Anak Berkebutuhan Khusus di NTT Mencapai 8000 Lebih, 5000 Lebih Belum Dijangkau

Jumlah anak berkebutuhan khusus di NTT mencapai 8000 lebih, 5000 lebih belum dijangkau

Anak Berkebutuhan Khusus di NTT Mencapai 8000 Lebih, 5000 Lebih Belum Dijangkau
POS-KUPANG.COM/RYAN NONG
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, Benyamin Lola 

Jumlah anak berkebutuhan khusus di NTT mencapai 8000 lebih, 5000 lebih belum dijangkau

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Jumlah Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di NTT sebanyak 8000 lebih dan tersebar di seluruh kabupaten dan kota di NTT. Jumlah ini baru bisa dijangkau pemerintah sekitar 3200 anak.

Hal ini disampaikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT , Drs. Benyamin Lola,M. Pd melalui Kepala Bidang Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK) , Valentinus Bhalu, Rabu (16/10/2019).

Kebakaran di Maumere, Asap Hitam Mengepung Pemukiman Warga Jalan Nong Meak

Menurut Valentinus, jumlah ABK di NTT sebanyak 8000 lebih orang. Data itu diperoleh dari BPS dan juga dari Dinas Sosial NTT.

"Dari total ABK di NTT itu baru sekitar 3200 yang bisa dijangkau pemerintah,sedangkan sisanya belum diketahui atau belum dijangkau pemerintah," kata Valentinus.

Dijelaskan, jumlah ABK yang terjangkau sebanyak 3200 itu tersebar di semua kabupaten dan kota se-NTT.
Jumlah ABK tersebut sudah diakomodir di 32 Sekolah Luar Biasa (SLB).

Perpustakaan Daerah NTT Menuju Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial

"Sampai saat ini Kabupaten Sabu Raijua dan Kabupaten Malaka yang belum ada SLB. Karena itu 32 SLB itu ada di Kota Kupang dan 19 kabupaten lainnya," jelas Valentinus.

Dia merincikan SLB yang ada itu, masing-masing di Kota Kupang terdapat empat SLB, di Kabupaten Alor terdapat dua SLB , di Kabupaten Manggarai terdapat tiga SLB. Sedangkan, di daerah lain terdapat hanya ada satu SLB setiap kabupaten.

"Melihat jumlah SLB yang ada,maka tentu masih kurang. Namun, dengan Permendikbud Nomor 70 tahun 2009 yang mana mewajibkan semua sekolah reguler agar menerima juga ABK. Ini upaya yang ditempuh pemerintah sehingga ABK dapat diakomodir," katanya.

Namun, lanjutnya, ada masalah bahwa guru umum tidak bisa mengajar ABK. "Masalah lain, bahwa banyak orang tua yang malu dan masyarakat juga belum bisa menerima ABK, karena itu ABK juga belum dapat pendidikan yang semestinya," katanya.

Dia mengakui, pendidikan di SLB mempunyai tujuan antara lain, agar anak itu setelah tamat minimal bisa mengurus diri sendiri dan juga membantu orang tua.

"Kita harapkan ABK ini setelah tamat SMA ,minimal.anak itu bisa mengurus diri dan juga bisa membantu orang tua di rumah. Karena itu, saya minta tenaga pendidik dan tenaga kependidikan setiap orang harus cari lima orang siswa," ujarnya.

Dia mengakui, mengurus SLB lebih sulit dari pada mengurus sekolah normal, meskipun jumlah SLB di NTT hanya 32 sekolah dan SMA/SMK sebanyak 540 sekolah.  "Ini adalah sekolah yang merupakan kewenangan Pemprov NTT.

Tahun depan kita rencana bangun satu SLB di Pulau Semau, kita sudah datakan ABK di Semau sekitar 100 lebih," ujarnya. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Oby Lewanmeru)

Penulis: Oby Lewanmeru
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved