Ayah Kaget, Di Kamar Anaknya yang Pendiam Ditemukan Bom Aktif, Begini Faktanya
Ayah Kaget, Di Kamar Anaknya yang Pendiam Ditemukan Bom Aktif, Begini Faktanya
Penulis: OMDSMY Novemy Leo | Editor: OMDSMY Novemy Leo
Warga diminta menjauh, kira-kira 100 meter dari lokasi rumah.
Polisi sempat kesulitan menghalau bocah-bocah yang ingin menyaksikan proses evakuasi bom.
Dengan baju tebal khusus, seorang anggota Densus 88 kemudian memasuki rumah tersebut.
Beberapa menit kemudian ia keluar dari rumah membawa sebuah tas hitam berukuran cukup besar. Di dalamnya terdapat bom. Bom tersebut dinaikkan ke atas pikap lalu dipindahkan ke sebuah lahan kosong yang berada tak jauh dari lokasi.
Beberapa saat kemudian anggota Densus 88 yang tadi mengambil bom tampak menanam dan memasang detonator pada bom tersebut.
Ia beberapa kali bolak balik untuk berkoordinasi dengan rekannya yang berada tak jauh dari lokasi penanaman bom.
Beberapa menit berselang seluruh anggota Densus 88 tampak menjauh dari lokasi. Mereka bersiap untuk meledakkan bom. Salah seorang anggota kepolisian lalu menghitung mundur, tanda bom akan segera di ledakkan.
"5...4...3...2..1....," kata polisi itu.
Duarrr....terdengar suara ledakkan yang menggetarkan. Tanah yang ada di sekitar bom melambung hingga 10 meter.
Ledakkan bom itu disambut tepuk tangan warga yang menyaksikan dari kejauhan. Bocah-bocah yang dari tadi sulit diatur kemudian mendekati anggota Densus 88 untuk berfoto bersama.
* Alasan Bom di Ledakkan
Kapolres Jakarta Utara Kombes Budhi Herdi Susianto menyebutkan, bom itu terpaksa langsung dihancurkan karena bom berjenis Threeaseton Threeperoksida (TATP) seberat 500 gram tersebut punya daya ledak begitu besar dan sangat sensitif.
"Jadi ini jenis bom TATP dan biasanya TATP itu kecil saja sudah high eksplosif," kata Budhi.
Budhi menjelaskan, jika bom meledak di area terbuka, ledakkannya bisa mencapai radius 50 meter. Namun jika ada di area benda-benda padat, radius dampak ledakkan akan jauh lebih besar karena akan ada partikel-partikel berbahaya yang melayang.
Dari sejumlah barang yang disita Densus 88, Budhi menduga bahwa MA merakit sendiri bom-bom tersebut. Barang-barangnya pembuat bom didapatkan secara online dan langsung dikirim ke rumah.

Barang itu ia pesan satu persatu sehingga tidak muncul kecurigaan saat barang tersebut sampai di rumah MA.
Budhi menjelaskan, MA diduga merupakan jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang terafiliasi dengan ISIS.
Ada " Iron-man" di balik penangkapan MA
Selain terkejut dengan penangkapan MA, warga juga terkejut dengan kehadiran seorang anggota Densus 88 dalam penggerebekkan itu.
Pasalnya, anggota Densus itu merupakan pria yang belakangan ini sering mereka lihat di lingkungan mereka. Pria itu dipanggil Iron oleh warga Semper Barat tersebut.
Seorang warga yang menyebut dirinya sebagai Mama Fajar mengatakan, Iron sudah dua bulan sewa indekos di seberang kediaman MA.
"Dia itu teman dekat sama anak saya, sering main mobile legend bareng nih di sini," kata Mama Fajar di sebuah warung depan indekos tersebut.
Ia menyampaikan, Iron dikenal baik warga sekitar. Pribadinya yang ramah dan sering menyapa warga membuat namanya tidak asing di kampung itu.
Bahkan Iron juga sering mengikuti aktivitas warga di Taman Laba-Laba.
"Dia sering keluar kos kok, kadang pagi suka ketemu kalau beli nasi uduk. Suka nongkrong, main voli sama warga sini juga. Eh taunya dia anggota ( Densus 88)," ujar Mama Fajar.
Ningsih (40) warga lainnya mengatakan, Iron mengaku sebagai karyawan baru di sebuah kafe.
Iron mengatakan sudah tiga bulan dia bekerja di kafe hingga akhirnya pada Agustus lalu memutuskan untuk sewa indekos di daerah tersebut.
Karena sifatnya yang ramah dan mudah bergaul, warga sama sekali tidak menaruh curiga pada Iron.
Ningsih juga mengaku sempat berinteraksi dengan Iron sebelum penggerebekan berlangsung.
Pertemuan itu terjadi saat dirinya hendak ke pasar Senin pagi. Menurut Ningsih, Iron bilang dia akan pergi ke tukang jahit.
Ternyata Iron justru kembali menggunakan seragam polisi, lengkap dengan sepucuk senjata laras panjang di tangannya. Namun, wajahnya ditutupi masker hitam.
"Warga pada bilang, ngapain tuh si Iron di situ," ucap Ningsih.
Meski begitu, tidak ada warga yang berani menyapa Iron yang sudah berseragam.
Mereka takut mendekat karena cemas bom yang ditemukan di rumah terduga teroris MA (20) di kawasan tersebut meledak. (*)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Penggerebekan Terduga Teroris di Cilincing dan Cerita Iron-Man"
* Kisah Cinta Segitiga Terduga Teroris Arsad, Sutiah dan Asep Roni
Tiga dari sembilan orang terduga teroris yang ditangkap di beberapa tempat terpisah, Senin (23/9/2019) ternyata memiliki hubungan yang dekat.
Mereka adalah Mohamad Arsad (20), Sutiah (19) dan Asep Roni (23).
Mohamad Arsad alias Mury (20), yang ditangkap di Cilincing, Jakarta Utara, Senin (23/9/2019), sempat menikahi Sutiah (19).
Arsad dan Sutiah menikah empat bulan lalu.
Cinta mereka bersemi saat mereka mengikuti pengajian di Pekayon, Bekasi Selatan, Jawa Barat.
Mereka menikah secara resmi di Kantor Urusan Agama (KUA).
cara pernikahan Arsad dan Sutiah berlangsung di Tegal, Jawa Tengah, kampung halaman Sutiah.
Pernikahan itu dihadiri Abdul Ghani (69), ayah Arsad.
Namun pernikahan Arsad dan Sutiah tidak berlangsung lama.
Andri Cahyono, kakak ipar Arsad, menuturkan Arsad sempat membawa Sutiah ke tempat tinggal di Jalan Belibis V, Semper Barat, Cilincing, Jakarta Utara.
Selama tinggal di sana Sutiah tidak menunjukkan gelagat yang mencurigakan.
Andri menuturkan Sutiah berpenampilan menggunakan cadar.
"Sempat tinggal dua minggu di sini, tapi mereka sudah bercerai secara agama," tutur Cahyono kepada Tribun Network, Senin (23/9/2019).
Usai bercerai dari Arsad, Sutiah menikah dengan Asep Roni.
Sutiah dan Asep tinggal bersama di Bekasi.
Mereka diciduk Tim Densus 88 Antiteror di Perumahan Alamanda Regency, Karang Satria, Tambun Utara, Bekasi, Senin (23/9/2019).
"Tapi katanya Arsad juga sudah menikah lagi," ujar Cahyono.
Di Cilincing, Arsad tinggal di rumah dua lantai.
Rumah berpagar hijau itu juga jadi tempat berjualan minuman ringan. Tembok rumahnya berwarna krem.
Kamar Arsad berada di lantai kedua di samping kanan tangga.
Kamar Arsad bercat hijau muda.
Di dalamnya terdapat satu kasur, sejumlah peralatan elektronik dan kabel.
Di dalam kamar itu terdapat sebuah buku berjudul Kitab Tauhid.
Arsad tinggal selantai dengan Abdul Ghani, ayahnya.
Di rumah tersebut berjejer trofi bertuliskan nama Mohamad Arsad.
Satu di antaranya adalah trofi kompetisi sepak takraw di sekolah.
Pendidikan terakhir Arsad adalah sekolah teknik menengah.
Dia lulus dari bangku STM dua tahun lalu.
"Satu bulan lalu Arsad diterima sebagai karyawan di pabrik sabun," ujar kakak Arsad yang enggan disebutkan namanya.
Semasa sekolah, Arsad tergolong murid yang pintar menurut penuturan Cahyono.
Selain tergolong sebagai siswa berprestasi, Arsad juga lihai dalam olahraga.
"Olahraganya bagus. Sekolahnya termasuk bagus juga," tutur Cahyono.
Di lingkungan rumahnya, Arsad dikenal sebagai orang yang tidak banyak berbicara.
Ia sering berkumpul dengan teman sebayanya untuk bermain futsal.
• Erwin Dihabisi Mantan Pacar dan Kekasih Barunya, Bukan Cinta Segitiga Tapi Hanya Karena Hal Ini
Saat berkumpul Arsad sering berbicara soal agama.
Teman-temannya kerap menghindari perbincangan tersebut.
Mereka menilai perbincangan Arsad terdengar cukup keras.
"Kadang mengumpul, tapi jarang karena orangnya cenderung pendiam. Kalau mengobrol cenderung mengobrol soal agama yang keras," kata R (inisial, red), seorang warga di Jalan Belibis V.
Kakak Arsad menuturkan adiknya sejak lama mengidap penyakit tulang belakang.
Penyakit tersebut dialami Arsad sejak duduk di bangku STM.
Arsad sering menjalani perawatan jalan di Rumah Sakit Koja, Jakarta Utara.
"Lebih banyak absen dibanding masuk. Orangnya sakit-sakitnya," ujarnya.
Surat Terakhir Arsad
Aparat kepolisian mengamankan sejumlah barang bukti dari kamar Arsad.
Di antaranya alat-alat yang diduga digunakan untuk merakit bom dan bom siap ledak jenis high explosive (daya ledak tinggi).
Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Pol Budhi Hendi Susianto mengatakan kepolisian juga menemukan sepucuk surat.
Surat tersebut berisi pernyataan Arsad akan meledakkan sebuah bom di kantor polisi dalam waktu dekat.
Jadi saat olah TKP tadi, berdasarkan tulisan tangan di surat yang kita temukan, dia akan meledakkan bom di kantor kepolisian dan akan meledakkan dalam waktu yang tidak terlalu lama," ujarnya.
Abdul Ghani mengaku terkejut terhadap surat Arsad.
Ia juga tak menyangka putranya menyimpan sebuah peledak aktif berjenis treeasseton threeperoksida (TATP) seberat 500 gram di rumahnya.
Dia mengaku tak pernah melihat gelagat mencurigakan dari Arsad.
"Justru saya baru lihat. Selama ini tinggal serumah saya tidak pernah korek-korek kamarnya," ucap Abdul Ghani. (Tribun Network/des)
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Kisah Cinta Segitiga Terduga Teroris Arsad, Sutiah dan Asep Roni,