagekeo AKBP Agutinus Hendrik Fai, SH.MH, menegaskan pihak Kepolisian Resort Nagekeo akan menindak tegas kasus pengeboman ikan di wilayah Nagekeo.

Dirinya mengimbau agar masyarakat dapat proaktif bekerjasama dengan Pihak Kepolisian dalam memberikan informasi berkaitan dengan kasus pengeboman ikan.

Dirinya mengimbau agar masyarakat atau nelayan tidak turut serta membantu atau turut menikmati ikan hasil dari pengeboman ikan yang dilakukan oleh nelayan dari luar wilayah Nagekeo.

"Untuk sementara kami lakukan pendekatan persuasif, kita himbau agar tidak boleh melakukan bom ikan karena merusak ekosistem lainnya," ujar AKBP Agustinus.

Bom Ikan Diledakan Pagi dan Sore Hari

Sebelumnya, sekitar pukul 07.30 Wita sebuah perahu berwarna biru memasuki wilayah laut di Dusun Ndetumali D Desa Kotodirumali Kecamatan Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo, Minggu (5/1/2020).

Suasana diwilayah itu tampak sunyi. Terdengar dentuman ombak pecah dibibir pantai. Angin laut meniup cukup kencang. Ombak tak begitu deras. Di dalam perahu yang berlayar dari arah Maunori tampak dua orang laki-laki dewasa.

Bunyi motor laut perahu memecah kesunyian dikawasan bukit Ipi Mbu'u. Pelan-pelan melaju melewati bukit Ipi Mbuu.

Jarum jam menujukan sekitar pukul 07.40 mereka melewati bukit Ipi Mbu'u. Bunyi motor laut itu sudah hilang.

Sekira pukul 07.45 Wita, terdengar sebuah ledakan yang cukup deras dari arah laut.

"Itu mereka sudah ledak (bom ikan) Mari kita kesana," ujar Kepala Dusun Ndetumali D, Tobias Nusa (32) kepada POS-KUPANG.COM.

POS-KUPANG.COM bersama Kepala Dusun bergegas menuju sumber bunyi ledakan. Tepatnya disamping bukit Ipi Mbu'u arah ke Pantai Nangaroro.

"Ini masih wilayah dusun Ndetumali D Desa Kotodirumali. Mereka sudah ledak bom ikan. Kita pi cek," ujar Kepala Dusun.

Pantauan POS-KUPANG.COM, usai ledakan itu tampak sejumlah orang warga bergegas masuk kedalam laut untuk mengambil ikan yang diduga sudah mati akibat bom ikan.

"Mereka yang masuk ada 6 orang di dalam. Mereka warga disini, saya kenal dan tau mereka," ujar Kepala Dusun saat memantau aksi warga saat menyelam ambil ikan yang diduga selesai diledakan bom ikan.

Kemudian POS-KUPANG.COM bersama kepala dusunpun bergegas menuju dekat dengan mereka.

Hampir satu jam menunggu diluar pantai, enam orang warga baru keluar dari dalam pantai.

Pemilik perahu dan temanya langsung kabur tempat lain. Kuat dugaan mereka akan meledakan bom ikan dikawasan lain.

"Ada enam orang warga disini dan dua orang dengan perahu motor sudah ke tempat lain. Itu mereka bawa ikan hasil ledakan bom," ujar dia lagi.

Kemudian tampak satu orang pria dewasa tak mengenakan baju sedang duduk dibawa pohon. Ia tidak sempat masuk menyelam. Sedangkan enam orang lainnya sudah berhasil membawa ikan dari dalam laut.

Mereka terlihat memakai kacamata selam dan memegas beberapa ekor ikan dan bergegas balik ke rumah mereka.

"Mereka tidak mau omong, mereka tau saya orang yang paling tidak suka pakai bom ikan. Mereka pasti akan curiga saya. Tadi mereka mau kasi saya ikan dan saya tolak pasti mereka tambah curiga," ujar Kepala Dusun sambil balik arah menuju rumahnya.

Kata Kepala Dusun, aksi tak terpuji sudah berulang kali dikawasan Keo Tengah. Selain warga Keo Tengah ada juga terduga bawa bom ikan dari luar Keo Tengah yaitu dari Pulau Ende Kabupaten Ende.

Aksi ini sangat meresahkan dan menghancurkan ekosistem laut. Apalagi ikan-ikan kecil dan terumbu karang pasti sudah hancur.

Jika tidak ada tindakan dan penegasan dari pihak berwajib atau pihak berwenang maka biota laut akan punah.

Ia melanjutkan, selama ini saat surut mereka mulai beraksi. Awalnya memantau ikan. Jika kawasan itu sudah banyak ikan, bom ikan pasti akan diledakan.

Wargapun antuasias masuk kedalam untuk selam ambil ikan. Itu memang sudah sering terjadi disini.

"Kalau laut surut itu mereka datang. Pagi dan juga sore. Itu mereka pantau ikan duluan, mereka sudah ada ikan banyak dimana pasti akan ledak disitu. Saya tau persis dan tau sekali disini. Warga disini juga ikut ambil ikan," ujarnya.

Dirinya berharap setelah ada pemberitaan ada tindakan dari pihak pemerintah Kabupaten Nagekeo. Jika tidak ada pasti suatu saat akan ledakan bom ikan lagi.

Baginya, sosialisasi dan tindakan tegas segera diambil sehingga ada efek jera. Jangan dibiarkan begitu saja yang akan membuat persoalan ini persoalan yang biasa. Padahal sangat merugikan ekosistem laut.

Sekira pukul 10.34 Wita. Perahu berwarna biru yang ditumpangi dua orang yang diduga kuat melemparkan bom ikan, balik dari arah Nangaroro menuju Maunori.

Pantai Selatan Nagekeo Marak Terjadi Bom Ikan

Sebelumnya, Pantai bagian Selatan di Kabupaten Nagekeo, khususnya di Kecamatan Keo Tengah hingga Nangaroro marak terjadi bom ikan.

Oknum yang tak bertanggungjawab melakukan pemboman ikan pada siang hari. Itu dilakukan lewat rencana yang sangat baik sehingga mereka meledakan bom ikan guna mendapatkan tangkapan ikan yang banyak.

"Selama ini marak terjadi bom ikan disini. Kami tau itu setelah mereka yang bom itu sudah selesai ledak bom ikan di laut," ujar Kepala Dusun D Ndetumali, Tobias Nusa (32), kepada POS-KUPANG.COM di Ndetumali Desa Kotodirumali Kecamatan Keo Tengah, Minggu (5/1/2020).

Tobias mengatakan bulan Desember 2019 dan itu rupanya warga dari Kecamatan Keo Tengah. Selama ini sudah sering dan ini menjadi persoalan disini. Namun bagi sebagian masyarakat hal ini sebuah hal yang biasa. Padahal sangat berbahaya.

"Bom ikan terakhir diledakan ada tanggal 3 Desember 2019. Kita susah mau tertibkan. Ini menjadi persoalan besar diwilayah Keo Tengah, pada kita berupaya untuk menjaga biota laut namun ada yang merusak dengan cara meledakan bom ikan," ujar Tobias.

Tobias mengaku pembom ikan tidak hanya warga dari Kecamatan Keo Tengah namun juga ada dari Pulau Ende Kabupaten Ende dan itu ada satu dua orang yang datang. Persoalan ini seakan tak ada solusi.

"Saya jengkel sekali. Seolah-olah bom ikan itu menjadi kebiasaan disini. Ini persoalan tidak pernah selesai sejak kami kecil sampai saat ini," ujar dia.

Tobias mengaku pemerintah juga tak pernah ada respon soal ini. Pihak terkait lainnya seperti dinas perikanan tidak pernah datang patroli atau memberikan sosialisasi kepada masyarakat tentang bahaya bom ikan.

"Tidak ada patroli selama ini. Kami juga heran. Apakah ini dibiarkan begitu saja selamanya atau bagaimana. Ini bukan karang coba datang rutin kesini pasti akan kedapatan saat ada yang lakukan bom ikan," ujar dia.

Ia juga menyampaikan bahkan dirinya dimarahi bahkan dibenci oleh warga karena menolak dilakukan pemboman ikan.

"Dulu ada yang lapor soal orang dari luar datang mancing gurita disini, warga mengusir mereka. Saya tanya itu yang datang bukan mau hancurkan ikan semuanya tapi gurita saja kenapa dilarang? Kenapa kalian tidak larang yang datang bawa bom ikan lalu diledakan untuk mendapatkan ikan? Itu yang aneh disini, lebih memilih menggunakan bom ikan daripada yang mancing gurita," ujar dia penuh kesal.

"Itu mereka langsung diam. Mereka tidak datang lapor lagi. Itu masalahnya disini. Saya berharap agar melalui media pemerintah bisa mendengar keluhan kami," ujar dia lagi.

Dirinya menyampaikan jika persoalan ini dibiarkan secara terus menerus. Pasti suatu saat ikan atau biota laut diwilayah Keo Tengah hingga Nangaroro akan punah.

Ia menyampaikan bom ikan sangat merugikan dan sangat tidak ramah lingkungan.

"Kita mau lapor kepada siapa. Semoga ada solusi terbaik. Sehingga masyarakat sadar dan ada tindakan tegas dari pihak terkait untuk hal ini," ujar dia.

Dia menyampaikan, didaerah lain sudah ramai-ramai ditangkap karena lakukan pemboman ikan. Kenapa di Nagekeo dibiarkan begitu saja.

"Coba ada patroli rutin bagus. Bisa minimalisir terjadinya hal ini. Kalau ini tidak ada tindakan tegas maka kita akan begitu-begitu saja. Masyarakat akan terus lakukan bom ikan," ujar dia.(Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Gordi Donofan)

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved