Urgensi Dunia Media Massa yang Sehat

Urgensi Dunia Media Massa yang Sehat, Ditulis Maria Geong Wakil Bupati Manggarai Barat

Editor: Kanis Jehola
pos-kupang.com
Maria Geong 

Tingkat Literasi dan Minat Baca

Hal ini juga diperparah dengan masih rendahnya tingkat literasi kita. Pada tahun 2016 UNESCO merilis data yang menyebutkan bahwa tingkat literasi Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara yang disurvei. Persentase minat baca masyarakat Indonesia hanya sebesar 0,01 persen buku per tahun. Jepang persentasenya mencapai 15-18 persen buku per tahun atau Eropa anak-anaknya membaca 25-27 buku per tahun.

Tingkat literasi yang sangat rendah itu berbanding lurus dengan minat baca. Seorang pustakawan UGM, Lasa HS mengatakan bahwa minat baca masyarakat Indonesia pada umumnya sangatlah rendah. Hal itu antara lain terlihat dari jumlah pengunjung perpustakaan nasional dan perpustakaan daerah yang sangat sedikit. Bahkan, dari jumlah yang datang ke perpustakaan pun, hanya 10-20 persen saja yang meminjam buku.

Lebih miris lagi, dari penelitiannya di beberapa daerah, hanya ada 4,6 persen guru yang memanfaatkan perpustakaan, 58.5 persen lainnya tidak memanfaatkan perpustakaan dan sisanya jarang memanfaatkan perpustakaan (Seminar Peran Perpustakaan dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan", Semarang, 2/7/2011).

Di Manggarai Barat, hanya 1 perpustakaan daerah dan 3 perpustakaan desa. Jumlah kunjungan pada tahun 2017 tercatat cuma mencapai 4.284 orang. Angka ini masih sangat jauh bila dibandingkan dengan jumlah penduduk kota Labuan Bajo dan Manggarai Barat secara keseluruhan.

Dampak nyata adalah kurangnya wawasan yang berpengaruh pada daya kritis terhadap fenomena sosial budaya. Para pakar sosial menyakini bahwa informasi yang tidak tersaring dengan baik bisa terjadi akibat dari kategori konseptual, wawasan dalam pikiran seseorang yang kurang beragam.

Mereka mengatakan bahwa seseorang melakukan interpretasi terhadap informasi yang diperolehnya berdasarkan atas kategori konseptual yang ada dalam pikirannya. Semakin luas kategori konseptual atau wawasan seseorang, semakin kompleks intepretasi orang tersebut sebelum melakukan tindakan.

Ia pandai memilah informasi yang baik dan benar serta memperhitungkan segala akibat dari tindakannya.

Hanya dengan menciptakan dunia media yang sehat dan mengembangkan kemampuan literasi yang lebih baik, kita akan menemukan masyarakat yang kritis, cerdas dan memiliki tingkat budaya yang tinggi. Dari masyarakat seperti inilah, akan lahir pemimpin-pemimpin yang baik; pemimpin yang kuat.

Nah, seperti apa dunia media yang sehat itu? Sederhananya yaitu suatu kondisi di mana media memainkan fungsi informasi, edukasi dan hiburan dengan baik. Ketiga fungsi ini harus bersinergi dan sinkron dalam rangka menyajikan berita dan tontonan yang sehat. Media massa perlu memperhitungkan daya tangkap dan daya seleksi pemirsa. Media perlu memberikan edukasi agar masyarakat semakin kritis termasuk kepada para pemimpinnya.

Banyak contoh yang memperlihatkan bagaimana peran media dalam mengawal kepemimpinan seseorang: presiden, gubernur, bupati, camat, kepala desa hingga pemimpin-pemimpin organisasi. Dengan cara seperti ini akan lahir pemimpin-pemimpin yang baik, lahir generasi yang sehat dan memiliki karakter yang kuat.

Pasal 3 UU Nomor 32 Tahun 2003 mengamanatkan tujuan dari penyiaran adalah untuk memperkukuh integrasi nasional, terbinanya watak dan jati diri bangsa yang beriman dan bertaqwa, mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum, dalam rangka membangun masyarakat yang mandiri, demokratis, adil, dan sejahtera serta menumbuhkan industri penyiaran Indonesia.

Untuk itu, Negara harus hadir. Kementerian Kominfo, KPI, Dewan Pers, hingga ke Kepolisian Negara harus bisa berperan aktif dalam menciptakan kondisi ini mulai dari membina para pelaku media, menindak pengusaha media yang tidak taat hukum, hingga mendidik masyarakat untuk senantiasa menjadi konsumen yang aktif, peka dan kritis.

Dalam pandangan saya, kesadaran bermedia itu harus dimulai dari dalam keluarga dan di lembaga pendidikan. Kemampuan literasi, kemampuan memilah dan memilih tayangan yang baik akan bisa dicapai jika sejak dini anak-anak kita sudah dibiasakan membagi waktu dengan baik, pilih media yang tepat, dan memiliki budaya membaca. Peran orang tua dan guru menjadi sangat penting. Mereka adalah role model utama bagi anak.

Ahli pendidikan, Albert Bandura pernah mengatakan bahwa "bagaimana seorang anak berpikir, merasa, memotivasi diri, dan mempunyai rasa memiliki (self efficacy) salah satunya ditentukan oleh pemodelan (modeling). Apa yang dilihatnya dari tindakan/perilaku orang lain (live model).

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved