Urgensi Dunia Media Massa yang Sehat

Urgensi Dunia Media Massa yang Sehat, Ditulis Maria Geong Wakil Bupati Manggarai Barat

pos-kupang.com
Maria Geong 

Urgensi Dunia Media Massa yang Sehat, Ditulis Maria Geong Wakil Bupati Manggarai Barat

Oleh: drh. Maria Geong, Ph.D, Wakil Bupati Manggarai Barat

POS-KUPANG.COM - MASIH lekat dalam memori kita peristiwa ini. Seorang anak meninggal akibat di'smackdown' oleh teman-temannya. Mereka lakukan karena terinspirasi tayangan olahraga keras di televisi.

Kita juga pernah dihebohkan dengan terbongkarnya sindikat penyebar informasi bohong (hoax): CMA dan Saraccen. Kedua sindikat ini menyebarkan sejumlah berita bohong yang berbau SARA di Facebook, Instagram dan Twitter.

Wacana Amandemen UUD, Hidayat Sebut NasDem Dorong Jabatan Presiden 3 Periode

Masyarakat terprovokasi. Terjadilah aksi-aksi kriminal seperti persekusi, ujaran kebencian, fitnah, serta aksi main hakim sendiri di tengah masyarakat. Ini contoh kasus betapa dasyatnya pengaruh media massa, televisi, surat kabar maupun media sosial.

PBB pernah mengungkapkan bahwa sejak ditemukan pada tahun 1925, media televisi telah menjadi alat utama yang mempengaruhi perkembangan peradaban manusia.

Teknologi komunikasi telah menjadi kekuatan yang menginformasikan, menyalurkan dan memengaruhi opini bahkan kebudayaan masyarakat dunia. Ada survey yang dilakukan Nielsen pada tahun 2014; menyebutkan bahwa rata-rata masyarakat kita menghabiskan waktu 3 sampai 5 jam perhari untuk mengkonsumsi informasi dan hiburan dari berbagai media massa. 95 Persen masyarakat kita mengkonsumsinya dari media televisi, 33 persen dari internet, 20 persen dari radio, 12 persen dari koran, dan 5 persen dari majalah.

Puluhan Mahasiswa Ingin Temui Menko Polhukam Mahfud MD, Ternyata Ini yang Diperjuangkan

Dan diprediksi akan ada lebih dari 1,68 miliar televisi yang akan mengisi ruang-ruang keluarga di seluruh dunia. Tidak heran jika media masa akhirnya menjadi kebutuhan keseharian manusia.

Mutu Konten Media Massa dan Dampaknya

Sayangnya tidak semua konten informasi dan hiburan ini layak untuk dikonsumsi. Tidak semuanya memiliki nilai positif. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) misalnya dalam sebuah laporannya berjudul Survei Indeks Kualitas Program Siaran Televisi Periode 1 2017 mengungkapkan bahwa meski televisi merupakan medium yang paling luas jangkauannya, terutama di Indonesia, mutu acara yang ditayangkan masih medioker.

Halaman
1234
Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved