Innalillahi! Kabar Duka dari Ustadz Yusuf Mansur, Kiai Kharismatik Betawi yng Dihormatinya Ini Wafat

Innalillahi! Kabar Duka dari Ustadz Yusuf Mansur, Kiai yang Dihormatinya Meninggal Dunia

Penulis: Agustinus Sape | Editor: Bebet I Hidayat
Youtube Yusuf Mansur Official
Innalillahi! Kabar Duka dari Ustadz Yusuf Mansur, Kiai Kharismatik Betawi yng Dihormatinya Ini Wafat 

Walau bukan ayahnya, saya menghormati anaknya sama seperti dengan menghormati ayahnya, karena mereka adalah putra dari guru –guru saya,” kata KH Abdurrahman Nawi.

Sementara itu, Wali Kota Jakarta Selatan pada tahun 80-an, yakni H Mukhtar Zakaria, SH pernah menjulukinya sebagai ulama antik kepada bapak tiga belas anak (7 putra, 6 putri) ini.

Sebutan sebagai ulama antik dilekatkan pada diri KH Abdurrahman Nawi, bukan tanpa alasan.

Pokok-pokok pikirannya terbilang antik pada masa itu, di mana setiap gagasannya sejalan dengan program pemerintah dan juga jabatan ulama yang melekat pada dirinya.

Terlepas dengan berbagai julukan yang dilekatkan kepada KH Abdurrahman Nawi itu tidak membuatnya semakin menutup diri dari berbagai aktivitas keagamaan, justru ia semakin dekat dengan berbagai kalangan, tidak saja pejabat teras sampai ke kalangan masyarakat awam.

Itulah sikap dan prinsip hidup dari ulama Betawi putra kesepuluh dari sebelas bersaudara pasangan H Nawi bin Sueb dan Hj Ainin binti H Rudin.

Abuya Abdurrahman Nawi adalah sosok ulama, dai dan pengajar ulama yang komplit.

Ia pernah di Mahad Ali As-Syafi’yah KH Abdullah Syafi’i (Jatiwaringin) dan juga di Darul Arkom. Jabatan di kemasyarakatan yang pernah ia pegang adalah sebagai Mustasyar Nahdlatul Ulama Cabang Jakarta Selatan.

Dalam sepuluh tahun terakhir ia menjadi salah satu anggota Dewan Penasehat MUI Pusat (1997-sekarang).

Sejak kecil ia telah dididik dalam lingkungan yang sarat religius. Sebagaimana santri-santri, waktunya dihabiskan untuk mengaji dengan ulama-ulama Betawi yang ada pada masa itu.

Ia berguru KH Siman (Tebet), KH Ghozali, KH Mohmmad Natsir, KH Mohammad Zein bin H Said, KH Muhammad Yunus, KH Ahmad Junaidi, KH Mahmud, KH Abdullah Syafi,i (Balimatraman), Ustadz Hadi Jawas, Syekh Abdullah Arfan (Tanah Abang) dan lain-lain.

Ulama Betawi yang paling berkesan baginya adalah KH Muhammad Yunus (Tebet), ia merupakan guru banyak bidang agama utamanya ilmu-ilmu paramasastra bahasa Arab.

“Dari beliau saya banyak belajar tentang Bahasa Arab, Nahwu, Sharaf dan Lughah.” Sedang dalam ilmu balaghah, ma’ani, bayan ia banyak menyerap ilmu dari Prof. KH Ali Yafie (Mantan ketua MUI) di rumahnya yang terletak di Rawamangun.

Sebagaimana ulama-ulama Betawi lainnya, ia juga banyak belajar dengan kalangan Habaib seperti Habib Ali bin Husein Alattas, Habib Abdullah bin Salim Alattas, Habib Muhammad bin Ahmad Al-Haddad, Habib Husein Al-Habsyi, Habib Syekh Al-Musawwa dan lain-lain.

Guru dari kalangan Habaib yang banyak menempanya menjadi seorang dai yang handal adalah Habib Ali bin Husein Alattas (Habib Ali Bungur).

Halaman
1234
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved