Pekka Lembata Didik Anak Tidak Buang Sampah Plastik

Festival budaya di Pekka Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata mendidik Anak tidak buang sampah plastik

Penulis: Ricardus Wawo | Editor: Kanis Jehola
POS KUPANG.COM/RICKO WAWO
Festival Budaya Anak yang berlangsung di Center Pekka Keru Baki, Desa Amakaka, Kecamatan Ile Ape, 26-28 Oktober 2019. 

Festival budaya di Pekka Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata mendidik Anak tidak buang sampah plastik

POS-KUPANG.COM | LEWOLEBA - Festival Budaya Anak yang berlangsung di Center Pekka Keru Baki, Desa Amakaka, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata telah usai, Senin (28/10/2019) malam.

Ratusan anak dari desa-desa di Kecamatan Ile Ape dan Ile Ape Timur turut ambil bagian hingga hari terakhir.

50 Kepala Keluarga di Desa Lukuwingir, Sumba Timur Dapat Air Bersih dari BPBD

Selain menanamkan rasa cinta budaya dan tradisi lokal melalui beraneka ragam perlombaan, festival yang baru digelar perdana di Kabupaten Lembata ini juga mengajarkan kepada anak-anak bagaimana seharusnya mencintai lingkungan.

Di samping mengadakan perlombaan kreativitas mengolah sampah plastik, salah satu cara yang digunakan panitia yaitu dengan terus-menerus mengimbau kepada mereka agar tidak membuang sampah plastik sembarangan selama festival berlangsung.

"Sebelum kita lanjut, kepada adik-adik semua jangan membuang sampah plastik sembarangan. Coba lihat ke bawah, kalau ada sampah plastik, pungut dan buang di tempat sampah," demikian imbauan yang terus menerus disampaikan salah satu panitia, Nona Melti, setiap kali satu kegiatan mau dimulai.

Ini yang Dilakukan Unimor Antisipasi Masuknya Paham Radikalisme di Wilayah Kampus

Kepada anak-anak, dia selalu menggarisbawahi pentingnya tidak membuang sampah sembarangan terutama sampah plastik.

Sikap anti sampah plastik ini juga jelas ditunjukkan oleh panitia penyelenggara yang rata-rata adalah anak muda dan ibu-ibu.

Selama tiga hari giat berlangsung, tidak terlihat sama sekali air minum yang dihidangkan dalam kemasan botol atau gelas plastik.

Air minum diisi di dalam termos dan galon air. Para peserta juga hanya memakai gelas kaca untuk minum air. Ratusan gelas kaca juga digunakan pada saat makan bersama.

Panitia sama sekali tidak menyediakan air minum dalam kemasan plastik. Walhasil, kompleks seluas hampir satu hektare yang dijadikan lokasi festival itu betul-betul bebas dari sampah plastik.

Panitia tidak kesulitan saat membersihkan areal center karena hampir tidak ada sampah plastik yang berserakan. Hal ini tentu saja sejalan dengan salah satu tujuan diadakannya festival yaitu menanamkan dalam diri anak rasa cinta terhadap alam dan lingkungan hidup.

Festival Budaya Anak Jadi Event Setiap Tahun

Pergelaran Festival Budaya Anak menuai apresiasi dari banyak pihak. Walau digelar dengan sejumlah keterbatasan, festival selama tiga hari itu dinilai sukses dan bermanfaat bagi anak-anak.

Kepala SD Aulesa Yohanes Payong bahkan memberi kesaksian kalau para perempuan di Center Pekka Keru Baki Lembata yang jadi panitia festival luar biasa hebat.

"Laki-laki hebat tetapi perempuan lebih hebat. Perempuan mampu sekali untuk bertahan hidup. Semua serba terbatas tapi semuanya bisa berjalan dengan baik. Ini karena semangat serius, santai, santun dan tulus. Di dalam kesantaian tapi ada keseriusan. Semua peserta santun dan tunduk pada aturan dan ketulusan ini jadi faktor penentu. Saya harap festival budaya anak ini tidak berhenti tahun ini. Kalau bisa adakan lagi tahun depan dan libatkan unsur pendidikan sebagai pelaksana," tegasnya.

Hal senada juga diungkapkan salah satu juri perlombaan Michael Amun. Menurut Michael kegiatan ini harus diadakan lagi tahun depan dengan melibatkan pemerintah Kabupaten Lembata.

"Kami mengharapkan kepada semua peseta lomba, hari ini kalau kalian belum beruntung maka masih ada hari esok, jangan patah semangat, harus lebih semangat," pesannya.

"Harapannya adik-adik yang ikut kegiatan bisa tumbuh dan berkembang dalam sanggar budaya di desa masing-masing. Semoga proses festival ini bisa menjual hal hal yang selama ini terpendam," demikian yang diungkapkan Kepala Desa Amakaka, Thomas Tiro Purab.

Menanggapi keinginan banyak pihak menjadikan Festival Budaya Anak sebagai event tahunan, Ketua Wali Amanah Serikat Pekka NTT, Petronela Peni Loli, mengatakan festival bertemakan budaya dan lingkungan itu akan berlanjut tahun depan kalau ada dukungan dari pemerintah desa.

"Kita sudah bubuhi tanda tangan supaya kita bisa lanjutkan tahun depan," ungkapnya sembari mengatakan kalau antara pemerintah desa, kecamatan dan Pekka Lembata sudah bersama menyepakati nota kesepahaman supaya festival itu jadi gelaran tahunan dengan adanya kontribusi dari APBDes masing-masing desa.

Fasilitator lapangan Program Pekka NTT, Bernadete Langobelen menyebutkan proses pemberdayaan Pekka Lembata tidak hanya pada para ibu tapi juga pada generasi muda anak-anak.

"Tahun depan pasti akan kita lakukan asal ada kerja sama," tegasnya.

Dia juga mengatakan penandatanganan deklarasi dan nota kesepahaman dengan pemerintah desa supaya Festival Budaya Anak jadi event tahunan adalah sejarah pertama bagi Pekka Lembata. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, RICKO WAWO)

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved