Opini Pos Kupang
Dari Kota Menuju Penjara
Ayo, mari membaca dan simak isi Opini Pos Kupang berjudul: Dari Kota Menuju Penjara
Upaya untuk mengembangkan sistem ruang yang nyaman masih belum dilakukan. Kegagalan ini merata di kota-kota besar negara kepulauan ini.
Ketiga, hal yang perlu dicermati adalah prioritas atau struktur dasar perencanaan
sebuah kota. Saat ini master plan kota hanya menjadi penting untuk para tengkulak tanah, dan pemburu rente di sekitarnya. Sebaliknya dasar perencanaan kota tidak dibuat secara organik dengan menempatkan imajinasi manusia yang tinggal di dalamnya sebagai elemen dasar perencanaan.
Tanpa pelibatan manusia yang tinggal dalam kawasan kota, tata ruang kota berjalan seperti orang mabuk. Ditambah dengan para insinyur copy-paste, maka lengkap sudah gagal nalar ini.
Ya, persoalan orang-orang kelas bawah jarang menjadi agenda penguasa. Bahkan jika kawasan sub urban ini dikembangkan, hal pertama yang dipikirkan hanyalah membangun jalan-jalan ber-hot mix. Pendekatan proyek membuat program semacam ini populer. Sebab setelah jalan dibangun pembangunan seolah dianggap selesai.
Aspal mulus dalam kampung, hanya memberi kesenangan sesaat. Sebab setelah itu yang muncul adalah fenomena manusia salah tempat dan salah urus yang memacu kendaraan bermotor dengan kecepatan tinggi dalam kompleks perkampungan.
Selanjutnya polisi tidur menjadi semacam barikade kecil untuk memperlambat invasi.
Siklus kawasan penjara cenderung berulang. Daerah-daerah hunian baru yang tersebar di daerah pinggiran kegagalannya sudah terbaca. Janganlah kita berharap para perencana berpikir soal ruang hidup, jika akses jalan saja amburadul, karena dibiarkan diatur dalam tawanan pasar. Jika desain jalan saja tidak dipikirkan, apalagi `desain tata ruang'.
Metropolitan Sebagai Penjara yang Tertunda
Sejak beberapa tahun lalu seorang sahabat pengamat korupsi dalam birokrasi sudah mengungkapkan bahwa dalam banyak hal warga kota tidak membutuhkan pemimpin. Sebab hal-hal vital yang menyangkut hidup warga kota cenderung tidak diurus. Pernyataan sinis ini mungkin punya beberapa kebenaran di dalamnya.
Untuk bisa merancang sebuah kota yang orisinil dan menjawab kebutuhan warganya, maka para perencana tidak cukup hanya menjadi tukang stempel. Sebaliknya mereka harus menjadi `arsitek kota' dan bukan semata arsitek bangunan.
Tanpa kemampuan imajinasi dalam skala kota, dan dalam skala ruang waktu yang cukup memadai, metropolitan yang sedang muncul tak lebih dari penjara yang tertunda.
Apa sebabnya? Pembangunan di kawasan sub urban yang dibangun hanya menyoal soal aspal. Sedangkan detil ruang, fungsi lahan, dan bagaimana mempertahankan kawasan hunian tidak dibahas.
Apa buktinya? Para perencana kota maupun para pejabatnya dalam dua atau tiga dekade ke depan, sudah akan masuk dalam manusia lanjut usia. Pada saat itu baru mereka akan sadar betapa jalan-jalan kampung sudah menjadi `jalan utama' yang dipaksakan karena beban kendaraan bermotor. Ruang-ruang bermain yang aman untuk anak hilang. Selanjutnya kita akan panen sekian penyakit sosial yang sudah biasa mendera manusia kota: kesendirian (loneliness).
Saat ini jika para perencana tidak peduli pada kebutuhan ruang untuk anak-anak, maka sebenarnya mereka sedang menghukum diri sendiri. Sebab siklus menua akan menjadikan manusia menjadi tua, dan fungsi geraknya menurun, dan kecepatan pertumbuhannya berbanding terbalik dengan pertumbuhan anak. Yang satu sedang muncul, yang menua sedang pupus. Keduanya butuh ruang yang aman, karena fungsi gerak ada di level yang sama.
Dalam deru kendaraan bermotor, kawasan-kawasan sub urban sedang menghilang. Bukan tiada, tetapi dianggap tidak ada. Padahal dampaknya semakin jelas. Jalan-jalan beraspal menjadi penyekat utama, atau pilar penjara yang lain bagi warga. Dampaknya ruang gerak semakin terbatas, dan deru mesin seolah tanpa batas. Ketika deru mesin dianggap menjadi oksigen komunitas, jangan heran jika anak-anak kecil menganggap naik motor adalah hiburan, dan kematian di jalan raya menjadi hal biasa.
Perhatian lebih untuk kawasan-kawasan sub urban perlu segera diberikan. Ruang-ruang hidup di kawasan ini perlu dikaji, dibuka, dan diberikan prioritas. Kekuatan detil perencanaan tidak mungkin hadir jika modalnya adalah hafalan.