RD Gerardus Duka: Natal Sebagai Perayaan Solidaritas Di antara Tanda-Tanda Zaman

Kata Romo Gerardus Duka Pr: Natal sebagai perayaan Solidaritas di antara tanda-tanda zaman

Penulis: PosKupang | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM/VINSEN HULER
Vikjen Keuskupan Agung Kupang, RD Gerardus Duka, Pr. Jumat, (20/12/2019) di Keuskupan Agung Kupang. 

Kata Romo Gerardus Duka Pr: Natal sebagai perayaan Solidaritas di antara tanda-tanda zaman

POS KUPANG.COM| KUPANG- Natal merupakan sebuah perayaan solidaritas serentak menegaskan kaum kristiani untuk membaca tanda-tanda zaman di era pesatnya perkembangan teknologi dan berseliwernya gejala individualisme dan egoisme.

" Natal itu merupakan sebuah perayaan solidaritas: Perayaan solidaritas ini berarti peristiwa natal selalu memberikan kesempatan kepada umat Kristiani umumnya, baik itu Kristen Katholik maupun Kristen Protestan untuk melihat bagaimana Allah yang melalui peristiwa Yesus Kristus datang ke dunia, mengambil bagian dalam kehidupan manusia dengan meninggalkan ke-Allah-hanNya untuk datang ke dunia, masuk ke dalam kehidupan manusia supaya manusia mengalami kepenuhan hidup, mengalami pembebasan dan keselamatan, " Ucap Vikjen Keuskupan Agung Kupang, RD. Gerardus Duka, Pr. Jumat, (20/12/2019) di Keuskupan Agung Kupang.

Hasto Wardoyo : BKKBN Ingin Menjadi Penyelenggara Kesiapan Menikah

Jadi, kata RDM Gerardus, natal selalu memiliki pesan solidaritas antara manusia dengan manusia dan manusia dengan Allah.

Dalam rangka menyambut Natal tahun 2019 Gereja Katolik melalui KWI dan PGI mengusung tema ' Hiduplah sebagai sahabat bagi semua orang ' ( Yohanes 15:14-15).

Menurut RD. Gerardus Duka, Pr, esensi dari sahabat adalah solidaritas. Tema yang diusung ini bertolak dari persoalan nyata di dalam kehidupan masyarakat, dimana meningkatkanya individulisme dan egoisme.

Polres TTU Siap Amankan Natal dan Tahun Baru

Fakta munculnya gejala individualisme dimana kita hidup dalam sebuah kehidupan teknologi yang sekian cepat atau dalam istilah modern dikenal dengan sebutan Revolusi Industri 4.0 yang menekankan pada massifnya internet sehingga mempermudah manusia untuk berkomunikasi secara pribadi atau sendiri-sendiri.

Pesatnya kemajuan teknologi di satu sisi, menyebabkan kita hidup dalam dunia sekular merupakan konsekuensi logis dari sekularisme yang ditandai dengan munculnya individualisme, materialisme, pragmatisme, hedonisme dsb; sehingga manusia dalam melaksanakan aktifitasnya, lebih cenderung mengutamakan kepentingan diri sendiri; sementara sesamanya hanya dianggap sebagai objek dari kehendak atau keinginan kita.

Sedangkan di sisi lain, perkembangan ilmu pengetahuan membantu manusia untuk aktif, kreatif, inovatif dan instan.

Salah satu akibat dari individualisme berdampak pada sikap, perilaku manusia kepada sesama: Dahulu perjumpaan yang dilakukan dengan sesama dilakukan dalam bentuk perjumpaan fisis atau nyata. Namun sekarang, perjumpaan tersebut melalui dunia maya, facebook, twiter. Perjuampaan melalui medium teknologi bukan tanpa meninggalkan persoalan sebab terkadang orang lain dapat memperlakukan sesamanya sesuka apa yang ia mau hingga akhirnya menimbulkan permusuhan antara satu sama lain.

Oleh sebab itu, di masa natal ini; kita merayakan sebuah perayaan solidaritas Allah bagi manusia tetapi juga membangun persahabatan sebagai wujud orang percaya dan beriman kepada Tuhan.

Persahabatan yang dimaksud bukan hanya sekedar mencari teman tetapi juga merupakan ungkapan dari kesadaran batin untuk menyatakan bahwa semua yang ada bersama dengan saya; baik yang ada secara nyata maupun yang ada dalam dunia maya, sehingga komunikasi yang dijalin tidak menghasilkan komunikasi yang mendatangkan ketidakadilan dan gosip.

Dikatakan RD, Gerardus, tema natal di atas menjadi rujukan bagaimana umat Kristiani di Indonesia dapat melihat fenomena-fenomena dan diajak untuk membaca tanda-tanda zaman.

Tanda-tanda zaman yang nyata dalam kehidupan ini adalah perkembangan Ilmu pengerahuan yang berdampak pada percepatan teknologi. Aspek positif, dari perkembangan teknologi internet menjadikan kita dengan mudah dan instan mengakses internet. Sedangkan, di sisi lain, sebenarnya kita mengalami penurunan dalam kehidupan komunikasi.

Jadi, komunikasi yang paling utama dan paling penting itu adalah perjumpaan; dan perjumpaan yang ideal adalah perjumpaan model teologis; yang mana manusia harus mengambil model perjumpaan Tuhan dan Manusia.

Halaman
12
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved