Masalah Tenaga Kerja
TERKINI! Begini Kondisi Warga NTT Setelah Diusir Pengusaha Sawit
Mereka tidak dipekerjakan kembali tidak apa-apa, yang penting hak-hak mereka terpenuhi
POS-KUPANG.COM | SANGATTA - Bupati Kutai Timur, Ir H Ismunandar MT memfasilitasi pertemuan pekerja asal NTT dengan manajemen PT Wahana Tritunggal Cemerlang (WTC) di Desa Benua Baru, Kecamatan Sangkulirang, Rabu malam (18/9/2019).
Pertemuan dihadiri anggota DPRD Kutai Timur, M Ali. Dalam kesempatan itu, Area Manager PT WTC, Eko menjelaskan duduk permasalahan antara perusahaan perkebunan kelapa sawit dengan para pekerja. WTC juga memegang kawasan perkebunan Duta Samba dan MPI.
• Pengusaha Sawit di Kutai Timur Usir 900 Warga NTT, Kini Tempati Aula Kantor Camat
Menurut Eko, pengosongan kamp (barak tinggal) oleh perusahaan dipicu aksi mogok pekerja yang terjadi sejak Juli. Dalam dua bulan, pihak perusahaan menggelar pertemuan dengan karyawan, namun deadlock.
Pertemuan pun berlanjut ke Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kutai Timur, namun tetap tak ada titik temu.
"Kami dari perusahaan, bila ada tuntutan yang belum bisa diterima, dipersilakan melalui jalur hukum. Hasil pertemuan disetujui Disnaker Kutim. Karena saat itu, mogok sudah terjadi hampir dua pekan, permasalahan yang terjadi ditempuh melalui jalur hukum," ungkap Eko.
• PSK Karang Dempel Tenau Dapat Pesangon, Pemkot Kupang Rahasiakan Jumlah Uang
Namun, para pekerja tetap tak bergeming. Mereka tetap melakukan mogok kerja. Tindakan persuasif kembali dilakukan perusahaan untuk meminta pekerja kembali bekerja. Tapi, dua bulan berlalu, kondisi tetap sama. Sekitar 30 persen karyawan di PT WTC tetap mogok. Ada 343 pekerja di PHK.
"Imbas dari aksi ini, produksi kami tak mencapai target. Belakangan diketahui, mereka yang tetap mogok kerja, ternyata bekerja di kebun tetangga dan ada juga yang ikut buka lahan," ujar Eko.
Langkah selanjutnya, pihak perusahaan menyampaikan kepada para pekerja yang mogok bahwa akan ada pekerja baru yang datang untuk menggantikan mereka sehingga barak yang ada dikosongkan.
• Ini Sederet Artis yang Balikan Setelah Menikahi Orang Lain,Ada Nia Zulkarnaen Hingga Meisya Siregar
"Setelah dua bulan kami melakukan tindakan persuasif dan mereka tetap tidak mau bekerja. Kami menganggap mereka memang tidak mau bekerja lagi di perusahaan kami," kata Eko.
Pada Kamis (19/9/2019), pengurus Ikatan Keluarga Besar (IKB) NTT Kutai Timur menemui Bupati Ismunandar MT. Hadir Ketua IKB NTT Kutai timur, Wilhelmus dan Kuasa Hukum warga NTT, Silvester Nong Manis, SH.
Ketua IKB NTT Kecamatan Karangan, Bastin menjelaskan, apa yang dikeluhkan para pekerja pekerja merupakan hak. Seperti jaminan kesehatan, jaminan ketenagakerjaan, transparansi pemotongan upah dan penyesuaian upah sebagaimana standar UMR Kabupaten Kutai Timur.
• Putrinya Banyak Dihujat, Ustadz Yusuf Mansur Pamer Kemesraan dengan Wirda, Pemeran Film The Santri
"Mereka keluar dari kamp setelah dilakukan pengusiran dengan melibatkan preman. Karena menghindari intimidasi dan hal-hal yang tidak diinginkan pada keluarga mereka. Karena perusahaan melibatkan preman dan penggunaan senjata tajam untuk mengancam para pekerja yang mogok, saat melakukan pengusiran," ungkap Bastin.
Silvester menambahkan, para pekerja datang ke Kaltim dan sampai di Kutai Timur tidak ada yang ingin merusak. Mereka ingin bekerja untuk mencari uang. Tapi, belakangan apa yang diperoleh tak sesuai. Sehingga dilakukan mogok kerja.
"Mogok kerja itupun, dilakukan setelah menuntut hak-hak dasar pada perusahaan. Namun tidak mendapat respon dari perusahaan," ujar Silvester.
• Imam Nahrawi Ditetapkan Jadi Tersangka oleh KPK, Ternyata Segini Total Penghasilan Eks Menpora Itu
Ia berharap Bupati Ismunandar bersama Disnaker Kutim dapat menyelesaikan permasalahan antara perusahaan dan para pekerja. Karena dalam setiap pertemuan selalu deadlock dan tak ada penyelesaian.