Kisah Pelaku dan Korban Pembantaian Massal Pasca G30S/PKI 1965: Mereka Ditembak dari Belakang

terjadi pembantaian massal terhadap masyarakat tertuduh sebagai anggota atau antek-antek PKI. Diperkirakan 500 ribu orang terbunuh lalu dikuburkan

Kisah Pelaku dan Korban Pembantaian Massal Pasca G30S/PKI 1965: Mereka Ditembak dari Belakang
Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat Presiden
Presiden Joko Widodo, Jumat (29/9/2017) malam, ikut nonton bareng film G30S/PKI di halaman Markas Korem 061 Suryakencana, Bogor. 

Kalau dia bangkit lagi, nyata, banyak, malah bagus: kami bersihkan lagi. Lebih bersih dari tahun 1966. Karena apa? Karena itu bertentangan dengan Pancasila.

Kalau dia besar lalu menang, saya pasti yang dibunuh dan yang dibunuh pasti lebih banyak lagi.

Akan lebih banyak (darah tertumpah) nanti, kalau dia bangkit kembali dan nyata di lapangan. Kami akan menghadapi itu lebih bersemangat lagi. Walaupun saya sudah umur 76 semangat saya seperti tahun 65.”

Martono: "Saya tak mampu gali kubur, jadi saya buang ke bengawan"

Martono mengaku dia menjadi korban sekaligus pelaku.

“Jadi semua organisasi waktu itu saya enggak seneng, (organisasi) politik maupun agama waktu itu. Saya enggak seneng, soalnya saya teknik.

Dan waktu itu keluarga saya betul-betul miskin. Tetapi saya kelihatan menonjol karena teknik saya, (jadi sering dipanggil untuk) pengaturan tata ruang listrik (di kantor-kantor mereka), karena ahlinya itu saya. Kadang-kadang (saya dipanggil) PNI, kadang-kadang NU, kadang-kadang Masyumi, kadang-kadang PKI. Nah kebetulan yang terakhir itu PKI.

Sehingga apa ya… kalau fitnah ya monggo, kalau curiga ya monggo, terserah. Nyatanya saya ditangkap oleh serombongan RPKAD dan orang yang berpakaian ninja.

Martono saat itu mengaku dipaksa membuang sejumlah mayat.
Martono saat itu mengaku dipaksa membuang sejumlah mayat. (BBC News Indonesia)

Ditangkap, targetnya dibunuh kok, saya harus mati kok. Golongan saya golongan yang harus dimatiin gitu lho. Disiksa untuk ngaku, saya tuh PKI atau bukan, saya enggak pernah ikutan organisasi apapun. (Ditanya) kamu bagaimana gerakannya? Lha saya enggak tahu. Disetrum, (tapi saya kuat, sampai sekarang) bisa membuktikan. Bukan karena saya anti-setrum, tetapi karena waktu itu profesi saya ya dari listrik, las, sehingga tahan setrum.

Karena berkali-kali disetrum dan enggak mati-mati, akhirnya saya dilepaskan. Tetapi dengan syarat harus membuang mayat-mayat yang mereka bantai. Mereka itu namanya tim Opsus, terdiri dari AURI, RPKAD, Angkatan Darat, Brimob, CPM dan Partai Politik.

Minimal tiap hari dua orang (yang saya buang mayatnya). Kalau malam Minggu kadang-kadang ya bisa 20 orang, 25 orang.

Karena untuk menggali ‘kan saya enggak mampu, akhirnya saya buang ke bengawan. Ada tempatnya, namanya Mbacem, nah di situ tiap hari.

(Jumlah yang saya buang) hitung sendiri, matematikanya situ kan tahu. Minimum sehari dua, kalau Minggu atau malam Minggu ada 40an. Jadi digabung saja, malam Minggu dan Minggu sekitar 40an kali dua tahun.”

Supomo: "Mereka saling memperebutkan saya untuk dibunuh"

Dia mengaku dia adalah tahanan politik yang tidak bersalah

“Ketika kami pulang dari mengajar, di tengah jalan ada operasi dari tentara dan massa. Kemudian saya diberhentikan, dan massa yang ikut operasi itu ada yang mengenal saya. Kemudian saya ditangkap oleh tentara itu, lalu saya disiksa oleh tentara dan massa yang menangkap saya.

Pertama, kepala saya dipukul dengan senjata laras panjang, kemudian telinga saya dibabat atau ditebas dengan samurai. Masih ada bekasnya ini...

Sehabis itu kepala saya dihantam senjata laras panjang, juga punggung saya dipukul dengan pangkal senjata laras panjang, bersamaan bibir saya ditebas dengan samurai, kemudian saya jatuh telentang, lalu kaki saya dibabat, nih ada bekasnya.

Setelah saya berdiri lagi, leher saya ditebas lagi pakai samurai, setelah itu tangan saya diikat dengan tali bambu yang dipakai untuk mengikat lembu atau sapi, dua tali diikatkan. Setelah itu saya dijerumuskan ke dalam jurang kurang lebih lima meter dalamnya.

Mungkin rencananya saya mau dibunuh.

'Mungkin rencananya saya mau dibunuh.'
'Mungkin rencananya saya mau dibunuh.' (BBC News Indonesia)

Setelah dijemur di lapangan sampai jam 14, saya dibawa ke kantor polisi sektor. Di situ sudah ada sebanyak 40 orang. Kemudian dipilih ada yang dipulangkan ada yang dibawa ke Boyolali, tapi saya semalaman tidur di kantor polisi. Setelah pagi hari saya dikirim ke Polres Boyolali. Lalu saya diberikan kepada sebuah pos siaga tentara, yang waktu itu merupakan tentara yang operasi ke daerah-daerah.

Setelah saya ditahan semalam di markas tentara siaga itu, malam harinya saya diinterogasi oleh tim yang dari CPM, saya ditanyai atau dituduh tentang pembunuhan dan dituduh membawa senjata.

Tetapi karena saya betul-betul tidak melakukan pembunuhan dan tidak mengerti senjata api, saya tetap bilang tidak tahu menahu tentang pembunuhan dan senjata.

Meskipun demikian, pemeriksa itu tidak percaya, sehingga kedua paha dan punggung saya ini terus dipukuli dengan gelangan karet yang panjangnya kurang lebih 60 cm untuk memukul punggung dan paha. Meskipun demikian saya tetap tidak tahu dan tidak mengakui masalah itu. Tetapi saya tetap ditahan.

Jumairi: PKI membunuh teman saya di masjid

Tentara PKI benar menyerang ke dusun saya.
Tentara PKI benar menyerang ke dusun saya. (BBC News Indonesia)

“Saya tinggal di Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi. Pada malam ke-selikur (21) bulan puasa tahun 1948, ada informasi akan ada serangan dari PKI ke dusun-dusun (Partai) Masyumi. Pada jaman itu orang-orang PKI menyuruh kami memilih, Musso dan Amir (Syarifuddin) atau Soekarno-Hatta?

Tentara PKI benar menyerang ke dusun saya. Mereka berseragam merah, bersenjata lengkap. Bendera merah di ujung senapan. Mereka menembak teman saya, Muhammad Sahid, di dalam masjid sehabis salat subuh. Meninggal. Saya sendiri yang menguburkannya.

Lantas ada dua yang dibawa tentara Merah, satu Ramlan, yang satu Musron. Saya ndak tahu mereka diapakan.

Pasukan Siliwangi kemudian datang untuk menggempur tentara Merah. Orang-orang Islam itu, “Alhamdulillah, bisa makan.”

Kopral (AD) Basiran: Dituduh PKI Malam, ditahan 12 tahun

Saya waktu itu berdinas di Brigif IV Rentjong 1, Kodam II Sumatera Utara. Saya hanya tahu dari surat kabar bahwa ada peristiwa pembunuhan tujuh jenderal di Jakarta. Padahal sebelumnya rombongan jenderal Ahmad Yani baru meninjau Lintas Sumatera. Jadi kami sangat sedih, terkejut.

Nah, tahun 1967, saya sering jaga, katanya terhadap PKI malam. Lha, PKI Malam bentuknya bagaimana. Sedangkan PKI yang katanya berontak pun, tak ada kontak senjata, tak ada korban dari angkatan, tak ada korban anggota (TNI, selain tujuh perwira).

Jumairi menginginkan kompensasi atas apa yang dideritanya.
Jumairi menginginkan kompensasi atas apa yang dideritanya. (BBC News Indonesia)

Tahun 1967 itu, saya sempat pulang ke Solo, Jawa, untuk menikah. Lalu sesudahnya isteri saya bawa ke Sumut. Nah tengah malam ada bintara Provos dari PASI I, mengetuk. “Kopral Basiran, dipanggil komandan batalion."

Terus di kantor Provos dulu Pasi I. Saya dimasukan ruangan yang gelap. Saya menolak. Apa salah saya? Tapi dipaksa. “Pokoknya masuk dulu, besok baru tahu," katanya.

Lalu setelah kurang lebih setengah bulan, di dalam ternyata ada lima kawan saya. Saling kaget: kho kok kau masuk sini, begitu.

Beberapa kawan diinterogasi terus, saya tidak.Suatu waktu mereka dikirim ke Jalan Gandhi –terkenal untuk penyiksaan. Nah saya dipanggil, dipukuli. Terus dikatakan, saya dititipkan di situ. Tapi tak jelas persoalan apa, kesalahan saya apa. Waktu itu tak pandang bulu. Kalau sudah ditangkap, ya dianggap PKI.

Saya dipukuli, dibilang PKI.

Supanah, suami dibunuh ‘dia tidak tahu apa-apa’

Supanah menangis setiap kali mengingat masa-masa itu.
Supanah menangis setiap kali mengingat masa-masa itu. (BBC News Indonesia)

“Suami saya seorang petani, dia tidak tahu apa-apa. Tentara menjemput dia malam-malam. Terakhir kali saya melihatnya, dia berlumuran darah. Wajahnya bengkak habis dipukuli.

Ketika saya membeli rumah sederhana setelah suami saya diambil tentara, masyarakat menghancurkannya. Tentara mencoba merampas lahan sawah keluarga, namun saya menghubungi salah satu keluarga yang anggota militer dan mereka tidak berani melakukannya.

Saya selalu terkenang ketika anak-anak saya berangkat ke sekolah dan orang-orang meneriaki mereka, ‘Itu anaknya komunis, mereka tidak boleh sekolah.’ Setiap saat saya mengingat ini, saya menangis (mulai menangis) Saya mengirim mereka untuk tinggal bersama sanak saudara dan syukur kepada Tuhan mereka menjadi orang-orang sukses.

Eric Sasono: Paman saya bangga membunuh orang

Indonesia perlu membicarakan apa yang terjadi waktu itu.
Indonesia perlu membicarakan apa yang terjadi waktu itu. (BBC News Indonesia)

Kritikus film dan ilmuwan politik Eric Sasono (juga bekerja paruh waktu untuk BBC Indonesia) telah berdamai dengan kenyataan bahwa paman kesayangannya adalah salah satu pembunuh dalam peristiwa yang terus menghantui sejarah Indonesia.

Sang paman terbiasa berkisah dengan bangga pada Eric saat ia masih bocah, tentang bagaimana ia membunuh banyak orang yang dicurigai sebagai pengikut komunisme, dengan menggunakan kapak. Dia bahkan menunjukkan pada Eric kapak yang menelan banyak nyawa itu.

Menurut Eric, ia diajarkan di seluruh sekolah yang pernah dimasukinya, bahwa pembunuh seperti pamannya itu menyelamatkan bangsa dari perang saudara. Hingga baru-baru ini saja, ia mendapat cerita yang berbeda.

"Ketika saya menonton film dokumenter The Act of Killing – yang memperlihatkan bagaimana para pembunuh dengan bangganya mempertontonkan apa yang mereka lakukan - saya teringat paman saya. Saya merasa mual dan saya harus menyetop pemutaran film itu setelah beberapa menit."

Sejak itu, dia menyaksikan film yang disutradarai oleh Joshua Oppenheimer itu sebanyak lima kali.

Eric mengatakan dia tidak ingin menghakimi pamannya karena ia percaya ia produk dari zaman itu tetapi percaya bahwa Indonesia perlu membicarakan apa yang terjadi waktu itu.

"Kita harus mengakhiri budaya impunitas yang masih berlangsung; kita harus mengakhiri hal ini karena orang, dengan jahatan mereka, bisa lolos tak tersentuh. Berdamai dengan masa lalu kita adalah kunci untuk memecahkan masalah-masalah zaman ini, seperti korupsi. "

Namun melihat betapa dalamnya perpecahan di kalangan masyarakat, harapan akan keadilan atau terjadinya rekonsiliasi sangatlah tipis.

Betapa pun, pemerintah telah membuka Kotak Pandora ini dengan Simposium Tragedin 1965 beberapa waktu lalu, dan diskusi terbuka tentang periode gelap sejarah Indonesia pun berlangsung. Ini sesuatu yang sebelumnya tak terbayangkan bisa terjadi.

Ke mana hal ini akan mengarah, betapa pun, masih belum jelas.

Sumber: BBC News Indonesia

Penulis: Agustinus Sape
Editor: Agustinus Sape
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved