Mari ! Mengenal Lebih Jauh Tentang Sakura Sumba dan Nikis, Pesona Alam Yang Masih Tersembunyi

Upaya melestarikan Sakura Sumba dan Nikis tidak semudah membalikan telapak tangan. Butuh perencanaan yang tepat

Editor: Rosalina Woso
Kiriman Bernhard Yulizhu dari Sumba Timur untuk Pos Kupang.com
Nikis atau Bubunik atau Tengguli (Cassia fistula) ketika sedang mekar 

Tanaman jenis dari Cassia yang mirip (daun dan bunganya) dengan Cassia javanica adalah Cassia grandis yang banyak tumbuh di Amerika Latin yang tersebar dari bagian selatan Mexico, Venezuela dan Ecuador.

Ada juga Cassia bakeriana yang merupakan tanaman endemik di Myanmar (Birma) dan Thailand kemudian diintroduksi ke Malaysia dan New Guinea. Jenis-jenis Cassia ini cukup populer sebagai tanaman hias dan pohon peneduh di negara-negara tropis Asia, Amerika Tengah dan Amerika Latin.

Cassia bakeriana, biasanya juga disebut pink shower tree, pohon yang menghasilkan bunga dengan ukuran tinggi pohon mencapai 20-30 m.

Pohon ini adalah pohon asli yang dapat ditemukan di kawasan hutan di Thailand dan Myanmar (Burma). Kini pohon-pohon ini ditanam sebagai tanaman hias di daerah tropis dan sub-tropis di berbagai belahan dunia.

Cassia javanica (Sakura Sumba, Konjil, Buni, Bubunik)

Salah satu pohon potensial yang dapat dikembangkan sebagai pohon hias adalah Cassia javanica yang akhir-akhir ini di kenal dengan nama “Sakura Sumba” karena banyak tumbuh dan sangat populer di Sumba dan kemiripannya dengan bunga sakura di Jepang.

Padahal pohon ini sangat berbeda dengan pohon sakura yang ada di Jepang. Nama latin Sakura di Jepang adalah Prunnus serrulata dan hanya tumbuh di daerah beriklim sedang (temperate).

 Namun karena sudah populer dengan nama “Sakura Sumba” banyak orang memakai nama yang semakin populer di NTT ini.

 Soal Sakura, bukan hanya heboh di NTT tetapi juga di Surabaya, karena di sana ada juga “Sakura Surabaya” yang nama aslinya adalah Tabebuya (Tabebuya Chrysotrica) yang berasal dari Brazil.

 Dan juga uniknya warnanya ada yang kuning dan ada yang pink. Orang kita ada yang menyebutnya sebagai “Sakura Brazil”. Tabebuya ini adalah tanaman tropis namun juga berbunga lebat umumnya pada musim kemarau.

 Sakura asli jelas hanya ada (beradaptasi) di Jepang dan wilayah beriklim sedang (temperate) lainnya bukan di daerah tropis apalagi di wilayah semi rinkai (semi arid) seperti NTT ini.

 Sakura nama bunga asli Jepang dengan namanya dalam Bahasa Inggeris Japanese Cherry. Sakura ini sekarang sudah menyebar luas di beberapa negara Asia seperti China, Taiwan, Korea dan lainnya yang mempunyai iklim sedang (temperate). Jadi sulit Sakura asli jepang bisa tumbuh di NTT.

Sakura Jepang adalah jenis tanaman dari kelompok ordo/bangsa Rosales, family/Suku Rosaceae dan genus/marga Prunus dan nama speciesnya Prunus serrulata.

 Ada beberapa species Sakura yang dapat ditemukan di Jepang. Namun puluhan species dari genus prunusyang dapat ditemui di berbagai negara beriklim sedang.

 “Sakura Sumba” adalah salah satu species dari marga/genus Cassia dengan nama ilmiah Cassia javanica. Tanaman ini termasuk dalam bangsa/ordo Fabales, family/suku Fabaceae, sub-family Caesalpinioideae, dan nama speciesnya Cassia javanica. Menurut ahli taxonomy tanaman Cassia javanica dan Cassia fistulatermasuk dalam kelompok divisi tanamam berbunga (Magnoliophyta) dan sub-divisi atau class tanaman dicotyledons (Magnolipsida). Dengan demikian sangat jelas bahwa Sakura Sumba berbeda sekali dari Sakura Jepang.

Cassia javanica yang populer dengan nama “Sakura Sumba” mulaidibudidayakan oleh Pemerintah Sumba Timur sebagai tanaman hias dan maskot kota Waingapukemudian mulai dikembangkan di Sumba Tengah dan Balai Pengelolaan DAS, Dinas Kehutanandan Lingkungan Hidup Propinsi NTT.

Saat ini Cassia javanica masih ada dan terlihat dalam jumlah terbatas dan tersebar di Timor (Kupang Timur, Amarasi, Kupang Barat, Kupang Tengah),  Daerah Rote Timur sekitar Daiama di Rote, dan Sumba. Dalam kunjungan  awal Oktober ini Tony Djogo menemukan Mudi atau  Cassia javanica di daerah Tutubhada/Rendu di Nagekeo, Flores.

Penyebaran pohon-pohon ini dapat dilihat  dan dipetakan  dalam musim kemarau karena lebih mudah diidentifikasi.

Tanaman-tanaman ini dapat ditemui di berbagai pulau di NTT namun fakta menunjukkanbahwa populasi dan sebaran tanaman ini sangat terbatas bahkan terus berkurang.

Tanaman tanaman ini mempunyai nama lokal yang berbeda-beda di tiap-tiap pulau. Di Sumba Cassia javanica lebih dikenal dengan nama “Sakura Sumba” walapun ada nama lokal yang disebutKonjil.

Pohon ini di Sumba dikenal dengan nama Konji, di Rote disebut Bubuni atau Bubunik, di Timor namanya Buni, di Belu  namanya Bunga Arus, sedangkan di daerah Nagekeo disebut dengan nama Mudi. Orang  Helong menamakan tumbuhan ini Kikili.

Pengembangkan Cassia javanica dan Cassia fistula ini bisadimulai dengan pengumpulan data sebaran pohon, sumber benih, dan pengembangan teknik budidaya di seluruh NTT untuk ditanam di kawasan destinasi wisata dan perkotaan terutama di daerah kering.

Walaupun tanaman ini mulai populer sebagai tanaman hias di Sumba, tanaman ini juga tumbuh liar di alam di Rote, Timor dan Flores serta kemungkinan besar ada di Alor dan Sabu.

Masih perlu kajian lebih lanjut mengenai lokasi penyebaran, adaptasi, populasi pohon, kegunaan menurut masyarakat lokal dan potensi sumber-sumber benih. Para ahli botani atau biologi dan kehutanan mungkin dapat meneliti apakah jenis yang ada di Sumba sama dengan yang ada di Rote atau Timor.

Secara sepintas warna bunga yang ada di Sumba lebih cerah dengan dominasi warna merah muda sedangkan di Rote dan Timor di dominasi warna putih kekuningan dan sedikit merah jambu (pink).

Namun beberapa tempat di Timor juga ada yang mempunyai dominasi bunga yang berwarna merah jambu kombinasi putih kekuningan dan merah tua (crimson) yang sangat cerah.

Apakah berbeda sub-species agau perbedaan ini karena adaptasi terhadap kondisi biofisik setempat? Saat ini ada kurang lebih tujuh sub-species Cassia javanica yang tersebar di berbagai negara.

Cassia javanica berasal atau merupakan tanaman asli Indonesia. Kemungkinan besar juga tanaman ini endemik di NTT karena bisa ditemui di berbagai pulau di NTT. Sakarang Cassia javanica sudah berkembang atau menyebar ke beberapa negara seperti Cina, Kamboja, Thailand, Myamar; Mauritius dan Amerika Serikat serta negara-negara Kepulauan Pasifik, Amerika Tengah dan Selatan.

 Jika pohon sakura di Jepang berbunga pada musim semi, selepas musim dingin pada bulan Maret, “pohon sakura” di Sumba justru berbunga pada musim kemarau sekitar bulan September dan Oktober. Di Rote asih dapat dilihat pohon ini berbunga dalam bulan Desember.

Ketika saatnya mekar, bunga “sakura sumba” tampak sangat dominan dan mengatupi daun-daun hijau pohonsakura. Sehingga seolah-olah pohon sakura tidak memiliki daun lagi. Warna-warninya sangat indah. Terlihat didominasi oleh warna-warni pink atau merah mudah dan putih. Juga memancarkan wewangian, harum khas bunga sakura Sumba.

Pada musim hujan bunga-bunga sudah berkurang dan biasanya pada bulan Januari atau Pebruari bunganya sudah tidak ada lagi dan pertumbuhan daun sangat lebat.

“Sakura Sumba” atau Cassia javanica sebenarnya tumbuh di pulau-pulau lain di NTT dan tentu saja di daerah lain di Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara dan Selatan. Ada berbagai nama lokal di tiap pulau atau di kabupaten di mana tanaman ini tumbuh.

Pohon ini tumbuh liar di alam dan sangat tahan terhadap kekeringan. Karena keindahan bunga tanaman ini dan mempunyai adaptasi yang tinggi terhadap kekeringan dan dapat ditemui hampir di seluruh wilayah NTT, Gubernur NTT menyarankan untuk menanam tanaman ini sebagai pohon penghias taman dan pinggir jalan kota-kota di NTT serta kawasan destinasi wisata.

Untuk sementara, belum ada survei mengenai sebaran dan populasi pohon ini di Nua Tenggara Timur.

Pohon ini dapat dijumpai di Sumba dengan mudah dapat disaksikan di sekitar pantai pesisir utara dan beberapa ruas jalan raya Sumba Timur. Saat ini juga sedang dibudidayakan di bebrrapa daerah lain di Sumba. Pohon ini juga tumbuh liar di alam di Pulau Rote, Timor dan Flores. Mudah-mudahan dapat ditemui di pulau-pulau kecil lainnya.

Menyadari keindahan Sakura Sumba, Pemda Kabupaten Sumba Timur kemudian memasukan musim berbunga tanaman ini sebagai salah satu atraksi wisata dalam kalender wisata tahunan kabupaten pada bulan Oktober sampai November.Wisatawan berburu waktu untuk sempat mengabadikan gambar bersama Sakura Sumba yang sedang mekar.

Namun belum ada upaya pemuliaan yang memadai dan terkonsentrasi secara khusus untuk penyediaan bibit tanaman juga perencanaan dari Pemda Sumba Timur untuk penanaman pada lokasi tertentu atau sebagai penghias kota. Sakura Sumba masih tumbuh sebagai tanaman hutan yang tumbuh secara sporadis tanpa pemeliharaan dan penataan.

Dalam jangka panjang, bila tidak ada perhatian dan upaya melalui program dari pemerintah setempat  maupun jajaran Pemda lainnya terhadap tanaman ini maka bisa punah dan generasi kita akan  kehilangan salah satu kekayaan flora yang indah ini.

Nikis(Cassia fistula)

Cassia fistula atau  dalam Bahasa Indonesia disebut  Tengguli, Trengguli atau Kayu Raja,   adalah salah satu tanaman yang bunganya indah berwarna kuning potensial untuk manfaatkan sebagai  tanaman hias. Tengguli umumnya tumbuh liar di hutan namun populasinya semakin menurun walaupun ada di tanam diberbagai pagar sebagai tanamamn hias dan sebagai sumber bahan obat-obatan. Karena terus dieksploitasi  tanaman ini semakin jarang ditemukan di pedesaan. Walaupun demikian sudah ada penanaman di kota-kota sebagai pohon hias.

Tengguli atau Cassia fistula dinamakan Buni di Rote juga Sedangkan di Timor dinamakan Nikis. Beberapa daerah di Flores menamakan tanaman ini dengan Ebu, Hebu dan Sebu.

Nikis di Rote
Nikis di Rote (Kiriman Tony Djogo untuk POS KUPANG.COM)

Cassia fistula masih terlihat dalamjumlah yang banyak di Timor seperti di Kupang Tengah, Amarasi, Kupang Barat dan sekitarnya. Pohon-pohon ini juga dapat ditemui di Pulai Rote. Di Flores masih banyak ditemui di Aimere, Gero, Rendu dan sekitar Boawae, Manggarai Barat, Manggarai Timur dan Sumba Barat

Cassia fisatula, yang dalam bahasa Indonesia disebut Tengguli, umumnya tidak di tanam, tumbuh liar, namun dimanfaatkan dari alam sebagai tanaman obat atau untuk bangunan adat di NTT. Tanaman-tanaman ini berbunga sangat indah terutama pada puncak musim kemarau.

Di Nusa Tenggara Timur Pohon ini dapat di temui di hampir semua pulau. Di Kota Kupang dan sekitarnya dapat ditemui beberapa pohon yang tumbuh secara alamiah. Belum ada informasi apakah pohon ini pernah di tanam di NTT selain yang tumbuh secara alamiah.

Tanaman ini berasal atau  endemik di India dan Asia Tenggara  tentu saja Indonesia, namun kini sudah menyebar ke berbagai negara seperti di Afrika Timur, Australia, Egypt, Ghana, Mexico, Pakistan, Zimbabwe.   Tanaman ini digunakan sebagai sumber  bahan untuk obat sudah sejak jaman dulu sampai  jaman moderen ini. Karena itu tanaman ini menyebar luas ke berbagai negara lain di wilayah tropis. Pohon ini  termasuk tanaman  yang cepat tumbuh dan tingginya  berkisar antara  5 – 10 meter,  namun bisa mencapai  ketinggian 10-20 m.

Tanaman ini mempunyai beberapa nama dalam Bahasa Inggeris seperti  the golden shower, purging cassia, Indian laburnum  atau  golden shower cassia. Di negara-negara berbahasa Spanyol disebut caña fistula.

Tanaman ini mempunyai bunga kuning,  dengan ukuran daun yang lebih besar dari pada Cassia javanica,  tersusun berselang-seling, dengan  4-8 daun  berbentuk lonjong.

Di Ngada, Nagekeo dan Manggarai,  Flores umumnya digunakan sebagai bahan bangunan  rumah adat adat. 

Cassia fistula bisa ditemukan di India, Pakistan, Myanmar, Australia, Egypt, Ghana, Mexico, Zimbabwe, Thailand, Malaysia and Sri Lanka. Cassia fistula bahkan pernah ditemukan pada ketinggian  1,200 meters di wilayah pegunungan Himalaya. Pohon ini disebut juga Kayu Raja dan Bunga Trengguli atau  Tengguli, adalah bunga kebangsaan negara Thailand. Cassia fistula bahkan menjadi bunga  nasional di Thailand dan bunga negara bagian Kerala India.

Di negara Laos saat Cassia fistula berbunga biasanya muncul pada tahun baru di Laos,  di mana orang mempersembahkan bunganya di kuil-kuil atau digantung di rumah sebagai  doa untuk mendapatkan berkat dan kebahagian.

Cassia fistula yang disebut dengan nama the golden shower tree (pohon hujan berwarna keemasan)  adalah bunga negara bagian Kerala di India.  Bunganya sangat penting untuk upacara (ritual) dalam festival Vishu di  Kerala. Tanaman ini juga adalah tanaman penghasil bunga nasional Thailand.  Di mana warna kuning melambangkan simbol Kerajaan Thailand.

Selain untuk tanaman hias pohon ini sebenarnya juga dapat digunakan sebagai pohon pelindung dan reboisasi. Di Pulau Flores Cassia fistula mempunyai nilai budaya yang tinggi karena kayunya digunakan untuk bangunan adat khususnya di Ngada dan Nagekeo. Karena sering ditebang populasi pohon kayu ini sudah semakin berkurang di Ngada, Nagekeo dan Manggarai.

Di bidang pertanian dan kehutanan Cassia fistula dapat digunakan sebagai pohon pelindung karena daya tahah terhadap kekeringan. Kayu Cassia fistula sangat keras dapat digunakan untuk tiang, gagang parang dan pisau. Di Flores digunakan sebagai tiang utama bangunan adat yang harus melalui beberapa upacara ritual sebelum dipotong.

Cassia fistula mempunyai berbagai kegunaan sebagai sumber bahan obat herbal.  Hasil penelitian di India menunjukkan bahwa daun Cassia fistula sangat efektif sebagai obat pencahar yang juga aman untuk anak-anak dalam dosis tertentu. Jika diberikan dalam jumlah terlalu banyak akan menyebabkan pusing dan muntah-muntah sakit dan kram di perut.

Daun Cassia fistula bisa digunakan  obat penangkal tumor  bagian perut, kelenjar hati, dan tenggorokan, mengatas luka bakar, kanker, constipation, convulsions, delirium, diarrheadysuria, epilepsy, gravel, hematuria, pimples, and glandular tumors dan sebagainya. Di India bunganya kadang-kadang dimakan manusia. Daunnya juga digunakan sebagai suplemen pakan ternak sapi, kambing, dan domba.

Cassia fistula adalah tanaman yang menggugurkan sebagian besar daunnya pada musim kemarau dengan meninggalkan bunga-bunga berwarna kuning yang sangat dominan. Semakin kering suatu daerah semakin banyak bunga  yang dihasilkan pada musim kemarau.

Berdasarkan data dan kajian dari beberapa negara tanaman ini bisa tumbuh di berbagai daerah kering atau semi kering dalam  wilayah zona iklim  tropis maupun sub-tropis.  Walaupun tahan terhadap kekeringan,  tanaman ini bisa beradaptasi baik di wilayah dengan  variasi curah hujan antara 480 – 2720 mm per tahun. Tanaman ini juga tahan naungan yang tidak begitu lebat dan tahan  kering.

Sama seperti Cassia javanica,  Cassia fistula  dapat di budidaya dengan mudah dengan menggunakan benih. Cassia fistula juga  berbunga dalam musim kemarau (April –  November atau Desember) umumnya polong dapat dipetik diakhir mudim kemarau untuk diambil benihnya (biji).

Biji dapat direndam atau tidak direndam lalu dimasukan dalam polybag besar atau pesemaian yang berisi tanah dicampur pupuk kandang dan pasir. Dalam dua atau tiga minggu  kecambah sudah muncul. Bibit yang sudah jadi berumur satu atau dua minggu   dapat dipindahkan ke dalam polybag  kecil dan dibiarkan membesar sampai dapat dipindahkan untuk ditanam di tanah.

Potensi pengembangan Cassia javanica, Cassia fistula dan  jenis-jenis Cassia lainnya sangat tinggi di wilayah NTT. Masih minimnya penggunaan tanaman lokal sebagai penghias kota, selama ini bibit dan jenis tanaman hias lebih banyak diambil dari luar daerah NTT dan didominasi oleh tanaman exotic.

Selain potensial sebagai tanaman hias, pohon-pohon ini juga mempunyai beberapa kegunaan lain yang dapat dikaji lebih lanjut. Untuk itu perlu didukung dengan upaya domestikasi dan budidaya tanaman ini untuk meningkatkan populasi pohon-pohon ini baik di hutan alam, kawasan pedesaan, perkotaan maupun di wilayah destinasi wisata.

Para peneliti atau akademisi disarankan melakukan penelitian tentang penyebaran di berbagai pulau NTT, teknik budidaya yang lebih baik, dan kandungan zat-zat kimia dalam tanaman ini karena di beberapa negara digunakan sebagai obat.

Pemerintah Provinsi NTT telah menetapkan tanaman ini sebagai salah satu tanaman hias pilihan yang akan dikembangkan di berbagai daerah di NTT.(*)

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved